Negeri Para Kumpeni, sebuah catatan perjalanan (satu)

rokkenTanggal 16 Oktober 2007 pagi, empat hari setelah Idul Fitri, perjalanan panjang Jakarta-Kuala Lumpur-Schiphol dimulai. Keberangkatan pagi-pagi dari Sumedang ke Jakarta tidak disambut dengan hiruk pikuk dan kemacetan Jakarta yang terpaksa menyertai selama dua bulan terakhir. Hanya kantor-kantor yang tidak peduli idul fitri saja, yang tetap menjalankan aktivitas seperti biasanya, salah satunya Kedutaan Belanda, dimana visa schegen diurus dan diambil siang itu untuk keberangkatan sore harinya.

Bandara Soekarno-Hatta sepertinya tidak malu membawa nama besar pemimpin kelas dunia ini, Hal ini sangat terasa ketika pertama kali menginjakkan kaki di Bandara KL, dua jam setelah lepas landas dari Jakarta. Bandara KL sudah mirip dengan bandara kelas dunia yang dapat ditemukan di negara maju. Indikatornya gampang, air yang langsung dapat diteguk, jadi PAM betul-betul singkatan dari Perusahaan Air Minum dan bukan Perusahaan Air Mandi. Jadi pendeknya, keinferioran sebagai bangsa tertinggal, miskin dan tidak maju langsung terasa, hanya dalam 2 jam dari Jakarta. Sebenarnya enggan kami naik Malaysia Airlines mengingat sebagian keuntungannya dipakai untuk membayar empat polisi yang memukul Ketua Juri Karate Indonesia Donald Pieter Luther Kolopita beberapa saat lalu. Tapi bagaimana lagi, selain relatif lebih murah, tidak ada maskapai Indonesia yang diijinkan terbang di seluruh dataran Eropa, bahkan beberapa negara membuat travel warning agar warganya tidak naik pesawat ketika berada di Indonesia. Waduh, memalukan memang, tapi itulah realitasnya. Dalam dunia yang semakin terasa kecil dan teknologi yang semakin maju, ada banyak hal yang membuat kita harus berkaca.

Continue reading “Negeri Para Kumpeni, sebuah catatan perjalanan (satu)”

Rejeki Gusti di Kereta Ekonomi

06kereta.gifBagi pekerja “kontrakan”, masa paling mendebarkan yang berlangsung setiap tahun adalah hari-hari mendekati akhir kontrak. Bagaimana tidak, seringkali keputusan untuk memperpanjang kontrak kerja dilakukan pada saat terakhir yang mendebarkan itu. Setiap tahun pula, sholat lebih dikhusyukkan, doa lebih serius diminta, semata-mata agar rejeki Allah tidak berhenti untuk satu tahun ke depan. Saking mendebarkannya, seringkali doa yang dipanjatkan berbunyi begini bunyinya

 

Ya Allah, yang Maha Kaya dan menguasai segala sesuatu. Janganlah engkau jadikan kami tidak amanah terhadap pekerjaan kami, dan janganlah engkau jadikan majikan kami tertutup pintu hatinya untuk menjadi saluran rizkiMu. Berilah kami kekuatan dan kesabaran untuk bekerja sungguh-sungguh dan amanah dan bukalah pintu hati majikan kami untuk menjadi jalan atas rizkiMu kepada kami. “

 

Kondisi ekonomi dan politik buruh membuat harapan pekerja dan keinginan majikan tidak menemukan titik ideal. Keinginan pekerja untuk amanah terhadap pekerjaannya tidak jarang dibalas dengan PHK dari majikan karena hal itu satu-satunya pilihan yang dapat diambil demi kelangsungan usaha. Alasan majikan sederhana, “hal ini dilakukan demi menjaga rizki pekerja-pekerja lainnya.” Bisa jadi, terdepaknya kita dari sebuah pekerjaan membuat putus asa atas rejeki Allah yang masuk lewat jalan yang tidak terduga, berhembus laksana angin, mengalir melalui air, menetap seperti tanah dan bergelora bagaikan api. Kita luput dari pelajaran Allah tentang rizki yang dapat kita saksikan setiap hari, dalam kereta antar kota kelas ekonomi. Maklum, sebagai pengguna jasa ini, tidak ada hal lain yang bisa dilakukan kecuali mengamati bagaimana kehidupan di kereta berjalan. Continue reading “Rejeki Gusti di Kereta Ekonomi”

