Keturunan, Bahasa dan Busana Raja Mataram

Membicarakan Mataram Islam selalu menarik. Dinasti Mataram Islam dimulai ketika Sultan Pajang: Adiwijaya memberikan Alas Mentaok kepada Pemanahan. Sebenarnya hadiah juga diberikan kepada Penjawi yang bersama-sama Pemanahan mampu membunuh Arya Penangsang. Penjawi mendapatkan tanah di Pati. Arya Penangsang dikalahkan dengan strategi yang memanfaatkan birahi kudanya, Gagak Rimang yang memburu kuda Pemanahan yang betina. Konon, Arya Penangsang kalah karena tidak menggenapi sehari lagi tirakatnya. Setelah perutnya robek terkena tombak Kiai Pleret, Arya Penangsang masih melawan dengan mengalungkan ususnya di keris pusakanya. Dia terbunuh ketika mencabut kerisnya untuk menikam Pemanahan yang sudah tak berdaya. Terputuslah ususnya, memutus nyawanya.

Dinasti Mataram, seperti juga dinasti lainnya, selalu berusaha untuk mempertahankan kekuasaannya. Dinasti Mataram menurut Moedjanto (1987) adalah “jarak yang menjadi jat”,  orang kebanyakan yang menjadi raja. Nenek moyangnya adalah petani pekerja keras yang tetap bekerja dikala hujan. Ki Ageng Sela konon bisa menangkap petir dan memenjarakannya di pintu masjid Demak yang mengganggunya ketika bekerja. Oleh karena itu, belajar tentang dinasti Mataram salah satunya melihat keteguhan seseorang sehingga berhasil. Dinasti Mataram merupakan salah satu dinasti yang cukup kuat diterpa perubahan jaman.

Selain dengan penggunaan gelar yang sudah tak mungkin lagi tersaingi, cara lain yang digunakan untuk  mempertahankan kekuasaan dengan banyak hal. Beberapa cara klasik yang dilakukan misalnya dengan penambahan pasukan dan politik perkawinan. Cara lainnya adalah: menciptakan silsilah dan penciptaan bahasa Jawa yang bertingkat dan batik.

Silsilah Raja Mataram

Silsilah ini memegang peranan penting karena kerajaan dibangun dengan pertalian darah sebagai faktor penting, kalau tidak utama. Untuk dapat meneruskan garis keturunan ke bawah yang baik, harus diciptakan garis keturunan ke atas yang baik pula.

Dalam babad dan beberapa literature, Continue reading “Keturunan, Bahasa dan Busana Raja Mataram”

Gelar Raja-Raja Mataram

Tahukah anda mengapa gelar raja-raja Mataram begitu hebat dan luar biasa? Sebelumnya mari kita lihat gelar empat raja Mataram yang tersisa. Sebenarnya tidak empat raja, dua raja dan dua lagi penguasa wilayah. Tapi toh gelar keempatnya mirip-mirip dan luar biasa mentereng, walaupun hanya sebagian dari gelar panjangnya.

Pertama, Sultan Hamengkubuwono yang berarti yang memangku dunia. Artinya, seluruh dunia berada dalam pangkuannya. Kedua, Pakualam, menjadi paku atau sumber atau intisari, tidak hanya dunia, tetapi alam semesta. Ketiga, Mangkunegaran, memangku negara, dialah intisari dari negara. Keempat, Pakubuwono, menjadi paku dunia. Pendeknya, keempatnya menjadi inti dari seluruh dunia dan alam semesta, walaupun realitasnya, kekuasaannya hanya beberapa ratus/ribu hektar dengan supervisi ketat VOC dan Pemerintah Belanda.

Saya membaca buku G Moedjanto (1987) yang berjudul Konsep Kekuasaan Jawa: penerapannya oleh raja-raja Mataram, terbitan Kanisius. Gelar-gelar yang mentereng tersebut menurut Moedjanto karena seluruh keturunan raja Mataram berasal dari petani sehingga dibutuhkan gelar sebagai basis legitimasi kekuasaan. Hal ini dibuktikan dengan gelar Panembahan (yang dipakai Panembahan Senopati) yang sebenarnya bukan gelar untuk golongan ningrat. Juga gelar Ki Ageng (yang digunakan Ki Ageng Pemanahan) yang hanya menunjukkan legitimasi local diantara petani.

