Rejeki Gusti di Kereta Ekonomi

06kereta.gifBagi pekerja “kontrakan”, masa paling mendebarkan yang berlangsung setiap tahun adalah hari-hari mendekati akhir kontrak. Bagaimana tidak, seringkali keputusan untuk memperpanjang kontrak kerja dilakukan pada saat terakhir yang mendebarkan itu. Setiap tahun pula, sholat lebih dikhusyukkan, doa lebih serius diminta, semata-mata agar rejeki Allah tidak berhenti untuk satu tahun ke depan. Saking mendebarkannya, seringkali doa yang dipanjatkan berbunyi begini bunyinya

 

Ya Allah, yang Maha Kaya dan menguasai segala sesuatu. Janganlah engkau jadikan kami tidak amanah terhadap pekerjaan kami, dan janganlah engkau jadikan majikan kami tertutup pintu hatinya untuk menjadi saluran rizkiMu. Berilah kami kekuatan dan kesabaran untuk bekerja sungguh-sungguh dan amanah dan bukalah pintu hati majikan kami untuk menjadi jalan atas rizkiMu kepada kami. “

 

Kondisi ekonomi dan politik buruh membuat harapan pekerja dan keinginan majikan tidak menemukan titik ideal. Keinginan pekerja untuk amanah terhadap pekerjaannya tidak jarang dibalas dengan PHK dari majikan karena hal itu satu-satunya pilihan yang dapat diambil demi kelangsungan usaha. Alasan majikan sederhana, “hal ini dilakukan demi menjaga rizki pekerja-pekerja lainnya.” Bisa jadi, terdepaknya kita dari sebuah pekerjaan membuat putus asa atas rejeki Allah yang masuk lewat jalan yang tidak terduga, berhembus laksana angin, mengalir melalui air, menetap seperti tanah dan bergelora bagaikan api. Kita luput dari pelajaran Allah tentang rizki yang dapat kita saksikan setiap hari, dalam kereta antar kota kelas ekonomi. Maklum, sebagai pengguna jasa ini, tidak ada hal lain yang bisa dilakukan kecuali mengamati bagaimana kehidupan di kereta berjalan.

 

Kereta antar kota kelas ekonomi biasanya terdiri lebih dari 8 gerbong. Panjang gerbongnya disesuaikan dengan “kondisi” yang ada. “Kondisi’ di sini bukan berarti tingkat demand kereta api, tetapi lebih pada kondisi gerbong antara yang layak (walaupun tetap berbahaya) dan membahayakan. Untuk kereta kelas kambing ini, rem gerbong yang hadir tiap tiga gerbong masihlah dibilang layak. Artinya jika terdiri dari 12 gerbong, paling-paling hanya ada 4 gerbong yang dilengkapi rem yang sudah divulkanisasi.

 

Baca Juga:  Ceteris Paribus

Berbeda dengan kereta kelas bisnis dan terutama eksekutif dimana arus masuk penumpang ke kereta diatur sepenuhnya oleh petugas KAI (baca: state), penumpang kereta kelas ekonomi, terutama para penghuni BORDES (sambungan gerbong) harus menciptakan semacam self organized community untuk membatasi penumpang masuk. Caranya dengan menutup pintu kereta dari dalam, sehingga para calon penumpang, entah bertiket atau tidak, terhalang masuk ke gerbong. Hal ini semata-mata dilakukan agar hawa panas di kereta dapat dikurangi dengan mengurangi jumlah populasi per gerbong. Selain itu, fenomena bossism dari economic society juga sangat kentara melalui akuisisi kamar mandi kereta untuk menumpuk kerupuk, baju, sandal dls. Hal ini di satu sisi menghabiskan kenyamanan penumpang yang memang hanya tersisa sedikit sekali, tetapi di sisi lainnya meningkatkan kesejahteraan pemilik WC umum di stasiun kecil dimana kereta ekonomi berhenti, memberi jalan bagi kereta lain untuk melaju. Pada tingkat yang lebih lanjut, memberi tambahan masukan bagi pengelola station (baca: state) dari bribery yang diberikan pengelola WC jika menggunakan progressif bribery dan bukan fixed one.

 

Satu-satunya kelebihan kereta ekonomi adalah penumpang tidak mungkin terlewat dari stasiun yang dituju. Setidaknya terdapat tiga alasan untuk itu, pertama, kereta ekonomi tidak pernah memberikan rasa nyaman untuk menutup mata karena begitu panasnya kereta. Kedua, kereta selalu berhenti hampir di setiap stasiun dengan waktu yang lama, memberikan kesempatan penumpang untuk melihat ke jendela yang seringkali telah pecah kacanya. Ketiga, lokasi perjalanan kereta dapat dilihat dari jenis makanan yang ditawarkan pada seluruh perjalanan kereta. Seandainya berangkat dari Jakarta atau Bandung menuju Yogyakarta, pedagang-pedagang di Jawa barat menawarkan “Ikan ayam, ikan ayam, ikan ayam” menandakan kereta masih merangkak di bumi pajajaran. Jika pedagang sudah bersuara “lantiiing, lantiiiing, lantiiing,” bersiap-siaplah karena kereta telah sampai di Kebumen atau Kutoarjo.

 

Baca Juga:  Menciptakan Persaingan Monopolistik

Para pedangang di kereta kelas ekonomi itu, memberikan bukti bahwa rejeki Allah datang dari jalan yang tidak pernah kita sadari. Tidak ada yang bisa memastikan bahwa setelah sekian lama bolak-balik di depan kita, eh toh akhirnya penumpang sebelah membeli Lanting atau Ikan Ayam. Artinya, belum tentu pedagang yang menawarkan lebih dulu akan lebih laku dari yang kemudian. Jadi walaupun barang yang ditawarkan tidak berbeda sama sekali karena berasal dari satu sumber, rejeki pengasong tetap sendiri-sendiri. Pendeknya sebagai pembeli, saya tidak tahu jawaban atas pertanyaan” kenapa membeli dari pedagang A dan bukan B?” Sesama pedangang juga tidak iri satu dengan yang lainnya. Jika kita sedang membeli dari pedangang C, pedagang D yang menawarkan dagangan yang sama tidak akan menawarkan kepada kita. Di situlah mekanisme rizki bekerja, memberi pelajaran bagi orang-orang yang mau belajar untuk mengerti. Semoga kita menjadi hamba yang tidak pernah berputus asa dengan rahmat Allah, karena sungguh, balasan bagi orang yang ingkar akan sangat pedih.Terakhir, semoga doa nabi berikut ini dapat menjadi pelajaran, yang kira-kira bunyinya begini

 

Ya Allah, baguskanlah agamaku karena disitulah kunci segalanya

 

Ya Allah, baguskanlah duniaku karena disinilah tempat aku hidup

 

Ya Allah, baguskanlah akhiratku karena disanalah tempat aku kembali

Print Friendly, PDF & Email
Be Sociable, Share!

Comments

comments

One Reply to “Rejeki Gusti di Kereta Ekonomi”

  1. hmmmm….hehehehe…..kalo ga pernah naik kereta ekonomi ga bakal bisa membayangkan serunya,dan yg muncul justru keengganan karena bayangan yg tidak2…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *