Presiden dan Komposisi DPR

Kedaulatan Rakyat, Analisis- 11 Juli 2009

Dalam setiap kesempatan debat dan kampanye, setiap kandidat presiden dan wakil presiden selalu berjanji untuk melakukan banyak hal di berbagai sektor. Pengangguran akan diturunkan, pertumbuhan ekonomi ditingkatkan, pendidikan digratiskan dan kesehatan dijamin. Semudah itukah presiden terpilih merealisasikan janji kampanyenya?

Kebijakan publik tidak hanya didasarkan atas keinginan presiden semata tetapi harus dikontestasikan dalam struktur politik yang ada. Tidak seperti negara diktator yang kekuasaan tersumbu pada satu titik, negara demokratis menyebar kekuasaan “veto”-nya pada beberapa lembaga. Indonesia yang merupakan satu-satunya negara demokratis di Asia Tenggara dengan kategori “free” (Freedomhouse.org). Artinya, walaupun pasangan capres memenangkan pemilu, bahkan dengan satu putaran sekalipun, upaya mewujudkan misi dan programnya masih teramat panjang dan berliku.

Dalam sistem presidensial murni yang diterapkan di Indonesia, tantangan terbesar presiden terletak pada kemungkinan tercapainya konsensus di DPR. Proses penyusunan kebijakan publik memerlukan dukungan DPR sebagai bagian dari mekanisme checks and balances. Semakin banyak Presiden didukung di DPR, semakin mudah merealisasikan program-programnya. Untuk tujuan inilah, siapapun presiden terpilih tidak memiliki pilihan lain selain menyusun kabinet “pelangi” yang menteri-menteri berasal dari berbagai partai politik. Dengan memiliki kekuatan di eksekutif dan legislatif sekaligus, realisasi program kerja diusahakan untuk seminimal mungkin di veto oleh DPR.

Continue reading “Presiden dan Komposisi DPR”

Musnahnya Nama Lokal Indonesia

Dari iseng-iseng di semester break kali ini, kalau diamati,  ternyata banyak hal menarik dalam proses pemberian nama anak. Teman-teman saya, teman-teman adik dan kakak saya, memberi nama anak mereka dengan nama yang tidak berbahasa Indonesia dan tidak berbahasa daerah. Bahkan dalam lingkup extended family, nama anak-anak didominasi oleh nama dengan bahasa Arab untuk kami yang Muslim. Setelah saya cermati, ternyata nama kedua anak saya pun juga bisa dibilang terjangkiti virus ke-Arab-an tersebut. Gejala apakah ini?

Cobalah anda perhatikan nama anak-anak dan balita sampai setidaknya usia sepuluh tahun, terutama dari kelas menengah perkotaan Indonesia. Dominasi nama-nama berbahasa Arab terbukti sangat dominan. Nama perempuan Zahra misalnya, sangat laris belakangan ini, entah sebagai nama depan atau nama belakang. Nama seperti Raihan, untuk laki-laki, juga tidak kurang menarik penggemar.

Sebenarnya, tren nama Arab sudah muncul sejak Islam pertama kali menyebar di Indonesia. Buku sejarah menyebut Islam masuk ke Indonesia sekitar abad 11-12. Beberapa temuan artefak menunjukkan Islam telah datang lebih dulu, sekitar abad 7 (misalnya temuan stempel di bangkai kapal di perairan Cirebon). Sejak ditemukannya makam Fatimah binti Maemun di abad 11 di Gresik, nama-nama Arab menghiasi tren nama di Indonesia. Continue reading “Musnahnya Nama Lokal Indonesia”

Peti Mati Bernama Hercules

Dimuat di TANDEF

Salah satu pesawat TNI AU terjatuh lagi pagi ini. Belum jelas apa penyebabnya, yang jelas petaka adalah ini musibah berikutnya setelah pesawat Fokker jatuh di Bandung dan menewaskan putra terbaik di PaskhasAU. Saya langsung mengganti status di Facebook menjadi “Audit TNI !!!!”. Banyak komentar masuk. Musibah jatuhnya pesawat TNI AU sangat emosional buat saya. Mengapa?