Sehingga, keturunan raja-raja Mataram adalah keturunan yang mencoba untuk terus memburu gelar sebagai basis penguat legitimasi kekuasaan. Istilahnya tetap mendapatkan: trahing kusuma, rembesing madu, wijining atapa, tedhaking andana warih. Saat berubah menjadi Mataram Islam, gelar Sultan dipakai karena menunjukkan adanya legitimasi atas Islam yang mulai menyebar. Gelar Sultan dipandang lebih tinggi dari gelar sebelumnya yang pernah ada. Perburuan gelar itu terhenti saat sudah mencapai level yang sudah tidak bisa lagi disamai oleh orang kebanyakan. Jadi perwujudan politik identitas oleh raja-raja Mataram dilakukan dengan menegaskan gelar kebangsawanan yang mustahil disamai oleh bangsawan lainnya.

Keturunan petani ini juga terus dipertanyakan, terutama oleh pemberontak. Trunojoyo, yang memberontak dan berhasil mengusir Amangkurat II dari keraton menghina bahwa keturunan raja Mataram itu ibarat tebu,” Raja Mataram iku dak umpakakake tebu, pucuke maneh cen legiyo, sanadjan bongkote ing mbiyen ya adem bae, sebab raja trahing wong tetanen; angor macula bae bari angona sapi” ( Raja Mataram itu saya umpamakan tebu; masakan ujungnya manis, pangkalnya saja sejak dulunya terasa tawar, sebab raja keturunan petani; lebih baik kalau mencangkul saja sambil menggembalakan sapi) (Medjanto 1987, hal. 84) . Trunojoyo kemudian ditangkap atas bantuan Pangeran Puger dan VOC. Kepalanya konon berada di bawah anak tangga menuju makam Imogiri. Siapapun yang akan berziarah ke Makam Imogiri akan menginjak kepala Trunojoyo.

Perlawanan terhadap raja Mataram bahkan juga dilakukan oleh seorang kepala desa. Namanya Ki Ageng Mangir (perhatikan gelar Ki Ageng Mangir Wanabaya yang mirip Ki Ageng Pemanahan) yang berkuasa di sekitar Kulonprogo, tak terlalu jauh dari pusat kekuasaan. Untuk meredam pemberontakan Mangir, Raja mengutus putrinya untuk menggoda Mangir dengan menjadi seniman keliling. Setelah terpikat, Mangir menikahi putri raja ini. Mangir kemudian dapat dibujuk untuk mengadap raja. Pada saat melakukan sungkem kepada mertuanya, raja menghantamkan kepala Mangir ke lantai. Mangir tewas seketika. Makamnya saat ini ada di Makam Kotagedhe dengan posisi yang paling mudah dikenali. Separuh makam berada di dalam tembok makam, dan separuhnya lagi berada di luar tembok. Jadi makam Mangir pas dibelah di bagian perut, separuh diluar, separuh di dalam. Hal ini untuk menunjukkan bahwa Mangir separuh dianggap sebagai menantu dan separuhnya pemberontak.

Masih menurut Moedjanto, basis petani bagi raja-raja Mataram ini membawa implikasi kekuasaan yang serius. Dalam tradisi petani, seandainya seorang petani memiliki sebidang sawah 10 hektar dengan 5 orang anak, maka biasanya masing-masing anak akan mendapatkan 2 hektar. Hal ini tentu saja tidak bisa dilakukan dalam kerajaan. Hanya putra mahkota yang menjadi pewaris seluruh kekuasaan raja. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya perebutan kekuasaan dalam hampir setiap pergantian raja di Mataram. Dalam proses pelantikan seorang raja, selalu ada orang yang dituakan (tetua kerajaan) yang akan melakukan pemakluman dengan mengatakan, kira-kira begini: “Atas perkenan Raja yang mendahului, putranya ….. menggantikan di atas tahta; maka bula ada yang tidak setuju ayo maju saja, saya yang akan menghadapi” (Moedjanto, hal 29). Belakangan, terutama setelah Amangkurat II (cucu Sultan Agung), VOC dan Belandalah yang melakukan fungsi tersebut.

Dalam sejarah Mataram, Continue reading “Gelar Raja-Raja Mataram”

Dewa19 Terbaik

Ini adalah tulisan pertama kali tentang music. Hari Minggu menjelang Natal di Canberra memang terasa sepi di Kampus, tentu di Canberra Centre memuncak keramaian, tetapi saya menyendiri di kamar UniHouse, membaca buku Koentjoroningrat dan sesekali mendengarkan musik Dewa19 di Youtube, terutama konser reuni Dewa19 Juni 2012.

Bagi saya dan juga banyak orang lain, musik adalah bagian dari nostalgia masa lalu yang tak mungkin diulang kembali. Saat Achmad Dani mengumumkan Dewa19 adalah band nostalgia, bagi saya, Dewa19 adalah band nostalgia sejak tahun 2000.