Pekerja Dunia, KPK, Kancil dan Timun Mas

kancil.jpgMinggu ini, akhir oktober 2007, minggu terakhir di Jakarta, dua orang teman mengajak bertemu. Teman pertama adalah teman sekelas di Interdisciplinary Islamic Studies-Social Work dan yang kedua kakak kelas ketika di Jurusan Ilmu Pemerintahan. Posting kali ini akan membahas tentang kesan bertemu kedua orang tersebut.

Teman pertama saat ini bekerja di salah satu lembaga international di Jakarta yang berpusat di Jenewa. Tidak mengherankan memang, teman ini bisa bekerja di lembaga Internasional. Sejak masih kuliah dulu, yang bersangkutan memang rajin menulis buku.

Saya banyak belajar dari teman ini. Walaupun kemampuan bahasa inggrisnya tidak terlalu istimewa, dan tidak pernah kuliah jurusan sastra Inggris, temen kita satu ini berhasil menulis buku yang membedah jeroan TOEFL dan IELTS. Buku-buku TOEFL nya menjadi best seller di hampir seluruh toko buku. Beberapa minggu sebelum bertemu, ketika jalan-jalan di sebuah toko buku di Mall Ambasador, buku TOEFL nya telah mengalami metamosposis sempurna, lebih lengkap dan hebatnya lagi, tetap best seller. Buktinya, bukunya dipajang di jajaran buku laris Gramedia. Teman kita satu ini mengajarkan bahwa menulis buku ternyata butuh kemampuan melihat pasar, merangkum ide dan menciptakan buku menjadi menarik. Pendeknya, idealisme saja tidak cukup. Selain itu, tesisnya yang berkisah tentang Rekonsiliasi PKI dan NU di tahun-tahun setelah 1965 sudah diminta untuk diterbitkan, hanya saja yang bersangkutan masih harus belajar untuk membagi waktu mengedit bukunya.

Continue reading “Pekerja Dunia, KPK, Kancil dan Timun Mas”

Bahasa Inggris, Politik Dunia

Minggu ini, hampir seluruh penerima beasiswa ADS (Australian Development Scholarships) akan mengikuti ujian IELTS (International English Language Testing System), baik itu untuk kelas persiapan 6 bulan, 3 bulan, dan 8 minggu, hanya kelas 9 bulan yang akan ujian 3 bulan lagi. IELTS terbagi menjadi empat materi utama, yaitu Listening (40 Soal), Reading (40 soal), Writing (2 Tasks) dan Speaking (3 tahap). Biasanya seluruh materi itu diujikan dalam satu hari, sekitar 3 jam. Tapi untuk ujian kali ini, terbagi menjadi dua hari, mungkin karena kebanyakan peserta yang ikut.

 

Walaupun sudah dua kali mengalami EAP (English for Academic Purposes), pertama di IALF Bali selama 6 bulan atas beasiswa CIDA (Canadian International Development Agency) dan kali ini 8 minggu atas beasiswa AusAid yang menyatu dalam skema ADS, bahasa Inggris buat tetap merupakan bahasa yang asing. Lebih karena materi tes yang diberikan tidak mampu secara jujur melihat kemampuan bahasa Inggris calon mahasiswa. Oleh karena itu, saya beruntung mendapat teacher Wendy Sahanaya, expert di bidang ini dan khusus diterbangkan dari Curtin, Perth Australia untuk mengajar kelas kami selama 8 minggu, dan setelah itu, kembali lagi ke Perth. Beliau lebih mempersiapkan kami untuk study di Australia dengan memberikan materi tentang bagaimana cara menulis yang baik dibandingkan dengan IELTS dan ini akan terasa lebih bermanfaat.