Salah seorang sahabat, Norman Nugroho, tewas bersama jatuhnya Chopper Superpuma di Wonosobo dua hari sebelum tsunami Aceh di akhir 2004. Waktu itu pangkatnya masih Letnan Satu. Saya berdebar-debar menunggu berita di tagline TV setelah ditelpon kawan-kawan berkali-kali tentang kabar Norman adalah salah satu dari 14 korban. Norman adalah teman baik ketika SMA dan kami mendaki beberapa gunung bersama, termasuk berbagai kegiatan di SMA antara lain Pramuka. Dia Ketua PMR saya ketua Glacial (Pecinta Alam). Kami sering kerja bareng. Bersama teman saya yang lain, kami bertiga pernah ikut Geowisata di Bantul yang diselenggarakan Mapala Geologi UGM selama tiga hari. Ini peristiwa yang sangat mengesankan. Diantara teman tentara yang lain, dia yang paling tidak pelit untuk diajak diskusi. Darinya, saya tahu tentang berbagai posisi “sikap” di AAU. Setiap pesawat jatuh selalu mengingatkan saya pada sosok kalem Norman.

Saat menulis status tersebut di Facebook, saya tidak bermaksud memojokkan TNI AU. Maksudnya adalah, dengan diaudit, akan jelas kebutuhan “standar” TNI. Kalau kurang sebaiknya ditambah, kalau belum beres dibenahi. Kalau standarisasinya masih kurang, mungkin perlu sertifikasi management. Dengan cuaca yang bagus seperti di foto evakuasi (tidak seperti ketika Superpuma jatuh), jelas ada yang tidak beres, baik di internal TNI, maupun di luarnya. Mari diperinci satu-satu.

Secara politis, posisi TNI sangat-sangat jauh berbeda sejak Post-Soeharto Indonesia. Kebetulan, saya sedang membaca buku Marcus Mietzner (2009), dosen saya, Military Politics, Islam, and the State in Indonesia: From Turbulent Transition to Democratic Consolidation. Pemerintah Indonesia pasca Soeharto yang mengusung ideologi Huntingtonian yang menganggap tentara harus militer professional. Dengan pandangan ini, Dwi Fungsi ABRI dihapus, dan dampaknya sungguh sangat luar biasa. Keuangan Prajurit menciut drastis. Saat ini muncul desakan agar bisnis TNI dipreteli yang juga masih berakar pada ideologi Huntingtonian ini. Kini menjadi tentara tidak segagah sebelumnya. Di lain pihak, rakyatpun menolak militer termasuk pensiunan, ke kancah politik. Sekitar 8% pensiunan TNI dan Polri yang berlaga di Pilkada sebagian besar kalah (Mietzner, Inside Indonesia, January 2006). Saat ini sulit mencari Gubernur yang berasal dari TNI/Polri. Di Jawa hanya tersisa di Jateng. Di Jaman Soeharto, seluruh Gubernur di Jawa dari TNI. Dari lebih dari separuh kepala daerah di Indonesia yang berasal dari TNI selama Orba, hanya menyisakan kurang dari 10 orang di 400 lebih kabupaten kota dan 33 Provinsi atau sekitar 2%-3% saja. Posisi TNI di Di DPR/DPRD semakin masuk dalam kategori “endangered species.”

Continue reading “Peti Mati Bernama Hercules”

Tujuh tipe Facebookers

Aplikasi satu ini seperti sebuah game, membuat kecanduan dan menyebabkan orang tidak produktif. Bedanya, Facebook dibungkus dengan backbone yang bagus, menjalin silaturahmi.

Perkenalan dengan facebook dimulai November tahun lalu di tengah deadline menyelesaikan paper akhir di perpustakaan University House, ANU. Awalnya, hanya sekedar iseng melepas lelah dibalik ribuan kata yang harus diedit. Hanya dalam seminggu, jumlah friends mendekati 100 dan sekarang hampir 600 dalam enam bulan. Artinya, terdapat tambahan seratus friends sebulan. Dari angka itu, tak lebih dari 20 orang yang saya add, selebihnya hanya melakukan confirm terhadap request. Selain itu, (paling tidak sampai saat ini) saya cukup selektif meng approved hanya request dari seseorang yang benar-benar dikenal, atau (maaf buat mereka yang ter ignore).

Facebook memang menarik, terutama untuk kondisi saat ini. Facebook adalah pengejawantahan apa yang disebut Friedman sebagai globalisasi 3.0, merubah dunia yang small menjadi tiny yang dimotori oleh actor individual. Dari kota gersang Canberra saya bisa mengupdate kondisi kawan-kawan yang telah tersebar entah ke mana.