Sekali lagi, music adalah persoalan nostalgia. Musik disukai karena merupakan milik jamannya. Kebetulan, jaman saya tumbuh menjadi remaja di era 1994 saat masuk ke SMA, Dewa19 mengeluarkan album Format Masa Depan dan setahun kemudian Terbaik. Album terbaik keluar disaat kecintaan pada music memuncak dikala itu. Sehingga bagi saya, album terbaik sepanjang masa adalah album Terbaik milik Dewa19.

Album Terbaik Dewa19 ini menemani salah Continue reading “Dewa19 Terbaik”

Menjadi Mahasiswa Australia (lagi)

Saat mendapatkan beasiswa ADS dan memulai studi di ANU lima tahun lalu, ada seingat saya semuanya mudah karena dua hal. Pertama, ada staff ADS yang membantu dan kedua banyak teman-teman yang satu program sehingga bisa saling mengingatkan.

Hal ini agak berbeda dengan kondisi sekarang, seolah seperti baru saja datang ke Canberra. Banyak hal yang saya lupa, misalnya terkait enrolment untuk kelas (jika ada). Prosedur dan caranya tentu bisa didapatkan dengan mudah di situs kampus, tapi bedanya dulu kami enroll sama-sama untuk pertama kalinya dengan dibimbing dari ADS Staff. Sekarang harus sendirian. Selain itu, karena dulu OSHC atau asuransi kesehatan dibayarkan oleh kampus dan saya hanya terima jadi kartunya, sampai sekarang saya belum beli OSHC. Masalahnya, butuh beberapa hari agar kartu ATM bank dikirim ke alamat rumah, tidak instan seperti di Indonesia. Untuk urusan rekening ini, kita memang lebih cepat.

Urusan lainnya yang cukup menyenangkan adalah bahwa mahasiswa PhD mendapatkan kantor yang bahkan sudah disiapkan sebelum saya datang. Kantor itu tak luas, kira-kira hanya 4×3 meter dan diisi dua orang. Tapi sampai saat ini kantor saya masih sendirian. Disediakan computer baru corei5 Dell dan jaringan internetnya. Hanya saja, saya tak bisa install program, apalagi program bajakan, harus lewat admin kampus. Kantor ini ternyata membantu banyak hal. Kalau dulu saat master gak ada kantor, repot juga harus nenteng buku perpustakaan kesana-kemari ditambah reading brick yang cukup tebal. Sekarang, masih leluasa tanpa tas ke perpus, karena ditinggal di kantor, jadi ada ruang transit yang ternyata sangat bermanfaat.

Saya juga mengalami hal lain yang seru yaitu tinggal di asrama mahasiswa. Kebetulan saya menggantikan (sublet) kawan dari Indonesia yang menengok istrinya ke Amerika selama dua bulan, kamarnya sementara saya pakai. Asrama ini ada di University House yang tidak ditawarkan secara online dalam pemilihan akomodasi kampus. UniHouse memiliki sekitar 200 kamar yang disewakan untuk tamu Universitas dan 61 kamar yang khusus disewakan untuk mahasiswa PhD. UniHouse dibangun tahun 1960 dan mengalami perbaikan di sana-sini. Di ANU, asrama favorit adalah Graduate House yang letaknya disamping UniHouse. Di GH, mahasiswa master boleh tinggal. Selisih harga keduanya tidak terlalu jauh, kalau UniHouse $22 / hari, di GH sekitar $23/hari.  Selain di GH dan Unihouse, ada beberapa bangunan lain misalnya ToadHall, tempat dulu saya tinggal dan yang baru:Unilodge.

Unilogde uni harganya bisa dua kali harga di GH karena bangunannya yang baru dan memang market yang disasar adalah mahasiswa atau professional yang bekerja di City Centre. Harganya minimal $275 per minggu (UniHouse hanya $172 perminggu setelah Utilities).

 Satu hal yang terulang adalah menjadi penghuni asrama yang semuanya bekerja dengan system sharing. Kamar mandi, toilet, dapur, dll harus sharing. Saat sharing, kita harus ingat akan kepentingan dan kebutuhan orang lain.  Kalau biasanya agak jorok, harus pintar menjaga diri karena kita tak ingin kejorokan orang lain juga mengenai kita. Disini hidup mahasiswa dari 5 benua dengan karakter yang tentu saja jauh berbeda, belum kita bicara agama, kebiasaan dan kulturnya. Menariknya, aturan yang tegas dan tempelan dimana-mana untuk menjaga toleransi ternyata mampu menyamakan kepentingan 5 benua itu dalam satu konsep: memikirkan orang lain.