 

Bahasa Inggris menjadi bahasa International yang dipakai secara akademik belum genap 200 tahun. Pada abad ke 17, bahasa inggris tidak memberikan gengsi kepada para peneliti dan ilmuwan. Seluruh penemuan penting pada abad tersebut sampai pada awal abad 20 ditulis dan didiskusikan dalam bahasa latin. Selain memberikan kerahasiaan terhadap hasil temuan, bahasa latin juga digunakan untuk menyeleksi tingkat social waktu itu.

 

Pendeknya bahasa menentukan siapa bergaul dengan siapa, bahasa adalah social control. Bahasa inggris menjadi bahasa universalis lebih karena bahasa itu mampu mencampuradukkan seluruh bahasa yang ada di dunia dalam proses adaptifnya. Sampai saat ini, mirip dengan bahasa Indonesia, bahasa inggris tidak pernah dapat ditemukan penutur aslinya (native speaker katanya). Tidak ada yang berani menunjuk hidung sendiri bahwa seperti inilah bahasa inggris “yang sesungguhnya” atau asli. Bahasa inggris memberikan ruang bagi seluruh bahasa untuk masuk menjadi bagiannya, seperti kata durian dan rambutan. Sehingga bahasa Inggris selain adaptive juga selalu berubah, sesuai dengan dinamika social yang berubah di dunia. Pendeknya, bahasa inggris seperti kapitalisme, membuka pintu (kalau perlu mengajak) seluruh orang untuk masuk walaupun dalam ritme bahasa inggris. Bahasa Inggris mencengkeram hampir seluruh umat di dunia ini ketika dipakai lebih dari 1,8 milyar (Bahasa China 1,1 milyar). Mau tidak mau suka tidak suka, harus belajar bahasa Inggris untuk dapat bersaing. Walaupun sekali lagi, jauh lebih mudah daripada menghapalkan skrip tulisan China.

 

Di dunia ini, banyak standar untuk menentukan kemampuan bahasa Inggris seseorang, duopoly terbesar adalah TOEFL dan IELTS. TOEFL terutama dipakai di Amerika dan IELTS dipakai di Inggris, Australia dan beberapa negara Eropa. Negara-negara yang memakai IELTS sebagai standar masih mau menerima TOEFL, walaupun Amerika menolak IELTS. Dari bacaan pendek ini saja, sudah jelas tergambar bagaimana perang budaya dan politik antara Amerika dengan Anglo Saxon terasa jelas di system bahasa Inggris. Duopoly tes tersebut juga menggambarkan bagaimana politik dunia bermain. Soal TOEFL, seperti juga Amerika, hanya menawarkan multiple choices kepada candidat yang ikut tes. Tidak ada essay dalam TOEFL, semuanya serba terbatas. Amerika juga tidak pernah memberikan pilihan bagi negara untuk mengembangkan ideologinya. Semuanya harus demokrasi katanya, variasinya terbatas hanya pada demokrasi liberal, demokrasi deliberatif, demokrasi radikal, demokrasi representative dan demokrasi partisipatif. Pendeknya tetap memakai kata demokrasi.

Pada sisi lainnya, IELTS lebih memberikan ruang bagi kandidat. Ada banyak variasi soal, mulai multiple choices, filling the gap, filling the form, heading macthing, dan lainnya. Inggris dan Australia juga sepertinya memberi banyak pilihan bagi Indonesia, tapi tetap saja, semakin banyak pilihan semakin besar kemungkinan salahnya. Jadi walaupun maksudnya benar tapi spellingnya salah tetap saja salah. Maksud kita benar dengan jajak pendapat di Timor Timur, tapi karena sosialisasi kita salah dan kurang, Australia yang untung, walau tentu saja dengan dalih yang dibuat masuk akal.

