Rejeki Gusti di Kereta Ekonomi

06kereta.gifBagi pekerja “kontrakan”, masa paling mendebarkan yang berlangsung setiap tahun adalah hari-hari mendekati akhir kontrak. Bagaimana tidak, seringkali keputusan untuk memperpanjang kontrak kerja dilakukan pada saat terakhir yang mendebarkan itu. Setiap tahun pula, sholat lebih dikhusyukkan, doa lebih serius diminta, semata-mata agar rejeki Allah tidak berhenti untuk satu tahun ke depan. Saking mendebarkannya, seringkali doa yang dipanjatkan berbunyi begini bunyinya

 

Ya Allah, yang Maha Kaya dan menguasai segala sesuatu. Janganlah engkau jadikan kami tidak amanah terhadap pekerjaan kami, dan janganlah engkau jadikan majikan kami tertutup pintu hatinya untuk menjadi saluran rizkiMu. Berilah kami kekuatan dan kesabaran untuk bekerja sungguh-sungguh dan amanah dan bukalah pintu hati majikan kami untuk menjadi jalan atas rizkiMu kepada kami. “

 

Kondisi ekonomi dan politik buruh membuat harapan pekerja dan keinginan majikan tidak menemukan titik ideal. Keinginan pekerja untuk amanah terhadap pekerjaannya tidak jarang dibalas dengan PHK dari majikan karena hal itu satu-satunya pilihan yang dapat diambil demi kelangsungan usaha. Alasan majikan sederhana, “hal ini dilakukan demi menjaga rizki pekerja-pekerja lainnya.” Bisa jadi, terdepaknya kita dari sebuah pekerjaan membuat putus asa atas rejeki Allah yang masuk lewat jalan yang tidak terduga, berhembus laksana angin, mengalir melalui air, menetap seperti tanah dan bergelora bagaikan api. Kita luput dari pelajaran Allah tentang rizki yang dapat kita saksikan setiap hari, dalam kereta antar kota kelas ekonomi. Maklum, sebagai pengguna jasa ini, tidak ada hal lain yang bisa dilakukan kecuali mengamati bagaimana kehidupan di kereta berjalan. Continue reading “Rejeki Gusti di Kereta Ekonomi”