Dari  sejumlah itu, beberapa kawan meng add saya sebagai kawan pertama mereka di Facebook. Beberapa kawan yang lain memasukkan saya dalam lima besar. Padahal, kami sudah tak bertemu lebih dari 5 tahun. Sepenting itukah saya dalam jaringan pertemanannya atau menjadi teman yang berkesan? Mungkin tidak, hanya sekedar iseng di google.

Selain itu, Facebook dapat sejenak mengendurkan syaraf, terutama saat teman men ‘tag’ kita di salah satu foto jadulnya. Setelah itu, tinggal adu kekuatan ingatan di comments. Seringkali, foto yang di upload itu sama sekali tidak ada dalam ingatan.

Dalam hal upload foto di facebook, temen-temen ini juga bisa dikategorikan menjadi tujuh jenis.

Pertama, Kawan Narsis. Hampir seluruh foto yang diuploadnya adalah foto diri dengan berbagai pose dan berbagai keadaan, di kantor, di rumah, di taman, di dapur dan (terutama) di luar negeri. Paling parah dari golongan ini adalah mereka yang mengupload seluruh foto dirinya yang diambil sendiri dengan handphone generasi baru. Artinya muka Kawan Narsis menghiasi 30 persen foto. Continue reading “Tujuh tipe Facebookers”

Pemilu di Canberra

Kemarin saya memilih di Canberra. Kapan lagi memilih di luar negeri :grin:, sekaligus ingin merasakan bagaimana menariknya pesta demokrasi ini, sebesar apa sih kerta suaranya, seperti apa sih calonnya, dls. Penasaran saja mengingat pemilu di Indonesia selalu menarik. Bahkan pemilu di jaman Soeharto pun selalu menarik. Pengalaman melewati empat kali pemilu (1997, 1999, 2004, 2008) akan saya tulis disini.

PEMILU 1997

Tidak ada yang menduga Soeharto akan jatuh setahun kemudian. Tetap ada tiga partai, PPP, Golkar, PDI (Soerjadi) dilaksanakan Mei 1997. Sebagai pemilih pertama, seharusnya pemilu waktu itu menjadi ajang yang menarik. Tetapi tidak, sebabnya, saya sudah terilfiltrasi beberapa majalah PRD yang didapatkan secara sembunyi-sembunyi. Karena sudah sore (saya datang dari Jogja untuk persiapan UMPTN) , petugas KPPS di Bogeman Kidul, Magelang datang ke rumah, menanyakan mengapa saya tidak datang (ini bukan bentuk represi, tetapi bentuk semangat kekeluargaan). Akhirnya saya datang, dan membuat suara tidak sah. Ini pemilu terburuk karena beberapa minggu sebelumnya kena marah ibu karena memiliki kaos PPP dan ketahuan menyimpan tabloid PRD. Tapi ada yang lucu ketika penghitungan suara. Instead of noblos, ada satu suara yang digunting lambang bintangnya, menicptakan coblosan terbesar :lol:. Petugas KPPS akhirnya menganggap suara itu sah.

PEMILU 1999

Continue reading “Pemilu di Canberra”

Electionist dalam Sistem Presidensial

Banyak pihak memperkirakan angka Golput akan naik pada pemilihan 2009 dengan berbagai alasan, mulai dari kontestasi politik, regulasi hingga kinerja KPU. Faktor yang jarang diperbincangkan tetapi penting berkaitan dengan bosannya pemilih karena terlalu banyaknya pemilihan. Mungkinkah ini menjadi faktor utama tingginya Golput dan bagaimana hubungannya dengan sistem presidensial yang dipakai Indonesia saat ini?

Dalam praktek pemilu di banyak negara, tingkat partisipasi politik dalam pemilu dihitung bukan berdasarkan pada pemilih yang tidak hadir (Golput) tapi dihitung berdasarkan tingkat pemilih yang hadir (voters’ turnout). Munculnya fenomena terbalik di Indonesia disebabkan antitesis atas dominasi Golkar di era 70 an yang tersimbolkan dalam pilihan frasenya: Golput sebagai lawan dari Golkar. Jika di luar negeri pemilu diupayakan untuk meningkatkan jumlah voters’ turnout, di Indonesia pemilu diusahakan untuk menurunkan jumlah Golput.