 

Terakhir, Universitas Amerika menolak IELTS dan universitas di Australia dan Eropa masih menerima TOEFL. Mengapa??? Jelas karena Amerika tidak mau tunduk pada negara manapun. Sedang Inggris dan Australia, tentu saja tidak punya pilihan atas tawaran Amerika. Berapapun banyak yang menentang, toh kedua negara ini mengirim tentaranya ke Irak. Pendeknya, English testing system bukan hanya sekedar testing tapi lebih sebagai cermin politik dunia…

 

Anehnya hanya ada satu bahasa yang tidak pernah berubah dari hampir 14 abad yang lalu, yaitu bahasa Arab. Selain sebagai bahasa yang paling sulit dipelajari, bahasa Arab tidak pernah berubah, baik secara struktur, pengucapan, penulisan dll. Artinya buku tulisan dalam bahasa Arab yang ditulis Al Ghozali lebih dari 10 abad lampau akan dipahami secara sama oleh orang yang membacanya baik saat ini maupun ketika buku itu pertama kali ditulis. Bedanya lebih kepada setting sosial saja. Hal ini menjawab pertanyaan saya ketika temen-temen saya di Montreal dulu meminjam Fabel bahasa Arab yang ditulis tahun 1300-an di perpustakaan Islamic Studies McGill University, yang konon salah satu perpustakaan kajian Islam terbaik yang terletak di Barat. Agak susah saat ini membayangkan membaca boekoe edjaan lama jang sampeolnja soedah kekoening-koeningan, dengan paham betoel isinja. Konon katanya, tidak adanya perubahan di bahasa Arab ini menjadi bukti Al Qur’an tetap terjaga.

 

Walau demikian, guru saya di Bali dulu, Steve Bolton pernah menulis di papan tulis yang diambil dari penulis terkenal, “the limits of my world are the limited of my language”. Dan sepertinya, tidak ada pilihan selain berjuang untuk belajar bahasa Inggris lebih baik.

 

Nyamuk-nyamuk: Jakarta, Jogja, Montreal

nyamuk.jpgMungkin hanya para peneliti dan ahli kesehatan yang tahu darimana nyamuk berasal. Pelajaran di sekolah memang selalu memberikan masukan bahwa nyamuk berkembang biak di air, melalui metamorfosis sempurna dari jentik selama beberapa hari bertahan dalam air. Kualitas dan kebersihan air menjadi ciri bagi spesies nyamuk tertentu untuk berkembang biak. Nyamuk betina (dan mungkin juga jantan, karena kita tidak pernah tahu cirinya ketika digigit) menghisap darah sebagai amunisi untuk bertelur. Itu teorinya.


Tapi berdasarkan pengalaman komparasi lapangan di Jakarta, Jogja dan Montreal, dan sedikit dari Melbourne, sepertinya teori ini tidak sepenuhnya benar. Selain, tentu saja, perbedaan iklim dan cuaca, nyamuk ternyata beradaptasi dengan kondisi lingkungan dan sosial dimana dia hidup. Atau berkolerasi dan belajar dari manusia yang merupakan makhluk paling sempurna. Continue reading “Nyamuk-nyamuk: Jakarta, Jogja, Montreal”

PERUT

Jaman kuliah dulu, ketika saya kos di sekitar Klebengan Yogya tahun 1999, setahun setelah krisis, ada warung murah-meriah yang menjadi langganan anak kos. Warung makan itu namanya SADEWA, terletak di pinggir jalan, tempat orang jalan kaki menuju kampus UGM. Pemilik warung sangat terampil meracik menu makanan yang dapat disajikan dengan harga yang semurah-murahnya. Waktu itu, satu porsi nasi dan sayur (yang disajikan oleh pemilik warung) harganya 750 rupiah, es jeruk 200 rupiah dan tempe segitiga 150 rupiah. Pendeknya dengan modal 1500 rupiah bisa memilih menu yang ada, begitu kiriman dari Magelang datang. Jika puasa begini, antri untuk makan sahurnya bisa 30 menit sendiri, itupun kalau tidak kesiangan.