Memikirkan orang lain ini bisa membuat orang Continue reading “Menjadi Mahasiswa Australia (lagi)”

Mengulang Sejarah IALF

Pagi 17 Desember 2012, adalah hari yang mendebarkan karena sore harinya  saya akan kembali lagi ke Canberra untuk study PhD. Ada dua hal yang harus saya lakukan hari itu. Pertama lapor ke Dikti di Gedung D lt. 5 untuk mengabil berkas yang harus di cap di kedutaan di Canberra dan kedua mengambil paspor di IDP Kuningan karena proses pengurusan visa dibantu IDP.

Urusan di Dikti relative lancar dan saya mendapat teman baru disana, dosen dari Unipa Manokwari yang juga alumni MAP UGM. Urusan mengambil paspor ini yang menarik. Setelah turun di halte TransJakarta Karet, saya naik ojek ke Kuningan. Entah bagaimana, tukang ojek ini tidak melewati jalan besar tapi menyusuri gang-gang dan jalan di Karet Belakang (Karbela) untuk sampai di Setiabudi Kuningan dimana IDP berada. Tukang ojek ini juga melewati Karbela 2, jalan (tepatnya gang) dimana lima tahun lalu saya menghabiskan 8 minggu untuk persiapan ke Australia.

Tukang Ojek ini seperti tahu persis sejarah hidup saya. Dia menyusuri jalan yang persis sama yang setiap hari saya tempuh menuju IALF. Dulu lokasi IALF adalah di sebelah IDP sebelum pindah beberapa meter mendekati kedutaan Australia. Saya memutuskan untuk turun di belakang Setiabudi One dan berjalan menyusuri kembali rute Karbela-IALF, melintasi jembatan penyeberangan dan sampai di Wisma Budi.

Setelah urusan Paspor beres, saya menengok ke bekas IALF yang saat ini digunakan sebagai kantor perusahaan swasta. Saya sempatkan juga turun di bawah, dan menyusuri basement yang sangat akrab. Terbayang jelas kenangan lima tahun lalu dimana kawan-kawan saya di 8w1 (2007) yang berlanjut sampai sekarang.

Seolah, perjalanan singkat ini adalah flashback persiapan ke Australia yang kedua kalinya. Sebuah pengalalan singkat yang menyenangkan.

Daftar Beasiswa Luar Negeri Dikti Yuk…

(13/8/2013) Karena populernya posting ini, saya perlu menambahkan beberapa hal penting di depan tulisan sebagai peringatan:

Pertama, sejak 2012 dana beasiswa yang semula disalurkan melalui universitas, diberikan langsung ke mahasiswa. Akibatnya, penerima beasiswa dari UGM tidak bisa mendapatkan dana talangan di tiap semester. Hal ini menyebabkan beasiswa selalu datang terlambat. Untuk tahun 2013 misalnya, beasiswa yang seharusnya datang bulan Januari baru masuk bulan April. 

Kedua, dari forum di milis dan berita, kemungkinan besar penyebab keterlambatan beasiswa ada dua: dibutuhkan kerjasama tiga kementrian agar dana bisa turun. Untuk kasus 2013, anggaran Kemediknas diberi bintang di DPR sehingga beasiswa tidak bisa turun tepat waktu. Kedua kinerja birokrasi di Dikti berikut lembaga outsourcingnya. 

Ketiga, dampak dari keterlambatan ini sangat banyak, mulai dari kesulitan hidup mahasiswa sampai tertutupnya akses ke perpustakaan dan sistem IT kampus yang bervariasi di berbagai universitas dan negara.

Oleh karena itu, sebelum anda menerima beasiswa DIkti, anda harus memastikan: anda punya tabungan yang cukup untuk hidup di luar negeri selama empat-lima bulan, atau anda bernegoisasi dengan pimpinan universitas untuk mendapatkan dana talangan selama masa tersebut. 

Tahun 2012 ini saya adalah penerima beasiswa pemerintah Indonesia yang disalurkan melalui Dikti. Banyak yang bertanya kenapa saya mendaftar beasiswa ini yang menurut banyak orang tidak kompetitif, banyak kekurangan dan dana yang minim. Padahal saya adalah mantan penerima beasiswa ADS yang sedikit banyak tahu seluk-beluk beasiswa dan sering ditanya tips lolos ADS.