Tidak dapat dipungkiri, pemilu merupakan elemen terpenting demokrasi. Demokrasi hanya bisa hadir dalam partai politik yang tumbuh bebas yang bertarung dalam pemilu yang jujur (Duverger 1963). Hadirnya institusi pemilu yang mantap juga sangat vital dalam konsolidasi demokrasi. Selain itu, pemilu juga sarana efektif untuk menyalurkan partisipasi politik rakyat dan menjamin terpilihnya elit politik yang sesuai dengan keinginan rakyat. Sejak reformasi, pemilu di Indonesia bisa dikategorikan jujur dan menjadi rujukan kisah sukses terkait dengan konsolidasi demokrasi di negara berkembang.

Continue reading “Electionist dalam Sistem Presidensial”

Berhenti Merokok

Menurut data badan kesehatan PBB, WHO 2004, di tahun 2002 lebih dari 750 ribu orang Indonesia meninggal akibat rokok. Mereka menghabiskan lebih dari Rp 100 triliun dalam setahun untuk membeli lintingan tembakau dan cengkeh itu. Data demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia 2008 menunjukkan, 93 persen pecandu rokok adalah orang dewasa, sedangkan di bawah 20 tahun mencapai 7 persen.

(Tempointeraktif.com diakses tanggal 27 February 2009)

Saya mencoba berhenti merokok setelah 12 tahun rutin memasukkan Tar, nikotin, irritants dls ke paru-paru setiap hari. Rokok saya  (dulu) Sampoerna A Mild warna merah, walaupun sering merokok apapun jika kepepet :razz:. Bila tiap batang AMild mengandung 0.1 mg nikotin, setidaknya sudah 8760 mg terhisap selama 12 tahun dengan 20 batang perharinya. Mengapa saya berhenti merokok dan bagaimana caranya?

Pengetahuan tentang bahaya merokok sudah sangat mudah didapatkan saat ini. Hanya dengan sedikit googling, ribuan artikel tentang bahaya rokok sudah muncul. Dari sekian artikel itu, hampir tidak ada tidak ada penelitian ilmiah yang kontra terhadap bahaya rokok bagi kesehatan. Toh, walaupun pengetahuan telah dimiliki, tak mudah untuk berhenti.

Mengapa berhenti merokok?

Pertama, karena saya ingin berhenti. Ini syarat penting yang harus dimiliki.

Kedua, istri saya benci pada rokok. Kebencian ini meningkat drastis ketika di Canberra. Selama ini, rokok saya diimpor dari Sumedang dan harus membayar cukai import $48 per slop. Tapi hal ini bukan perhitungan matematis semata. Jika hanya mengandalkan hitungan ekonomis, tentu keputusan berhenti merokok sudah datang dari dulu. Berhenti merokok adalah simbol bagaimana mencintai istri lebih dalam daripada mencintai diri sendiri:oops:.

Ketiga, merokok di Australia sangat-sangat tidak nyaman. Di Australia, merokok adalah perbuatan yang lebih buruk daripada drinking. Drinking adalah gaya hidup, merokok adalah kecerobohan hidup. Di Indonesia berbeda. Merokok dipandang sebagai ‘kenakalan’ atau keburukan dengan strata terendah. Waktu di kampung Bogeman, saya sering mendengar ibu-ibu yang mendiskripsikan kenakalah pria 20an tahun dengan berkata: ” Wah, dia itu  baik banget lho, merokok saja tidak.” Jadi, jika seseorang tidak merokok, dianggap alim, baik dan berbudi dan jauh dari Molimo. Tidak sedikit juga (baik laki-laki atau perempuan) yang melihat rokok adalah ekspresi kejantanan laki-laki. Pada sisi yang lain, jika perempuan merokok, dianggap sebagai perempuan terjelek ahlaknya. Nah di Australia, mau merokok sangat repot. Disamping lokasinya yang harus minimal 10 meter dari building, keinginan merokok menjadi siksaan berat hampir di setiap musim. Di musim dingin, keinginan merokok dikalahkan oleh dinginnya suhu yang membekukan jari-jari, di musim panas anda tahu sendiri, mana enak merokok kala cuaca 38 derajat?

Bagaimana berhenti merokok?