 

Ketika mencoba datang lagi tahun 2006, variasi makanannya tidak banyak berubah dengan harga yang tidak terpaut jauh. Tahun 2006 saya habis 1800 dengan pilihan menu yang 7 tahun sebelumnya hanya bisa dinikmati seminggu sekali, walaupun dengan suasana yang jauh lebih sepi. Tetapi belakangan, ketika lewat lagi, warungnya sudah tutup. Dugaan sementara, tingginya SPP kuliah membuat banyak mahasiswa miskin seperti saya, tidak mampu lagi kuliah, yang bisa dilihat dari jarangnya sepeda ditemukan di kampus Fisipol. Mahasiswa sekarang ogah makan di tempat murah (yang walaupun tidak murahan).

 

Continue reading “PERUT”

PASPOR ku PASPOR mu PASPOR kita semua

Saya sedang memperpanjang paspor yang habis September tahun ini di Kantor Imigrasi Jakarta Selatan. Sebuah berita bagus mengingat saat ini seluruh penduduk Indonesia dapat membuat paspor di kantor Imigrasi manapun dengan melengkapi syarat-syaratnya. Syaratnya pun gampang: asli dan FC dari KK, KTP dan ijasah atau akte atau surat nikah. Berhubung saya sedang “ngluruk“, jadi seluruh persyaratan yang seharusnya bisa salah satu tersebut terlengkapi plus sebuah surat dari lembaga dengan gambar teratai coklat di ujung kiri atas.

Pada hari pertama, rabu 5 September, saya mengurus sendiri ke sana pake busway, sebuah terobosan cerdas Pemkot DKI, sekitar jam 2 siang. Proses pemberkasan hanya 15 menit termasuk antri dan setelah itu saya disuruh kembali lagi 10 September untuk membayar, foto (katanya biometrik) dan sidik jari yang saya lakukan siang ini (sekitar 40an menit seluruhnya) dan saya disuruh kembali lagi 3 hari lagi. Jadi totalnya saya butuh 3 kali bolak-balik dengan setiap proses yang tidak terlalu lama pada setiap kedatangan, walaupun harus tanya petugas kesana kemari karena tidak tercantum prosedur proses dan meja informasi. Continue reading “PASPOR ku PASPOR mu PASPOR kita semua”

Industri Pertama Australia

trepang-largeSetelah melewati jam-jam yang melelahkan dan menguras energi (walaupun menyenangkan) di kelas Wendy Sahanaya, beliau akhirnya mengijinkan muridnya untuk menonton presentasi sejarawan Australia. Pak sejarawan ini adalah Prof. David Reeve, ketua Departement of Chinese and Indonesia di University of New South Wales. Kebetulan, beliaunya ini juga sangat fasih berbahasa Indonesia dan Jawa, karena telah lebih dari sepuluh tahun mengajar di UI, UGM dan UMM.

Presentasinya tentang Industri pertama yang ada di Australia. Tidak seperti dugaan banyak orang bahwa goldseeker datang ke Australia untuk membangun industi emas, sekitar 200 tahun sebelum Captain Cook mendarat di Australia, nelayan Indonesia dari Bugis dan Makasar telah lebih dulu Continue reading “Industri Pertama Australia”

Pertama di Jakarta, Pertama di IALF

Jakarta selalu menakutkan banyak orang, terutama bagi banyak pendatang seperti saya yang ketiban sampur harus kursus bahasa dan persiapan kultur di IALF. Pesan Bang Napi yang beberapa kali terlihat di RCTI di kala break makan siang mau tak mau membuat semua orang waspada terhadap situasi Jakarta. Walaupun saya sudah terlampau sering pergi ke Jakarta untuk berbagai urusan, biasanya hanya beberapa hari, dan itupun tidak jauh juh dari hotel, taxi dan ruang rapat. Inilah pertama kalinya Jakarta memaksa saya untuk tinggal agak lama sampai kos segala.

