Menciptakan Persaingan Monopolistik

Buku teks ekonomi menggambarkan monopoly sebagai sebuah kondisi pasar yang dikuasai oleh satu seller. Seller ini bisa menentukan harga yang berlaku di pasar sementara buyers tidak punya banyak pilihan untuk dapat memenuhi kebutuhannya. Monopoly berkaitan erat dengan hukum demand and supply, ketika demand tetap dan supply sedikit, harga cenderung naik, atau paling tidak supplier dapat menentukan harga. Deskripsi monopoly jenis ini mudah sekali terlihat. Indonesia pernah memiliki pengalaman panjang dengan monopoly, misalnya ketika crony capitalism berlangsung semasa Soeharto dengan Tata Niaga Jeruk, Tata Niaga Gula, Tata Niaga Cengkeh, yang menjadikan keluarga Suharto menjadi kaya luar biasa. Sayangnya, semua ini pengertian yang basi tentang monopoly.

Pengertian baru tentang monopoly yang tidak mewajibkan hadirnya kekuasaan dalam monopoly, tidak mewajibkan modal yang besar dan telah dipraktekkan bertahun-tahun. Inti dari monopoly jenis baru ini adalah exclusivitas dengan memanfaatkan taste pasar yang dapat dibangun dari kuatnya branding. Selera pasar dimodifikasi sedemikian rupa sehingga memunculkan kesan eksklusif sebuah produk dari produk substitusi di pasar. Ketika pasar baru sudah tercipta, berapapun harga yang dijual seller, tetap akan dibeli. Disinilah monopoly tercipta. Seller menciptakan monopoly nya sendiri terhadap pasar, ia mampu menciptakan pasar baru yang berasas pada eksklusifitas. Demand pada pasar jenis ini berbentuk inelastis (penurunan jumlah pembeli lebih kecil dari kenaikan harga).

Continue reading “Menciptakan Persaingan Monopolistik”

Australia’s GOD

flag_australia_me.jpgDalam tulisan sebelumnya, telah dikupas tentang munculnya ‘tuhan-tuhan‘ baru dalam kehidupan manusia modern. Definisi ‘tuhan’ disini diartikan sebagai sesuatu yang diikuti, diyakini dan semua anjurannya ‘dilaksanakan’ dengan konsekuen dan tidak terbantahkan. ‘Tuhan’ non permanen ini bisa muncul dalam wajah yang begitu rupa, mengikuti arus kehidupan modern yang sulit ditemukan padanannya, bahkan pada waktu yang tidak terlalu lama. Siapakah “tuhan’ orang Australia? Tulisan ini diilhami dari munculnya konflik pribadi dengan ‘tuhan’ Australian tersebut yang begitu terasa bahkan dalam bulan-bulan awal tinggal di sini.

 

Tuhan itu adalah komputer dengan segenap softwarenya, yang menjadi ‘matrix’ -seperti dalam sekuel film MATRIX’- dalam kehidupan di Australia. Seluruh perintah sistem komputer dipatuhi dengan menghilangkan nurani bahkan akal sehat. Seluruh fase kehidupan di Australia diproses dalam sistem biner ‘0’ dan ‘1’ yang menyandera siapapun. Pada satu sisi, hal ini bisa membuat kehidupan menjadi lebih rapi, efficient dan tepat. Tapi ketika terjadi konflik, akal sehat dihilangkan. Pengalaman saya dengan DODO Australia membuktikan hal itu.

Continue reading “Australia’s GOD”

Mak Erot

Saya tergelitik untuk menulis sedikit tentang seksualitas, bukan karena pernah menjadi “pelanggan” mak Erot, tetapi lebih karena isu mak Erot memberkaitan dengan perdebatan antara Traditional/Alternative medicine dan Biomedical yang menjadi mainstream dunia kedokteran di Indonesia. Untuk urusan ini, tesis saya tentang dukun bayi, membahasnya dengan (semoga) komprehensif.

