Electionist dalam Sistem Presidensial

Banyak pihak memperkirakan angka Golput akan naik pada pemilihan 2009 dengan berbagai alasan, mulai dari kontestasi politik, regulasi hingga kinerja KPU. Faktor yang jarang diperbincangkan tetapi penting berkaitan dengan bosannya pemilih karena terlalu banyaknya pemilihan. Mungkinkah ini menjadi faktor utama tingginya Golput dan bagaimana hubungannya dengan sistem presidensial yang dipakai Indonesia saat ini?

Dalam praktek pemilu di banyak negara, tingkat partisipasi politik dalam pemilu dihitung bukan berdasarkan pada pemilih yang tidak hadir (Golput) tapi dihitung berdasarkan tingkat pemilih yang hadir (voters’ turnout). Munculnya fenomena terbalik di Indonesia disebabkan antitesis atas dominasi Golkar di era 70 an yang tersimbolkan dalam pilihan frasenya: Golput sebagai lawan dari Golkar. Jika di luar negeri pemilu diupayakan untuk meningkatkan jumlah voters’ turnout, di Indonesia pemilu diusahakan untuk menurunkan jumlah Golput.

Tidak dapat dipungkiri, pemilu merupakan elemen terpenting demokrasi. Demokrasi hanya bisa hadir dalam partai politik yang tumbuh bebas yang bertarung dalam pemilu yang jujur (Duverger 1963). Hadirnya institusi pemilu yang mantap juga sangat vital dalam konsolidasi demokrasi. Selain itu, pemilu juga sarana efektif untuk menyalurkan partisipasi politik rakyat dan menjamin terpilihnya elit politik yang sesuai dengan keinginan rakyat. Sejak reformasi, pemilu di Indonesia bisa dikategorikan jujur dan menjadi rujukan kisah sukses terkait dengan konsolidasi demokrasi di negara berkembang.

Continue reading “Electionist dalam Sistem Presidensial”

Berhenti Merokok

Menurut data badan kesehatan PBB, WHO 2004, di tahun 2002 lebih dari 750 ribu orang Indonesia meninggal akibat rokok. Mereka menghabiskan lebih dari Rp 100 triliun dalam setahun untuk membeli lintingan tembakau dan cengkeh itu. Data demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia 2008 menunjukkan, 93 persen pecandu rokok adalah orang dewasa, sedangkan di bawah 20 tahun mencapai 7 persen.

(Tempointeraktif.com diakses tanggal 27 February 2009)

Saya mencoba berhenti merokok setelah 12 tahun rutin memasukkan Tar, nikotin, irritants dls ke paru-paru setiap hari. Rokok saya  (dulu) Sampoerna A Mild warna merah, walaupun sering merokok apapun jika kepepet :razz:. Bila tiap batang AMild mengandung 0.1 mg nikotin, setidaknya sudah 8760 mg terhisap selama 12 tahun dengan 20 batang perharinya. Mengapa saya berhenti merokok dan bagaimana caranya?

Pengetahuan tentang bahaya merokok sudah sangat mudah didapatkan saat ini. Hanya dengan sedikit googling, ribuan artikel tentang bahaya rokok sudah muncul. Dari sekian artikel itu, hampir tidak ada tidak ada penelitian ilmiah yang kontra terhadap bahaya rokok bagi kesehatan. Toh, walaupun pengetahuan telah dimiliki, tak mudah untuk berhenti.

Mengapa berhenti merokok?

Pertama, karena saya ingin berhenti. Ini syarat penting yang harus dimiliki.

Kedua, istri saya benci pada rokok. Kebencian ini meningkat drastis ketika di Canberra. Selama ini, rokok saya diimpor dari Sumedang dan harus membayar cukai import $48 per slop. Tapi hal ini bukan perhitungan matematis semata. Jika hanya mengandalkan hitungan ekonomis, tentu keputusan berhenti merokok sudah datang dari dulu. Berhenti merokok adalah simbol bagaimana mencintai istri lebih dalam daripada mencintai diri sendiri:oops:.

Ketiga, merokok di Australia sangat-sangat tidak nyaman. Di Australia, merokok adalah perbuatan yang lebih buruk daripada drinking. Drinking adalah gaya hidup, merokok adalah kecerobohan hidup. Di Indonesia berbeda. Merokok dipandang sebagai ‘kenakalan’ atau keburukan dengan strata terendah. Waktu di kampung Bogeman, saya sering mendengar ibu-ibu yang mendiskripsikan kenakalah pria 20an tahun dengan berkata: ” Wah, dia itu  baik banget lho, merokok saja tidak.” Jadi, jika seseorang tidak merokok, dianggap alim, baik dan berbudi dan jauh dari Molimo. Tidak sedikit juga (baik laki-laki atau perempuan) yang melihat rokok adalah ekspresi kejantanan laki-laki. Pada sisi yang lain, jika perempuan merokok, dianggap sebagai perempuan terjelek ahlaknya. Nah di Australia, mau merokok sangat repot. Disamping lokasinya yang harus minimal 10 meter dari building, keinginan merokok menjadi siksaan berat hampir di setiap musim. Di musim dingin, keinginan merokok dikalahkan oleh dinginnya suhu yang membekukan jari-jari, di musim panas anda tahu sendiri, mana enak merokok kala cuaca 38 derajat?

Bagaimana berhenti merokok?

Continue reading “Berhenti Merokok”