Nyamuk-nyamuk: Jakarta, Jogja, Montreal

nyamuk.jpgMungkin hanya para peneliti dan ahli kesehatan yang tahu darimana nyamuk berasal. Pelajaran di sekolah memang selalu memberikan masukan bahwa nyamuk berkembang biak di air, melalui metamorfosis sempurna dari jentik selama beberapa hari bertahan dalam air. Kualitas dan kebersihan air menjadi ciri bagi spesies nyamuk tertentu untuk berkembang biak. Nyamuk betina (dan mungkin juga jantan, karena kita tidak pernah tahu cirinya ketika digigit) menghisap darah sebagai amunisi untuk bertelur. Itu teorinya.


Tapi berdasarkan pengalaman komparasi lapangan di Jakarta, Jogja dan Montreal, dan sedikit dari Melbourne, sepertinya teori ini tidak sepenuhnya benar. Selain, tentu saja, perbedaan iklim dan cuaca, nyamuk ternyata beradaptasi dengan kondisi lingkungan dan sosial dimana dia hidup. Atau berkolerasi dan belajar dari manusia yang merupakan makhluk paling sempurna.
Di Jakarta, nyamuknya banyak luar biasa, seperti jumlah manusia yang menghuni bumi Jakarta yang konon katanya daya tampung idealnya hanya 4 juta jiwa, dilihat dari daya dukung tanah, air, udara dan interaksi sosial. Jika jumlah penduduk Jakarta saat ini lebih dari 8 juta di malam hari, kita bisa memastikan bahwa jumlah nyamuk Jakarta bisa puluhan lipat dari itu. Mungkin, nyamuk di Jakarta pun berebut tempat tinggal seperti manusia Jakarta. Walaupun kata teman, nyamuk di Jakarta itu cuma satu, yang banyak itu teman-temannya.
Selain itu, nyamuk di Jakarta juga menyerang dengan pola yang tidak beraturan, persis seperti pengendara motor dan mobil di jalanan. Saling sikut dan ngebut, demi kepentingannya sendiri-sendiri. Nyamuk menyerang dengan pola yang bersama-sama sehingga menjadi santapan empuk Polisi, eh kok jadi Polisi, maksud saya, manusia yang menjadi korbannya. Nyamuk di Jakarta, ketika mendapat makanan, tidak peduli lagi dengan keamanan jiwanya. Indikasinya jelas, banyaknya bercak darah di sprei, tidak lain dan tidak bukan adalah sumbangan nyawa dari para nyamuk itu yang tewas tertimpa gerakan reflex tubuh kita ketika tidur dan terhisap. Atau, kebanyakan menghisap darah sehingga hanya meloncat-loncat saja di lantai, tak mampu terbang. Siapa tahu, nyamuk ini terinspirasi oleh perilaku manusia yang menjadi, sekali lagi, panutannya.
Di Yogyakarta, nyamuk-nyamuk tidak begitu banyak, menyerang satu-satu, dengan pola yang lebih terorganisir. Konon katanya, ini nyamuk kuliahan, baik di dalam terutama di luar negeri. Nyamuk Jogja juga makan sedikit-sedikit dan cepat mengamankan diri. Itu sebabnya nyamuk kelas kuliahan jarang yang ketangkap KPK karena buru-buru mengamankan diri dan sedikit-sedikit menghilangkan barang bukti. Eh, kok jadi KPK sih, maksud saya manusia yang dimangsa. Jadi selama 5 tahun kos di Jogja, belum pernah saya temukan bercak darah nyamuk di sprei yang jarang dicuci itu.
Di Montreal dan di Melbourne, saya tidak pernah menemukan nyamuk (maaf kalau tidak sesuai dengan judulnya yang inginnya komparasi) di residential. Jadi, sesuai hukum rantai makanan, cicak juga tidak ada. Semut juga tidak menghuni perumahan-perumahan, apalagi kecoa. Pernah ketika tinggal di McGill Residence, saya akan diberi CAD$1 per semut, jika berhasil menemukan semut di dalam kamar/asrama. Jelas saja, sisa kopi, teh dan roti sisa sarapan tergeletak di meja, untuk memancing semut berburu. Tapi ternyata hasilnya mengecewakan. Jadi peribahasa, ada gula ada semut, tampaknya memang hanya tipikal Indonesia.
Konon katanya, nyamuk di negara maju telah dilokalisir ke tempat tertentu, sama seperti lokalisir hunian manusia untuk perumahan, perdagangan, industri dll. Jadi tidak saling serobot dan semuanya sesuai dengan tatanan.
Menjadi mengherankan memang, setiap tahun, terjadi endemi demam berdarah. Setiap tahun, rumah sakit kesulitan menampung pasien penyakit ganas yang menyerang sangat cepat itu. Setiap tahun pula, ratusan nyawa, kebanyakan anak-anak, meninggal karena nyamuk dengan kecenderungan ironis yang terus meningkat. Ya Allah, berilah kami kemampuan untuk
mengambil pelajaran dari nyamuk yang engkau ciptakan, sebagaimana kami harus belajar tentang sesama kami, yang engkau ciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, untuk saling kenal mengenal.

Print Friendly, PDF & Email
Be Sociable, Share!

Comments

comments

Baca Juga:  Daylight Saving

2 Replies to “Nyamuk-nyamuk: Jakarta, Jogja, Montreal”

  1. 😀 ora kaya menungsa yak?golek mangan sakpenake dw, bahkan ngrusuhi hak-e wong liya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.