Sekitar enam bulan yang lalu, sebelum berangkat ke Australia, saya bolak balik ke kantor iklan KR dan Kompas untuk urusan pengiklanan. Nah, esoknya, sambil memastikan iklan saya termuat dengan benar, saya tergelitik untuk melihat bagian pengobatan di KR. Di bagian ini terdapat iklan tentang ‘pembesaran’ dan ‘pemanjangan’ penis. Bahkan di salah satu iklan, bisa dibuat kombinasinya. Panjang sekian cm dan diameter sekian cm. Saya takjub dengan iklan yang seolah-olah membayangkan alat vital laki-laki seperti balon, bisa ditiup dan dibentuk sesuai selera. Pengiklannya melampirkan foto mak Erot, yang tampak sudah renta, berkerudung (bukan berjilbab) yang mengesankan mak Erot ini santri betul. Pengiklannya tentu saja bukan mak Erot, yang konon tidak melek advertising, tetapi menantunya, cucu langsung, keponakan, anak kesayangan dll. Pokoknya mengesankan yang bersangkutan berhubungan darah, langsung atau tidak, dengan mak Erot. Banyak sekali iklan sejenis di satu kolom. Prakteknya hanya beberapa hari di salah satu kamar hotel kelas melati dengan “mahar” 300 an ribu. Nah, dari sini saya mulai bertanya-tanya.

Continue reading “Mak Erot”

Ken Arok

Dalam setiap penggalan sejarah Jawa, selalu muncul orang-orang yang kemudian menjadi tokoh dan dikenang sepanjang masa. Kita bisa mundur ke belakang agak jauh, tapi kiranya hidup Ken Arok adalah salah kisah yang paling banyak diceritakan. Bukan hanya karena kisahnya dicatat di Pararaton, tetapi lebih karena kisah Ken Arok adalah contoh nyata seperti apa yang dibayangkan Machiavelli dalam The Prince.

Saya pertama kali mendengar cerita tentang Ken Arok, ketika masih SD, dari ibu yang kebetulan guru SD yang sedikit banyak tahu cerita itu. Versi visualnya saya dapatkan beberapa minggu kemudian dari ‘kartu‘ yang dipotong-potong untuk bermain ‘tomprang’ dan ‘kiyu-kiyu‘. Setiap kartu terdiri dari 36  bagian yang harus dipotong sendiri. Ada gambar ‘gunung kelud‘ di salah satu kotak. Bahannya dari kertas yang bagus di bagian depan dan berwarna, serta coklat di bagian belakangnya. Bagian belakang kadang berisi rambu-rambu lalu lintas. Saya tidak tahu apakah mainan semasa kecil ini masih ada, dugaan saya sudah digantikan dengan kartu ‘pokemon‘, ‘avatar‘, ‘winnie the pooh‘ yang bahannya lebih mahal dan tentu saja hanya bisa dibeli di supermarket. Siapa juga yang mau menggunting sendiri ke 36 bagian kartu itu. Continue reading “Ken Arok”

SMS Santet

santetthumbnail.jpgBaru saja saya menerima email di milis mahasiswa Australia di Canberra yang tinggal di Toadhall. Maklum, sebagai alumni Toadhall, saya berhak menerima milis. Email ini agak menghawatirkan karena memberi info tentang kegemparan SMS Santet yang bisa membunuh, waduhh. Saya browsing sebentar dan beberapa versi SMS seperti berikut:

 

 

“Informasi, kalau ada nomor HP yang 0866 atau 0666 masuk berwarna merah, mohon jangan diangkat, karena ada virus kematian. Soalnya di Jakarta dan di Sumatera sudah ada yang meninggal gara-gara masalah ini, orang bilang lagi uji ilmu hitam.”

”Kalo ada telepon yang NOMORNYA BERWARNA MERAH jangan diangkat, karena bisa menelan jiwa. Hari ini sudah disiarkan di berita, terjadi di Jakarta dan Duri dan sudah terbukti. Sekarang masih diusut oleh pihak KEPOLISIAN. Dugaan sementara adalah kasus PEMBUNUHAN JARAK JAUH MELALUI TELEPON GENGGAM (HP) oleh dukun ILMU HITAM/si penelepon adalah ROH GENTAYANGAN yang mencari MANGSA. Harap dimengerti dan kirim ke teman atau saudara semua. Harap saling membantu sesama umat manusia.”

”Tolong diperhatikan serius. Jika menerima telp masuk dari HP dengan kepala no 0866 atau 066 dengan warna tulisannya merah, mohon dengan sangat jangan diterima. Sama sekali jangan memencet tombol apa pun karena telah memakan korban 1 orang di Medan dan 3 orang di Pekanbaru yang hangus karena HP-nya meledak. Mohon beritahu teman-teman lain”.

 

Semakin lama browsing, semakin aneh bunyinya dan semakin jauh dari akal sehat. Tapi bahasan tentang santet menarik untuk ditulis, karena peristiwa semacam ini selalu berulang ketika situasi politik dan ekonomi Indonesia sedang mengalami fase negatif dan berkaitan dengan relasi vertikal kita dengan pencipta.