 

Banyak orang bilang jika ingin menjadi orang penting di negeri ini, cepat-cepatlah datang ke Jakarta. Jakarta menjadi tempat bagi penyelesaian urusan yang sebenarnya ”sepele” untuk daerah, tapi demi menjaga citra pejabat daerah, harus tetap datang ke Jakarta. Continue reading “Pertama di Jakarta, Pertama di IALF”

Dari Barat Selalu Hebat

PERTAMA

Menjamurnya Spa membuat saya berpikir keras. Walaupun belum pernah spa, dari beberapa brosur Club Arena yang dicetak di Cakrawala, sebuah perusahaan milik mas Agus Heri, saya melihat sekilas tentang perempuan yang tengkurap di bak mandi dilengkapi dengan banyak bunga yang mengambang. Sekejap sempat terpikir bahwa ini adalah mandi kembang, sebuah mandi gaya khas beberapa budaya di Jawa. maklum orang jawa gak gaul yang tidak kenal spa. Setelah diteliti lebih detail, Club Arena yang merupakan EO spa di hotel-hotel memastikan itu bukan mandi kembang, tapi SPA!

KEDUA

Pada saat saya berjalan lewat di koridor Galeria Mall, ada bau-bauan yang menusuk hidungku yang memang agak sensi. Sepintas (sekali lagi) saya kira ada kemenyan yang dibakar di sekitar situ, tapi akal sehat berbicara, masa sih bakar kemenyan di Mall. Tenyata, di jalan tersebut (island istilah mallnya), sedang dijajakan apa yang disebut sebagai AROMATHERAPHY yang terdiri dari beragam bentuk, mulai dari sesuatu yang mirip penerangan minyak di desa, lilin dan banyak lagi. Saya sekali lagi memastikan itu bukan bau kemenyan tetapi Aromatheraphy!

KETIGA

Liputan Kompas minggu beberapa bulan lalu memberitakan tentang Yoga, (kalau ini saya agak ngerti), sebuah bisnis yang menghasilkan milyaran rupiah per harinya di Indonesia. Sebuah bisnis yang menjanjikan ketenangan bagi yang melalukannya. Wujud gerakan yoga bermacam-macam, salah satunya adalah sebuah meditasi, perenungan terhadap makna hidup. Melihat foto di kompas, saya yakin professional muda yang sedang duduk bersila dengan mata terpejam itu sedang meditasi. Tapi apa bedanya dengan bertapa ala orang jawa? mengapa orang mau mengeluarkan sekian banyak uang untuk diam??

Continue reading “Dari Barat Selalu Hebat”

Chicken Cabinet

ayam.jpgBeberapa minggu yang lalu, ringtone hp benq-siemens saya yang suka error ini digantikan dengan dering orkestra lagu Indonesia Raya. Maksud hati sih untuk lebih menyadarkan diri saya sendiri bahwa masih banyak PR yang harus serius dikerjakan bangsa ini jika benar-benar ingin maju. Lagu Indonesia Raya sekaligus juga menepuk pipiku bahwa ….ehh ternyata paspor saya bergambar Garuda Pancasila. Disamping tentu saja, menyemangati timnas yang membuat penonton bergidik melihat laga demi laga dan membuat terharu setiap kali membaca beritanya di Kompas, pagi berikutnya. Betapa Ellie Aiboy, Budi Sudarsono, Syamsul Bahri dengan semangat yang entah datang dari mana, terus menerjang pertahanan lawan-lawan kelas dunia di Piala Asia, termasuk lebih dari 80.000 supporter Indonesia di Gelora Bung Karno yang terus menerus berteriak

 

….Indonesia..plok-plok..plok-plok..plok…Indonesia..plok-plok..plok-plok..plok

 

termasuk ketika dalam laga terakhir yang akhirnya dimenangkan Korsel terpampang besar spanduk.

 

BAGIMU NEGERI, JIWA RAGA KAMI

 

. Pendeknya mengganti ringtone dalam upaya berbagi solidaritas. Continue reading “Chicken Cabinet”

Keris: Senjata bukan Tuhan

 

Keris Pamor Wos Wutah.jpg Lillahimafissamawati wal ardh

Catatan Pembuka

Keris adalah senjata tradisional yang berasal dari Jawa. Sebagai salah satu senjata, keris diciptakan dengan teliti dan rapi serta melalui perhitungan yang sangat matang. Menurut Bambang Harsinuksmo dalam Ensiklopedi Keris, Keris pertama ditemukan di Jawa pada sekitar abad ke 7 Masehi. Pada saat itu, bentuk keris masih sangat sederhana. Pecinta keris menyebutnya sebagai BETHOK sebagaimana terpampang dalam salah satu relief di Candi Borobudur.

