Made in Indonesia

Seberapa pentingkah penduduk Indonesia membeli produk dalam negeri? Bagaimanakah implikasi pilihan konsumen Indonesia terhadap pilihan konsumsinya?

Banyak yang tidak menyadari dan menganggap produk luar negeri selalu lebih bagus daripada produk bikinan bangsa sendiri. Hal ini tidak sepenuhnya benar, malah lebih sering menjerumuskan. Sejak puluhan tahun silam, program Aku Cinta Indonesia (ACI) yang salah satunya mempromosikan produk Indonesia telah dikampanyekan, tapi sepertinya hasilnya belum menggema. Padahal kita telah punya SNI (Standar National Indonesia) guna memastikan produk ini telah melewati serangkaian uji coba dan terbukti layak dikonsumsi. Kecintaan produk Indonesia masih kurang, padahal di luar negeri, produk kita diakui.

Ketika berwindow shopping melihat barang bekas dijual kembali di Village des Valeurs di Montreal, saya bertemu dengan Canadian yang tidak begitu fasih berbahasa Inggris, dan hanya lancar berbahasa Perancis. Dia bertanya waktu itu,

“Where are you come from?”

“Indonesia” I said.

Diluar dugaan, dia lalu mendemonstrasikan dengan bahasa tarzan dan jari menunjuk ke kakinya kemudian mengacungkan jempol sambil berkata “good and strong.” Dari pertemuan singkat itu saya tahu, dia menyukai sepatu buatan Indonesia karena bagus dan kuat. Bayangkan, sepatu bekasnyapun masih diakui kehebatannya, apalagi kalau baru?

Australian adalah salah satu negara yang sangat bangga dengan produk lokalnya. Di hampir semua kemasan tertulis “Australia Made”, “Australian owned” atau keduanya. Makanya sangat mudah menemukan produk luar yang diadaptasi dengan Australia misalnya Red Roster, yang merupakan saingan KFC, dengan label promosi Australian Made and Owned. Bahkan Burger King pun bermetamorfosis menjadi Hungry Jack. Di industry otomotif, Holden yang sebenarnya hanya mengassembly “daleman” mobil-mobil lain, juga menjadi kebanggaan. Australian sangat bangga dengan produk lokalnya karena tanpa dibeli orang Australia sendiri, pabrik-pabrik akan tutup, buruh banyak yang menganggur dan menambah kesengsaraan semua pihak. Dengan impor yang selalu lebih tinggi dari ekspor sehingga menjadi a net importer country, dukungan pasar dalam negeri sangat-sangat diperlukan. Ini hanya cerita negara dengan penduduk 20 juta. Bagaimana dengan Indonesia? Negara yang mengalami pertumbuhan ekonomi sangat tinggi dalam dua puluh tahun terakhir ?

Baca Juga:  Dewa19 Terbaik

Menjadi keprihatinan yang dalam ketika produk luar negeri dan buatan luar negeri dianggap menaikkan gengsi, meningkatkan status dan pasti lebih baik. Parade kemewahan ini dipromosikan oleh kelas menengah Indonesia yang sempat mencicipi hawa negeri lain. Seluruh barang diborong sehingga harus membayar biaya ekstra bagasi seperti akan kembali ke negeri yang tidak memproduksi apapun. Lihat jemaah haji Indonesia yang selalu ditunggu pedagang di Arab karena kegemarannya berbelanja. Dari cerita para jemaah (ijinkan aku ke tanahMu ya Allah), rombongan haji Indonesia sudah terkenal gemar berbelanja. Fenomena ini selain menunjukkan tingkat ekonomi yang lebih tinggi (sebagai efek pertumbuhan ekonomi),  juga karena konsumsi ditentukan tingkat pendapatan (disposable income), sebenarnya lebih menunjukkan tidak percaya dirinya kita dengan produk lokal.

Ini paradigma kuno yang harus segera diberantas. Selain lebih murah karena biaya transportasi lebih hemat, membeli produk Indonesia juga meningkatkan ekonomi bangsa kita. Saat ini, dunia tengah dilanda resesi. Produk China yang tidak terserap di pasar Amerika dan Eropa mencari tempat berlabuh. Bagi China, hal ini penting untuk membuat pabriknya tetap berjalan dan berproduksi. Dicarilah pasar lain yang bisa menampung produk China ini. Saat ini, dengan regulasi yang belum memproteksi industri Indonesia, produk China (yang sebenarnya diproduksi juga di Indonesia dengan kualitas yang sama) bisa menyungsup ke dalam rumah tangga Indonesia. Dengan 230 juta penduduk, konsumsi bangsa ini tidak bisa dianggap sepele. Akibatnya, produk Indonesia tidak terserap pasar domestik dan banyak pabrik menurunkan tingkat produksi yang berarti merumahkan atau memPHK karyawan. Efek lanjutan dari hal ini bisa diraba, pengangguran bertambah, pertumbuhan ekonomi menurun dan semakin banyaknya masalah social.

Baca Juga:  Daylight Saving

Jadi sebenarnya, kita bisa memberantas premanisme dengan cara paling mudah, membeli produk Indonesia.

Print Friendly, PDF & Email
Be Sociable, Share!

Comments

comments

2 Replies to “Made in Indonesia”

  1. Selagi mentalnya masih inlander, akan seterusnya orang sulit menjadi bangga pada bangsanya sendiri. Mental demikian pula yang dimanfaatkan bangsa lain untuk memperbudak bangsa kita. Ia masuk ke dalam pikiran, menghasilkan perilaku, dan akhirnya beginilah bangsaku: hanya dinilai sebagai pangsa pasar.

    Aktivitas ekonomi bangsa Indonesia hanya meningkat dalam hal konsumsi, bukan produksi, apalagi produksi dengan modal sendiri, bukan penanaman modal asing.

  2. Terus gimana dong supaya bangsa ini bisa percaya diri, bangga akan bangsanya? Bagaimana melepas ‘mental inlander’ tempaan kolonial Belanda dulu? Sedih deh…..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.