 

Continue reading “SMS Santet”

HECS : Berhutang untuk Kuliah

Disebabkan lebih karena banyaknya pengunjung web bulan ini yang sedikit lebih dari biasanya, ingin rasanya menulis lagi sebagai bentuk apresiasi terhadap comment yang telah masuk, yang berdasarkan statistic harian, web ini dilihat rata-rata oleh 128 orang dari 26 negara, 40% nya dari Indonesia dengan rata-rata 2000 hits. Hits-hits ini yang membuat saya bersemangat menambah tulisan. No Comment juga tak mengapa, yang penting tulisan saya membawa manfaat. Saya akan menulis tentang HECS, Higher Education Contribution Scheme, ditengah due paper-paper yang mendesak. HECS ini menarik untuk dilihat karena banyak dijadikan lesson drawing Negara lain dan genuine made in Australia. Selain itu, sebagai pengingat artikel yang baru saja saya baca,. Kira-kira berikut ringkasannya.

HECS adalah skema pinjaman Pemerintah Australia untuk Australian Citizens dan Permanent Residents guna melanjutkan pendidikan tinggi setingkat sarjana di Australia. Pendeknya, Pemerintah Australia memberikan bantuan financial kepada Australians yang mau melanjutkan studinya di Universitas bagi mereka yang masih ingin kuliah dan tidak bekerja setelah lulus Year 12 (kira-kira setara lulusan SMA). Kapan hutang untuk kuliah ini dibayar? Tergantung kepada kemampuan financial penghutang setelah lulus dari perguruan tinggi dan kemudian bekerja. HECS hanya dibayarkan setelah penghutang memiliki penghasilan di atas $43.000 per tahun dan diambil berdasarkan proporsionalitas progressif, artinya, semakin tinggi penghasilan, semakin tinggi pula prosentasi pembayaran hutangnya. Bagaimana jika miskin terus dan tidak mampu membayar? Katakanlah, menganggur setelah lulus kuliah.Ya tidak usah membayar. Hutang dibawa mati, walaupun negara dengan penduduk 20 juta jiwa ini sangat sulit mencari penganggur. Bagaimana HECS bisa muncul, apa latar belakangnya?

Setidaknya, Australia melampaui empat fase penting dalam Politik Pendidikan dalam satu abad terakhir. Pertama, Fase jaman Perang dunia sampai dengan tahun 1970. Fase ini ditandai dengan mahalnya biaya pendidikan dan menjadi privilege kaum terbatas, berduit dan laki-laki . Pendidikan tinggi didominasi oleh laki-laki, kelas menengah, yang umumnya kulit putih. Pada waktu itu, orang kuliahan hanya 2.3% dari seluruh populasi penduduk berusia 17-22 tahun. Pendidikan di Universitas waktu itu sangat mentereng dan bergengsi, katakanlah hanya orang yang Sugih Mbegedhu saja yang bisa mengenyamnya. Fase ini diakhiri dengan munculnya pemerintahan baru kaum buruh dengan naiknya Whitlam menjadi Perdana menteri setelah beberapa dekade gagal menguasai kursi Parlemen di Canberra. Continue reading “HECS : Berhutang untuk Kuliah”

Permit Parking

Permit ParkingJujur saja, saya sering kehabisan ide untuk menulis disini, semenjak tinggal di Australia. Bukan berarti tidak ada yang menarik di Australia, terutama Canberra, tetapi karena saya terbiasa dengan menulis berdasarkan sesuatu yang “tidak seharusnya” atau paling tidak “bisa menjadi lebih baik lagi” dari beberapa peristiwa. Oleh karena itu, beberapa kejadian di Australia menjadi tidak menarik, karena seringkali “ya memang begitu seharusnya.” atau “sudah baik“.

 

Negara yang baik adalah negara yang dibangun oleh seluruh warga negaranya, bukan hanya pemerintah, bukan hanya rakyat, bukan hanya elemen bisnisnya dan bukan hanya parpolnya. Semuanya harus berpartisipasi dalam national development. Salah satu aspek dari partisipasi itu terlihat dari ruang yang terbuka untuk elemen diluar pengambil kebijakan, atau dalam bahasa Colebatch “attentive public” dan bukan hanya “sub-government”. Bentuk kongkritnya bisa dilihat dari keberadaan KOTAK SARAN. Katakanlah misalnya Dardias University sebagai sebuah universitas baru ingin tahu sejauh mana pelayanannya memuaskan seluruh elemen di kampus. Disediakanlah KOTAK SARAN di setiap fakultas dan juga tersedia online. Elemen kampus juga rajin mengirim kritik lewat media yang ada, managemen kampus menindaklanjutinya dengan segera bentuk partisipasi itu. Begitu seterusnya hingga terbangun situasi ideal apabila seluruh pihak berpartisipasi.