Terdapat paling tidak dua bentuk standar keris yaitu keris lurus (lajer) atau keris berliku (luk). Selain itu, Keris juga dilengkapi dengan banyak sekali rincian yang hampir pada setiap perbedaannya memiliki nama tersendiri.

Setiap bilahan keris terdiri dari tiga bagian utama yaitu Bilah, Ganja (bagian bawah keris) dan Pesi (pegangan keris). Tiap bagian memiliki ciri tertentu dengan nama-nama tertentu pula. Keris-keris ini  juga masih dilengkapi dengan sarung (warangka) sebagai upaya membuat keris lebih terawat yang biasanya terbuat dari kayu (ada juga yang terbuat dari gading, tulang, viber dll) dengan teknik hiasan yang beragam. Biasanya, keris yang indah juga memiliki sarung yang Indah. Dalam pameran keris di Benteng Vrederberg bebebapa waktu lalu, saya pernah melihat sarung keris yang luar biasa indah dan priceless. Keris dari Lombok ini memilki gagang dan sarung yang terbuat dari Gading. Di gading tersebut diukir sebuah kisah di kerajaan tempat keris berasal. Dikisahkan dalam ukiran gading bahwa sang Putri yang kecewa karena keputusan sang raja ayahnya akhirnya menceburkan diri ke laut. Dalam kasus seperti ini, keris dan sarungnya merupakan barang yang tidak terpisahkan.

Perlengkapan dasar keris selain Warangka adalah Pendok (kecuali pada warangka sandang walikat), Selut (hiasan yang menyatukan Ganja dengan pegangan keris), dan Ukiran (pegangan keris). Pendeknya, menghapalkan seluruh bagian keris secara kasat mata dapat menjadi pelajaran setara S-1 karena rumit, banyak jenisnya dan banyak cabangnya. Sehingga seorang ahli keris yang hapal perbedaan satu dapur keris dengan dapur lainnya adalah mereka yang sudah lama menekuni dan mencintai keris.

Hampir semua orang hebat di negeri ini memiliki keris. Mulai dari para wali-wali songo (wali sembilan yang paling berpengaruh terhadap penyebaran agama Islam di Jawa), Raja-raja di seluruh nusantara sejak jaman abad 7, Pangeran Diponegoro, Soekarno, Sudirman, Soeharto dan lain-lainnya. Walaupun bisa jadi fungsinya berbeda, tetapi pada dasarnya keris adalah senjata. Untungnya semua orang ini masih mencoba melestarikan budaya keris. Pernah suatu ketika, sebagaimana dimuat di majalah Keris edisi awal, pada saat Megawati menjabat sebagai Presiden RI, dilakukan penghitungan ulang terhadap seluruh pusaka berbagai bentuk milik alm Soekarno, ayahnya, yang teletak di beberapa istana presiden. Jumlahnya totalnya ada 178 buah. Tidak percaya dengan angka keramat tersebut. dilakukan penghitungan 3 kali lagi dan ternyata hasilnya tetap berjumlah 178, sebuah penerjemaan angka dari 17- 8 (agustus).

Tulisan ini akan mencoba berefleksi dengan keris sebagai senjata dan warisan budaya di satu sisi dengan anggapan mitos dan ketakutan syirik di sisi yang lain. Bambang H menyebut keris memiliki dua sisi sekaligus yaitu eksoteri dan isoteri. Eksoteri membahas tentang teknik dan bentuk kasat mata dari sebilah keris sedangkan isoteri membahas tentang “sesuatu” yang tidak kasat mata dari keris. Argumen  akan disajikan berkaitan dengan pandangan umum yang melihat keris identik semata-mata dengan klenik dan syirik, tanpa melihat dan mengetahui sedikit lebih dalam tentang keris. Bahasan tentang eksoteri  keris akan disajikan lebih dahulu, diikuti oleh kupasan tantang isoteri sebagai elemen-elemen dalam keris. Walaupun ditulis oleh orang awam, penulis berharap tulisan ini bermakna bagi pembaca di tengah rimba raya dunia perkerisan, oleh karena itu, pembaca diharapkan mengikuti link-link yang tersebar di seluruh tulisan untuk mengetahui lebih dalam tentang keris. Satu lagi, klasifikasi yang terurai di bawah ini bukan mutlak karena begitu variatifnya ilmu tentang tosan aji satu ini.