Continue reading “Berhenti Merokok”

Ponari

Di Jombang, gara-gara menemukan batu berbentuk belut setelah hampir disambar petir, Dukun tiban Ponari (9 tahun) setiap harinya dikunjungi ribuan orang untuk berobat. Pada hari Minggu 8/2/2009, “pasien” Ponari diperkiran mencapai 30 ribu orang. Hitungan ini didasarkan pada kupon antrian yang dibagikan. Sudah ada empat orang meninggal di lokasi. Saya tergelitik untuk menulis kasus Ponari berkaitan dengan mindset bangsa Indonesia saat ini, terutama berkaitan dengan decision making processes. Jangan-jangan, kita sering salah melangkah karena asumsi dan ekspektasi kita yang keliru dalam melihat sebuah fenomena.

Jika anda sering menonton pertandingan sepakbola Liga Indonesia, anda bisa membayangkan betapa banyaknya angka 30 ribu itu. Dua minggu yang lalu, saya menonton acara Inagurasi Australian of the Year yang diisi antara lain oleh pidato PM Kevin Rudd dan pementasan musik, sehari sebelum Australia Day. Penonton diperkirakan 30 ribu orang. Luar biasa banyaknya angka itu. Dalam hajatan terpenting di Australia ini, “hanya” 30 ribu orang yang hadir. Saya tidak bisa membayangkan jika jumlah itu terkumpul setiap hari.

Sekian banyak orang, berkerumun setiap hari di rumah desa milik orang tua Ponari, tentu bukan kategori Berita Tidak Penting seperti yang ada di posting terdahulu. Politik angka menjadi penting, mengingat angka tersebut bukan hasil dari sebuah rekayasa, tapi hadir dalam sebuah keadaan sadar dan tanpa mobilisasi. Hal ini menunjukkan mindset bangsa Indonesia sekarang ini. Khususnya di bidang kesehatan.

Pembangunan bidang kesehatan menjadi isu penting di seluruh Indonesia. Saya berani menjamin, propaganda para Caleg yang pasti selalu didengungkan adalah penyediaan dan pembenahan di sektor kesehatan. Memajukan Pendidikan dan Kesehatan merupakan dua hal penting yang menjadi tonggak bangsa ini untuk maju. Keduanya merupakan basic public services yang harus dipenuhi pemerintah. Ini asumsi dasar kita orang-orang “rasional”.

Jangan-jangan pengambil kebijakan salah menentukan asumsi. Ternyata, yang dibutuhkan oleh masyarakat Jombang dan Jawa Timur bukanlah modernisasi Puskesmas, dengan menambah unit laboratorium, dokter berpengalaman dan ruangan rawat inap. Yang dibutuhkan ternyata hanya sekedar sebuah sugesti. Kasus Ponari menempeleng pengambil kebijakan khususnya di sektor kesehatan. Masyarakat tidak percaya pada instutusi kesehatan yang dengan susah payah dibangun dengan dana tidak sedikit.

Continue reading “Ponari”

Dunia itu Rata

Iseng-iseng masuk ke situs academicearth.org, ada video kuliah tamu Thomas L Friedman di MIT. Setelah menontonnya, saya langsung membaca bukunya The World is Flat, A Brief History of the Twenty-first Century. Kebetulan, saya tertarik dengan sejarah. Seperti biasa, tidak semua 400 an dibaca, tetapi intisari nya akan dipaparkan dibawah ini.

Friedman, journalist di New York Times tiga kali Pulitzer di tangannya, membagi tiga fase Globalisasi. Globalisasi 1.0 dimulai ketika Columbus membuang sauh (1492) dan selesai sekitar tahun 1800. Globalisasi ini membuat dunia yang tadinya terasa “lebar” menjadi “medium”. Era globalisasi ini dimotori oleh negara dengan semangat imperialisme dan agama atau keduanya. Artinya, seseorang “meng-global” tidak atas keinginan sendiri, tetapi didorong dan difasilitasi oleh negara dengan dua motif di atas tadi.

Globalisasi 2.0, dimulai tahun 1800 dan berakhir tahun 2000, merubah dunia yang tadinya medium menjadi small. Aktor utama Globalisasi 2.0 adalah multinational company. Jika lebih diperinci, Globalisasi 2.0 dimulai dengan perdagangan (atau penguasaan) perusahaan Belanda (VOC) dan revolusi industri. Penemuan kereta, telekomunikasi dan era awal internet menjadi faktor penting Globalisasi 2.0.