 

Dalam level negara juga demikian. Bentuk partisipasi yang dilakukan SLANK untuk anggota DPR di Senayan seharusnya disikapi dengan sangat bijak. Tidak ada kritik “yang membangun”. Semua kritik pada dasarnya tetap membangun. Terminologi “kritik membangun” sengaja dipakai rejim Soeharto untuk membungkam mereka yang “anti pembangunan” yang dengan gampang kemudian dicap sebagai “kiri atau PKI”. Mereka yang “tidak membangun” justru tidak akan meluangkan energinya untuk membuat sebuah kritik, apatis lebih baik. Tapi tunggu dulu, apatis pun juga bisa dianggap sebagai kritik, misalnya buat kawan-kawan yang memilih golput.

Jawaban KPK terhadap upaya penuntutan terhadap SLANK jelas, Al Amin ditangkap, plus PSK nya. Namanya Al Amin lho, sekali lagi Al Amin, -orang yang dapat dipercaya-. Aneh memang anggota DPR kita, lebih reaktif daripada jaman Soeharto. Iwan Fals jauh-jauh lebih keras kritiknya, judulnya saja Wakil Rakyat, dan sepertinya merupakan lagu yang selalu up to date bahkan untuk waktu yang sekian lama.

 

Australia adalah salah satu negara yang dibangun dengan bersama-sama itu. Salah satu contohnya ketika saya terkena parking fine yang bikin mangkel. Saya memang salah karena tidak memarkir Carol (nama mobil saya) di tanda PERMIT PARKING yang saya bayar $151 untuk 11 bulan. Denda untuk pelanggaran parkir ini luar biasa banyak, $159. Artinya, lebih banyak dari biaya bayar parkir tiap tahunnya. Hal ini terjadi karena sudah 40 menit mencari lokasi parkir dan semuanya penuh, dan kelas sudah menunggu. Saya beresiko dengan parkir dan ternyata RANGER ANU tengah mencari mangsa. Mobil difoto  dan sedetik setelahnya, bill pelanggaran ditempel di wiper. Sebelum saya, dua teman Indonesia juga terkena fine dengan sebab yang kurang lebih sama.

 

Continue reading “Permit Parking”

Daylight Saving

Salah satu temuan paling penting sepanjang sejarah kebudayaan manusia adalah penemuan tentang waktu. Buku the Discovery yang saya beli di toko buku bekas di Montreal menyebutkannya demikian. Penemuan tentang waktu dimulai dari kesadaran bahwa bumilah yang berputar mengelilingi matahari (heliocentric) dan bukan sebaliknya (geocentric). Temuan yang harus ditebus dengan nyawa Galileo ini membuka peluang baru tentang temuan tentang waktu matahari dimana setiap putaran planet selalu akan kembali ke titik yang sama ketika berputar dalam satu putaran penuh. Bumi akan menemui titik yang sama pada satu putarannya terhadap matahari. Dari sanalah waktu matahari berawal.

Waktu bulan dihitung berdasarkan putaran bulan terhadap bumi. Setiap malam, manusia mengamati perubahan terhadap bulan. Kapan bulan menjadi sabit, separo dan purnama diamati secara terus menerus. Tidak kalah luar biasa dibandingkan dengan waktu matahari, waktu bulan dipakai sebagai standar waktu manusia. Kedua basis perhitungan ini dipakai manusia selama ribuan tahun untuk menentukan banyak hal. Bedanya, dalam waktu matahari, matahari berposisi sebagai centre dan dalam waktu bulan, bumilah yang berfungsi sebagai centre.

Sekali manusia menemukan bagaimana waktu dapat dihitung, temuan lain segera menyusul. Kejadian-kejadian penting kemudian dicatat dan dikategorikan, sehingga nelayan tahu kapan badai akan datang, petani tahu betul bahwa ada 2 minggu cuaca panas tanpa hujan setelah 6 minggu musim hujan. Perhitungan lainnya dikategorikan secara lebih detail dengan mengamati setiap tanggal lahir manusia yang menjadikan perhitungan bintang, shio dan primbon tetap diminati. Pendeknya, temuan tentang waktu membuka kesempatan luas terhadap perhitungan lainnya yang membuka kesempatan banyak hal. Penemuan tentang waktu, mungkin hanya bisa tersaingi dengan penemuan computer dan internet.

