Nyamuk-nyamuk: Jakarta, Jogja, Montreal

nyamuk.jpgMungkin hanya para peneliti dan ahli kesehatan yang tahu darimana nyamuk berasal. Pelajaran di sekolah memang selalu memberikan masukan bahwa nyamuk berkembang biak di air, melalui metamorfosis sempurna dari jentik selama beberapa hari bertahan dalam air. Kualitas dan kebersihan air menjadi ciri bagi spesies nyamuk tertentu untuk berkembang biak. Nyamuk betina (dan mungkin juga jantan, karena kita tidak pernah tahu cirinya ketika digigit) menghisap darah sebagai amunisi untuk bertelur. Itu teorinya.


Tapi berdasarkan pengalaman komparasi lapangan di Jakarta, Jogja dan Montreal, dan sedikit dari Melbourne, sepertinya teori ini tidak sepenuhnya benar. Selain, tentu saja, perbedaan iklim dan cuaca, nyamuk ternyata beradaptasi dengan kondisi lingkungan dan sosial dimana dia hidup. Atau berkolerasi dan belajar dari manusia yang merupakan makhluk paling sempurna. Continue reading “Nyamuk-nyamuk: Jakarta, Jogja, Montreal”

PERUT

Jaman kuliah dulu, ketika saya kos di sekitar Klebengan Yogya tahun 1999, setahun setelah krisis, ada warung murah-meriah yang menjadi langganan anak kos. Warung makan itu namanya SADEWA, terletak di pinggir jalan, tempat orang jalan kaki menuju kampus UGM. Pemilik warung sangat terampil meracik menu makanan yang dapat disajikan dengan harga yang semurah-murahnya. Waktu itu, satu porsi nasi dan sayur (yang disajikan oleh pemilik warung) harganya 750 rupiah, es jeruk 200 rupiah dan tempe segitiga 150 rupiah. Pendeknya dengan modal 1500 rupiah bisa memilih menu yang ada, begitu kiriman dari Magelang datang. Jika puasa begini, antri untuk makan sahurnya bisa 30 menit sendiri, itupun kalau tidak kesiangan.

 

Ketika mencoba datang lagi tahun 2006, variasi makanannya tidak banyak berubah dengan harga yang tidak terpaut jauh. Tahun 2006 saya habis 1800 dengan pilihan menu yang 7 tahun sebelumnya hanya bisa dinikmati seminggu sekali, walaupun dengan suasana yang jauh lebih sepi. Tetapi belakangan, ketika lewat lagi, warungnya sudah tutup. Dugaan sementara, tingginya SPP kuliah membuat banyak mahasiswa miskin seperti saya, tidak mampu lagi kuliah, yang bisa dilihat dari jarangnya sepeda ditemukan di kampus Fisipol. Mahasiswa sekarang ogah makan di tempat murah (yang walaupun tidak murahan).

 

Continue reading “PERUT”

PASPOR ku PASPOR mu PASPOR kita semua

Saya sedang memperpanjang paspor yang habis September tahun ini di Kantor Imigrasi Jakarta Selatan. Sebuah berita bagus mengingat saat ini seluruh penduduk Indonesia dapat membuat paspor di kantor Imigrasi manapun dengan melengkapi syarat-syaratnya. Syaratnya pun gampang: asli dan FC dari KK, KTP dan ijasah atau akte atau surat nikah. Berhubung saya sedang “ngluruk“, jadi seluruh persyaratan yang seharusnya bisa salah satu tersebut terlengkapi plus sebuah surat dari lembaga dengan gambar teratai coklat di ujung kiri atas.

Pada hari pertama, rabu 5 September, saya mengurus sendiri ke sana pake busway, sebuah terobosan cerdas Pemkot DKI, sekitar jam 2 siang. Proses pemberkasan hanya 15 menit termasuk antri dan setelah itu saya disuruh kembali lagi 10 September untuk membayar, foto (katanya biometrik) dan sidik jari yang saya lakukan siang ini (sekitar 40an menit seluruhnya) dan saya disuruh kembali lagi 3 hari lagi. Jadi totalnya saya butuh 3 kali bolak-balik dengan setiap proses yang tidak terlalu lama pada setiap kedatangan, walaupun harus tanya petugas kesana kemari karena tidak tercantum prosedur proses dan meja informasi. Continue reading “PASPOR ku PASPOR mu PASPOR kita semua”