Continue reading “Keris: Senjata bukan Tuhan”

Kucing Garong, Polisi Garong

Kucing Garong

Kelakuan si kucing garong
Ora kena ndeleng sing mlesnong
Main sikat main embat
Apa sing liwat

Itulah lirik lagu Kucing Garong yang dinyayikan penyanyi entertain di nikahan adikku di Mojokerto, 15 Juni 2007. Secara umum, pernikahan berjalan dengan sangat lancar. Pihak mempelai perempuan memersiapkannya dengan sangat baik dan EO nya juga tepat waktu. Dari sisi acara, belum pernah aku nikmati acara seterencana itu (kecuali nikahku sendiri tentunya)

Masalahnya, 16 Juni 2007 di perjalanan pulang kembali ke Magelang, di Sekitar Nganjuk, Si Luni (mobil istriku yang menemani kami 7 tahun terakhir) disemprit polisi. Continue reading “Kucing Garong, Polisi Garong”

Nasi Goreng Pak Pele

Salah satu menu klasik Indonesia yang bisa ditemui di hampir seluruh muka bumi adalah nasi goreng. Tak ada yang istimewa dari nasi hampir basi yang digoreng dengan bumbu standar yang tergeletak di dapur. Hanya saja, nasi goreng menjadi menu yang terkenal. Ketika ada acara lunch di Mc Tavish Hall McGill University awal Agustus 2005, nasi goreng disejajarkan dengan beberapa menu Asia lainnya seperti mie goreng dan fu yung hai. Tentu saja untuk acara makan siang di tengah summer, nasi goreng tentu bukan menu yang tepat. Apa boleh buat, dengan gaya masakan Cina yang tidak sepenuhnya enak dan halal, kami makan juga nasi goreng tersebut, berikut rasa syukur. Fenomena nasi goreng menjadi luar biasa karena Moira sampai susah payah cari nasi goreng di China Town, siang-siang lagi. Fenomena diatas tentu lebih sering ditemukan di Australia, dengan banyaknya lidah Indonesia yang selalu merindukan nasi goreng.

 

Nasi goreng sebenarnya adalah menu keterpakasaan. Continue reading “Nasi Goreng Pak Pele”

SIM

images.jpgimages.jpgimages.jpgSalah satu hal menarik yang ada di bumi Indonesia adalah fenomena SIM, Surat Ijin Mengemudi. Idealnya, setiap orang yang memperoleh SIM telah melewati serangkaian tes yang menunjukkan kapasitas yang bersangkutan sebagai pemegang SIM. Kemudian, proses perpanjangan SIM juga harus mengikuti logika yang sama. Seseorang yang telah memiliki SIM selama lima tahun dan akan memperpanjang SIM nya dianggap lebih mampu mengendarai kendaraan bermotor daripada ketika mengajukan SIM untuk pertama kalinya. Pengalaman lapangan membuat setiap orang menjadi semakin mahir menguasai kendaraan, bukan sebaliknya. Artinya, masuk akal ketentuan yang tidak mensyaratkan ujian ulang bagi pemohon perpanjangan SIM.

Sayangnya, kasus yang saya alami dan juga saya yakin dialami oleh sekian puluh juta rakyat Indonesia tidak menunjukkan fenomena tersebut. Saya akan menceritakan pengalaman menarik mengurus perpanjangan SIM A dan SIM C di Kabupaten Sumedang Jawa Barat sekitar akhir Mei 2007. Berikutnya sedikit analisis dari hasil pengamatan lapangan dan obrolan dengan beberapa orang. Berikut juga TIPS bagi anda yang ingin mengurus SIM.

Continue reading “SIM”