Continue reading “Daylight Saving”

Ceteris Paribus

aus$Judul dari posting ini sudah mengendap sekian lama di draft WordPress. Judul ini datang dari bahasan tentang Introductionary Academic Preparation di Crawford yang mau tidak mau harus bersentuhan dengan ekonomi. Kristen mengajar dengan baik persiapan untuk course microeconomics yang akan dilalui di semester pertama dan macroeconomics yang ada di semester kedua .  Kedua subjects ini begitu mengerikan terdengar setelah sekian lama tidak lagi menggambar grafik, memahami rumus dan melakukan penghitungan matematik. Tapi apa daya, tuntutan untuk segera settle di Canberra dengan mendapatkan akomodasi yang mamadai, menuntut untuk meninggalkan beberapa kelas Kristen dan kelas IAP lainnya ketika dihadapkan pada persoalan inspeksi rumah.

Ceteris Paribus mengacu pada “all things are being equal”. Ekonom menggunakan hukum ceteris paribus untuk membuat model pada gejala ekonomi, yang menurut para ekonom, hadir dalam setiap sisi manusia. Berbeda dengan political science yang lahir sejak jaman Yunani kuno, dimana hukum Plato masih sering menjadi rujukan (ingat Socrates sebagai Critical thinker pertama), study ekonomi relatif baru hadir di tahun 1776 dari Adam Smith, dewa ekonomi. Menariknya, walaupun baru berumur 250 tahun, ekonom mengklaim manusia tidak pernah lepas dari hukum-hukumnya. Economy berkaitan dengan urusan Scarcity dan Choice. Resources terbatas, keinginan tidak terbatas dan bagaimana pilihan menghadapinya.

Ekonomi kerap dijelaskan menggunakan graph untuk mempermudah pemahaman. Graph dalam ekonomi lebih mudah digambarkan sebagai sebuah cerita dalam novel. Graph dapat dibayangkan sebagai interaksi antar aktor-aktor dalam novel. Sehingga untuk mengerti interaksinya, harus mengenal dulu karakter tiap pemainnya. Kita harus mengenal karakter konsumen, karakter produsen berkaitan dengan -paling tidak- Quantity dan Price untuk mengetahui letak interaksi dalam Supply dan Demand. Pemahaman ini mengeliminasi ketakutan terhadap ekonomi yang melulu tentang tabel, agak berbeda dengan Ilmu Politik dan Pemerintahan yang selama ini saya pelajari dimana angka hanya dapat ditemukan untuk mengidentifikasi halaman dan tanggal peristiwa penting. Artinya memiliki kalkulator sama saja dengan mubazir, karena hanya akan rusak berdebu.

Sebagai orang yang awam ekonomi, kata-kata sepopuler Ceteris Paribus pun membuat saya sempat terhening sejenak, membayangkan buku teks ekonomi SMA yang tidak pernah bisa sepenuhnya terpahami, (apalagi buku jatah Depdikbud (sekarang Diknas). Entah karena kesulitan menggambar grafik elastic demand berikut supply nya dan menentukan Dead Weight Lost, Ceteris Paribus yang menjadi hukum penting ekonomi sepertinya mustahil dalam kenyataan. Berikut kisah mencari rumah di Canberra sebagai sebuah ilustrasi.

Continue reading “Ceteris Paribus”

Geby, Gita, Toadhall

Setiap mahasiswa yang pernah belajar diluar Indonesia pasti pernah merasakan bagaimana kesendirian menjadi masalah yang selalu muncul. Apalagi bagi mereka yang terbiasa tinggal di Jawa yang sejak 2004 dinobatkan Guinness Book World Record sebagai The most populous island in the world tiba-tiba harus beradaptasi dengan “daerah tanpa manusia” seperti Canberra yang toko-toko rata-rata tutup jam 5 sore dan jalanan mulai sangat sepi jam 8 malam, setara dengan jam 3 pagi di Jogja. Selain itu, semangat ngumpul orang Indonesia tidak bisa hilang begitu saja. Inilah sebabnya kisah-kisah perkawanan ketika belajar di luar negeri selalu menjadi kisah yang tidak pernah dilupakan sampai mati. Setelah selesai sekolah, bukan kisah memusingkan menghadapi banyaknya bahan bacaan yang sepertinya mustahil untuk diselesaikan dalam satu semester, tetapi kisah lucu-lucu, remeh-temeh yang selalu memberikan semangat untuk terus belajar sampai jenjang tertinggi. Berikut antara lain kisah Geby, Gita dan Toadhall yang saya tinggali satu setengah bulan terakhir sebelum tinggal off campus di Queanbeyan.