Globalisasi 3.0 dimulai sejak tahun 2000 sampai saat ini yang merubah dunia yang sudah small, menjadi tiny. Bentangan jarak ribuan kilometer tidak terasa lagi. Lebih mengesankan, aktor di Globalisasi 3.0 adalah individual. Setiap orang menjadi aktor di Globalisasi 3.0 dan bersaing dengan individu lain di seluruh dunia, lewat jaringan yang semakin canggih.

Continue reading “Dunia itu Rata”

Canberra Warming

Masya Allah. Sudah seminggu ini kami kepanasan. Suhu di Canberra siang hari sekitar 38 derajat C, di malam hari turun menjadi 19 derajat C. Tidak seperti musim panas tahun lalu, tahun ini musim panas memang terasa menyengat. Di Melbourne, suhu sempat menyentuh 43,2 derajat C. Akibatnya, beberapa perjalanan kereta yang melintasi Flinders Station, salah satu stasiun tersibuk, dihentikan karena relnya melting. Begitu juga dengan jaringan Trem.

Seperti sudah saya tulis di posting tentang Daylight Saving, musim panas memiliki sinar matahari yang jauh lebih lama, kira-kira tenggelam jam 9 malam.  Kemarin, kami sekeluarga sempat berkeliling di beberapa toko electronik besar untuk mencari cooler, pendingin udara yang memanfaatkan air. Tapi di seluruh toko tersebut cooler SOLD OUT, diborong Canberrans yang lebih dulu sadar akan “bahaya” panas matahari tahun ini.

Seberapa panaskah suhu 38 derajat itu? beberapa indikasi berikut bisa dijadikan pertanda.

1. Kipas angin tidak berfungsi mengingat angin yang dihembuskan tetap saja “angin panas”. Semakin kencang kipas diputar, semakin pedih muka menerima tamparan hawa panas.

2. Kasur, kursi dan seluruh perkakas empuk-empuk lainnya, walaupun tetap berada di dalam rumah, terasa seperti habis dijemur di bawah terik matahari selama 6 jam. Hawa angetnya, masih terasa di punggung.

3. Jika diparkir lebih dari 1 jam, perlu waktu agak lama untuk bisa langsung menyetir. Tuas setir terasa menyengat di tangan begitu kita menggenggamnya.

4. Margarine roti yang lupa tidak dimasukkan ke kulkas, meleleh seperti jika akan dipakai untuk menggoreng.

5. Hanya butuh satu jam untuk baju menjadi kering setelah diputar di mesin cuci, hanya dengan ditaruh di teras yang teduh.

Huih, Masya Allah, akhirnya, duel Nadal-Federer harus ditonton dengan berkali-kali meneguk air es dari kulkas. Untung masih punya Kulkas , kalau nggak……

Donor Darah di Australia

Donor Darah dimanapun di seluruh dunia intinya kurang lebih sama. Lengan ditusuk dengan jarum suntik yang lubang tengahnya terlihat karena saking besarnya, diambil darahnya 300 cc, diambil sampel darah dan diberi makanan ringan. Jika anda senang donor darah atau seorang penggiat PMI, atau sekedar iseng kesasar di blog ini, pengalaman donor darah di Australia, tepatnya di Canberra berikut ini mungkin bisa menjadi renungan.

Saya pertama kali melihat kemungkinan mendapatkan pengalaman donor darah di Australia melalui mobil keliling yang mampir di parkiran tempat belanja. Setelah itu saya kunjungi situs donateblood.com.au karena pasti disini semua informasi tersedia. Betul saja, disitus itu saya harus mendaftar online dan mereka berjanji akan menghubungi secepatnya. Di dalam situs, juga terdapat info tentang donor plasma.

Dua hari berselang, pihak Red Cross menghubungi dan menanyakan detail tentang beberapa hal yang saya tulis di form, termasuk agenda the first blood donate dan prosedur yang harus diikuti. Saking hati-hatinya, tiga hari kemudian Red Cross kembali menelpon saya dan menanyakan apakah saya sudah dikontak mereka. Saya jawab, saya sudah dikontak dan memiliki agenda untuk donor. Red Cross minta maaf telah mengganggu kenyamanan saya.

Continue reading “Donor Darah di Australia”