Toadhall adalah asrama favorit mahasiswa ANU. Selain berada di kampus, hall ini juga murah “hanya” $146 per minggu. Ruangannya dibagi dalam 7 blok dari A-G dan terdiri dari empat lantai. Sangat susah berkompetisi untuk masuk ke Toadhall, paling tidak harus mendaftar 6 bulan in advance. Geby adalah senior saya di UGM. Begitu mengenal sosoknya, orang akan langsung paham betapa ramahnya orang ini. Bagaimana tidak, pada hari pertama di Toadhall, bang Geby lebih dulu mencariku dan membantu mengantarkan koper ke F742. Waktu itu, kami hanya sama-sama tahu nama, bukan wajah. Mbak Gita juga demikian, dirinya akan langsung menampakkan sikap ceria begitu orang menyapanya (kalau tidak disapa duluan, karena konon kabarnya mbak Gita rajin menyapa duluan).

Kedua Ph.D student ini datang di Toadhall pada hari yang sama, berikrar untuk tetap bersama, dan anehnya submit Desertasi pada hari yang sama juga. Keduanya pulang ke Indonesia hanya berselisih hari, mas Geby di UGM, mbak Gita di UI. Keduanya juga dianggap senior di Toadhall dan dianggap sebagai bu lurah dan pak lurah. Tidak mengherankan jika pada saat perpisahan, hampir seluruh mahasiswa Indonesia hadir, memberikan hawa pengap dan menggetarkan di Anton Aalbers room. Setahu saya, ini adalah acara paling ramai untuk orang Indonesia, jauh melebihi acara Indonesia lainnya. Ada semacam magnet dari keduanya sehingga banyak sekali yang hadir dan berkontribusi. Mulai dari bakso sampai gule kepala kambing (yang terakhir sangat jarang sekali ditemui, membayangkan cara membikinnya saja sudah pusing 😆 ).

Continue reading “Geby, Gita, Toadhall”

PoDIUM DeTIK

Setiap buku selalu memiliki keistimewaannya sendiri-sendiri. Buku-buku best seller selain bagus, juga mampu memuaskan selera lebih banyak orang sehingga terus diburu dan penjualannya meningkat. Sehingga, karena lebih sebagai konsumsi umum, buku-buku best seller tidak selalu istimewa bagi pembaca dengan segmen tertentu. Artinya, setiap pembaca berhak menentukan sendiri setiap buku yang menempati urutan tertinggi kegunaannya (value-nya) sebagai sebuah buku. Walaupun bukan best seller, salah satu buku yang memberikan banyak inspirasi kepada saya adalah buku karangan AS LAKSANA yang berjudul PoDIUM DeTIK. Entah berapa kali sudah buku itu terbaca, mungkin lebih dari 20 kali dan selalu dibawa jika bepergian jauh. Setiap kali membaca buku ini yang biasanya langsung sampai habus, selalu saja ada makna beru yang ditemukan. Buku ini sekarang menjadi satu-satunya buku berbahasa Indonesia di perpustakaan pribadi yang mulai dikumpulkan satu-persatu di Queanbeyan, 16 km dari Canberra, tempat saya tinggal.

 

Bagaimana buku ini menjadi penting, disamping ribuan yang telah terbaca, berikut kisahnya.

 

Buku PoDIUM DeTIK Esei dan Perlawanan merupakan kumpulan tulisan AS Laksana di Tabloid Mingguan DeTIK yang kemudian dibredel penguasa Orba pada 21 Juni 1994. Sebelum dibredel, pada kolom PoDIUM yang berada di bagian bawah Tabloid DeTIK, tulisan AS Laksana yang hampir semuanya berbentuk esei memberikan inspirasi terhadap pembaca DeTIK atas peristiwa yang terjadi minggu itu. Artinya, seluruh tulisan dalam PoDIUM DeTIK dihasilkan sebelum Juni 1994. AS Laksana banyak menggunakan metaphor dalam menginspirasi pembaca DeTIK, karena, bahkan dengan metaphor pun, DeTIK akhirnya dibredel. Hampir seluruhnya dari 66 tulisan yang terkumpul dalam 4 Podium menyuarakan Perlawanan terhadap Soeharto dan Rejimnya. Tapi lebih dari itu, setiap pembaca berhak memberikan penafsiran sendiri dari setiap tulisan yang hampir pasti menyertakan pesan moral yang tidak akan pudar seiring waktu. Inilah salah satu alasan buku ini menarik untuk terus dibaca.

 

Continue reading “PoDIUM DeTIK”

Where is Indonesia ?

Hari ini, 9 Februari 2008 acara NATIONAL MULTICULTURAL FESTIVAL di Canberra mulai menunjukkan kemeriahannya. Acara yang digelar 10 hari sejak 8 Februari itu menyita energi publik, yang untuk ukuran Canberra, bisa dibilang luar biasa. Nama Canberra memiliki dua arti, pertama, nama itu diambil dari bahasa Aborigin, Kamberra, yang berarti tempat berkumpul. Kedua, ahli sejarah lainnya menyatakan sebagai Woman’s Breast, Karena dari jauh, Mount Ainslie dan Black Mountain seperti sepasang dada wanita. Percaya yang mana, terserah pembaca.

 

Acara national multicultural festival diadakan di Civic, sebutan untuk pusat kota Canberra yang sedikit lebih ramai dari pusat kota Klaten. Namanya saja national multicultural festival, momen ini adalah ajang promosi Negara-negara yang ada di Australia yang menggemborkan multiculturalism. Penduduk Australia terlanjut mamasukkan acara ini dalam agenda mereka, tepat setelah Australia Day. Tenda-tenda telah dipersiapkan seminggu sebelumnya, yang memadati Civic yang memang tidak besar. Dengan segala hiruk pikuk itu, moment ini tidak hanya penting, tetapi juga menjadi tolak ukur banyak hal.

Hampir semua Negara mempertunjukkan kultur khasnya, tidak terkecuali Indonesia. Saya tidak sempat menonton atraksi Indonesia yang digelar di salah satu dari empat panggung yang ada di empat jalan penjuru Civic. Atraksi Indonesia dengan tarian serampang dua belas, katanya cukup menarik penonton.

 

Disepanjang jalan di empat panggung itu didirikan kios-kios temporer yang dapat dikategorikan setidaknya menjadi dua macam. Deretan kios pertama berisi makanan dan minuman khas banyak Negara. Kita bisa menemukan Dutch Pancake yang kecil menggoda itu, Vodka asli rusia yang membuat pening kepala, Kari India, jajanan Bosnia sampai semacam gabungan Siomay dan Bakpao dari Tibet. Pendeknya, inilah ajang memperkenalkan makanan khas masing-masing Negara.

Kios kedua lebih sebagai ajang promosi yang membuat tertarik pengunjung untuk meluangkan waktu di ke Negara itu, atau hanya sekedar memperkenalkan budaya dan keunikan yang ada. Disini dibagikan pamflet, poster, buku, bendera, gantungan kunci, peta sampai kaos. Setiap stan promosi dibuat cantik untuk menarik pengunjung datang.

 

Continue reading “Where is Indonesia ?”

Matinya Soeharto di Negeri Seberang

_41399527_seated_1967_ap.jpgMeninggalnya Soeharto terasa begitu biasa di Australia. Soeharto yang ketika sakit disebut oleh media local Australia sebagai Dictator’s General, berubah menjadi Indonesian Former President sesaat setelah meninggal. Soeharto meninggal tepat pada saat perayaan Australia Day yang jatuh hari Senin. Artinya Soeharto dimakamkan pada saat seluruh jalan di Canberra sepi dan mayoritas toko tutup. Saya menunggu detik-detik kematian Soeharto di Crawford School of Economics and Government, ANU, sendirian.

 

Pada saat membaca di detik.com (yang katanya sempai menambah server untuk mengantisipasi membludaknya netter) bahwa Soeharto sudah sangat-sangat kritis, saya merasa takdirnya mungkin tidak lama lagi. Sejak itu, saya menunggu detik demi detik perkembangannya di detik.com sampai akhirnya dinyatakan pertama kali oleh Kapolsek Kebayoran Baru bahwa yang bersangkutan ternyata memang telah meninggal. Inilah pertama kalinya saya merasa begitu terasing di Australia. Terasing dengan perasaan begitu inginnya hadir dalam suasana bersejarah bangsa Indonesia. Hadir dalam hiruk pikuk SCTV dengan wartawan seadanya yang tidak tahu harus mencari berita kemana, dan hadir ketika semua orang Indonesia tumpah ruah untuk mengenang dan sekaligus memaki Soeharto. Pendeknya, saya telah alpa dalam sebuah moment penting Indonesia, dan untuk itu, saya merasa sangat kesepian. Langkah kaki dari Crawford ke Toad Hall terasa begitu jauh, sepi dan lama.

 

Secara pribadi, bangsa Indonesia berhutang pada Soeharto. Berhutang karena tidak berhasil menyelesaikan dugaan korupsi kepadanya. Empat presiden dan tujuh (kayaknya) Jaksa Agung gagal membuktikan apakah Soeharto sebenarnya Korupsi. Persis seperti kata cak Nun bahwa bukan hanya bangsa Indonesia yang menginginkan keadilan, Soeharto juga menginginkan keadilan. Setelah itu, terserah pada masing-masing pribadi untuk memaafkan atau tidak. Tapi, bagaimana kita bisa memaafkan jika kita tidak berhasil, secara legal, membuktikan Seoharto bersalah?

 

Dosa politik Soeharto teramat besar untuk dimaafkan, sehingga tak sudi saya hadir di acara tahlilan di KBRI yang digelar esok harinya. Soeharto telah berhasil menciptakan rantai korupsi yang susah diurai empat presiden, apalagi diselesaikan. Soeharto telah berhasil menciptakan rantai kesenjangan luar biasa antara si kaya dan si miskin. Lebih dari itu, Soeharto telah mewarisi keturunannya dengan harta haram yang tidak habis dibagi tujuh turunan yang didapatkan dengan merampas dengan paksa uang rakyat, mulai dari langganan wajib koran Suara Karya di SD yang dipotong dari gaji setiap guru di SD, sampai dengan korupsi proyek dengan nilai fantastis. Akibat dari itu telah terlihat dari penderitaan dirinya selama 10 tahun sejak 1998 dengan melihat bagian-bagian terdekat dirinya dilanda masalah bertubi-tubi. Continue reading “Matinya Soeharto di Negeri Seberang”

Malam Satu Suro

Tidak seperti malam satu Suro yang selama ini terlewati dengan biasa-biasa saja, setelah diawali dengan undangan nikah yang tidak habis-habis, malam satu suro kali ini benar-benar istimewa. Bagaimana tidak, malam tahun ini, 9 Januari 2008, saat menyambut satu Suro yang berpindah pada saat maghrib, diiringi dengan seluruh rush dan preparation ke Canberra. Sekali lagi, perjalanan panjang Sumedang-Jakarta yang untuk selanjutnya terbang abroad diulangi. Artinya, tahun baru kali ini betul-batul dimulai dengan sesuatu yang baru, tinggal di negara baru dan memulai kehidupan baru. Untungnya, sekian banyak blessing yang mendoakan saya, terimakasih banyak untuk mereka semua.

Perjalanan ke Sydney dengan Qantas tidak seistimewa ketika menuju Amsterdam dengan Malaysia Airlines. Keistimewaan disini sekali lagi perlu didefinisikan sebagai ada tidaknya TV di kursi penumpang. Jika ada, berarti masih kategori istimewa, karena tidak perlu kebingungan menghabiskan waktu dengan tidur yang sama tidak nyamannya dengan Bis. Saya masih teringat betul perjalanan ke Montreal dulu memakai Cathay Pasific. Perjalanan yang sangat jauh itu terasa terhibur dengan film Kung Fu Husle yang ditonton 3 kali. Anehnya, tidak bosan menontonnya, mungkin karena Stephan Chow yang sedang bersinar kariernya kala itu.

Tiba di Sydney 6, 5 jam kemudian, kira-kira jam 7 pagi waktu Sydney yang sangat panas cuacanya. Panas, kering dan membakar. Perjalanan ke Canberra dilanjutkan dengan pesawat dengan dua baling-baling yang berisi 76 penumpang 2-2, mirip bis Bandung Cepat, hanya sedikit lebih panjang. Eh tidak ding, lebih nyaman Bandung Cepat karena jarak kakinya lebih longgar. Dengan tidak sedikit guncangan ketika mendarat, sampailah saya di Canberra yang disambut dengan standing Banner Crawford School of Economics and Government, the Australian National University.

Continue reading “Malam Satu Suro”