Jawabannya tak mudah. Pertama, mulai tahun 2012, ADS mensyaratkan 4 tahun bagi mantan pelamar ADS untuk melamar kembali yang dihitung sejak cap kepulangan ke Indonesia. Saya pulang 13 Desember 2009 yang berarti baru bisa mendaftar untuk ADS 2014 atau bukaan dua tahun lagi. ADS akan mengumumkan shortlisted pada Desember 2014 dan kandidat yang dipilih pada Januari 2015. Paling cepat berangkat Juli 2015 atau molornya Januari 2016. Terlalu lama untuk usia yang semakin tua. Kedua, beberapa skema beasiswa lainnya, misalnya Endeavor, ALA, IPRS. Saya sudah mencoba ALA dan waktu itu bersamaan mendaftar Dikti. Waktu ALA, skor IELTS saya sudah kadaluarsa dan terlambat diberikan, walau sudah diemail untuk segera melangkapinya. Untuk Endeavor dan IPRS saya belum sempat daftar. Ketiga, beasiswa Dikti ini sangat bagus tapi miskin peminat. Mungkin rejeki saya disini. Ini yang akan saya tulis.

Beasiswa Luar Negeri Dikti adalah beasiswa paling mudah didapatkan untuk Dosen baik di Universitas negeri ataupun Swasta. Syaratnya ada beberapa disini, tetapi intinya cuma tiga: Skor bahasa Inggris mencukupi, diterima di sekolah pilihan di luar negeri dan mendapatkan ijin bagi pimpinan. Ini syarat yang mudah dibandingkan beasiswa lainnya.

Sayangnya target dan jumlah penerima BLN Dikti tiap tahun terus turun. Awalnya ditargetkan Indonesia bisa mengirimkan dosen untuk sekolah Master dan Doktor 1.000 orang per tahun. Dalam dua sampai empat tahun, Indonesia akan mendapatkan 1.000 dosen Master atau Doktor baru. Harapan tinggal harapan karena kenyataannya tidak banyak dosen yang memenuhi kualifikasi yang sebenarnya mudah tersebut. Ibaratnya, panitia beasiswa BLN Dikti sampai harus hunting untuk mencari calon penerima beasiswa. Hal ini tentu juga dialami penyelenggara beasiswa yang lain, demi mendapatkan calon penerima beasiswa. Hanya saja, beasiswa lain masih menyeleksi dari ribuan berkas yang memenuhi syarat, penyelenggara BLN Dikti mencari seribu yang memenuhi syarat saja sulit. Berikut Statistiknya yang dapat dilihat di http://studi.dikti.go.id

Seandainya ijin atasan diberikan, dua tantangan lain adalah Bahasa dan Acceptance Letter (disebut Offer Letter atau sebutan lain). Mari kita urai keduanya.

Untuk bahasa, misalnya Inggris, memang tak ada jalan lain kecuali secara serius mempersiapkan diri dengan belajar bahasa. Mahasiswa tak akan pernah bisa belajar kalau tak mengerti apa yang disampaikan dosen, tak bisa berbicara dalam bahasa yang dipakai dan tak faham bacaannya. Jika tak faham ketiganya, mana mungkin akan mampu menulis?

Jangan pernah membayangkan menjadi turis di negara tempat kita belajar, yang ada guidenya, ditunjukkan jalan kalau tersesat. Kalau hanya menjadi turis, tentu tak perlu belajar bahasa lokal. Tapi anda akan hidup dalam kehidupan yang berbeda dengan di Indonesia (kecuali Malaysia). Jadi bahasa adalah modal penting, tanpa itu, lupakan impian belajar di luar negeri. Sekali lagi lupakan.

Tentang LoA, ini juga sebenarnya mudah. Institusi pendidikan di Luar Negeri sebenarnya membutuhkan kita sebagai mahasiswa Internasional untuk mendongkrak reputasi dan ranking internasional mereka dan mendapatkan dana yang tidak sedikit.  Mahasiswa asing biasanya membayar lebih mahal dari mahasiswa lokal yang mendapatkan subsidi pemerintah. Tentu, tidak semua negara demikian. Jika anda bersekolah di Jerman, biaya sekolah Doktor di Jerman hanya 130 an Euro per semester, jauh lebih murah daripada di UGM :razz:

Cara mendapatkannya juga tak terlalu sulit, berikut langkah singkatnya untuk Doktor dan Master by Research with reference to Australian cases. Continue reading “Daftar Beasiswa Luar Negeri Dikti Yuk…”

Koruptor Pun Menjelma Jadi Singa

Opini KOMPAS, 16 November 2012

Download versi JPG disini

Download Kartun Panji Koming 18 November disini

Mungkin sudah saatnya perumpamaan koruptor dengan tikus diganti.

Selain tak tepat, personifikasi tikus cenderung menyesatkan, terutama bila dikaitkan peristiwa-peristiwa terakhir. Koruptor lebih tepat diibaratkan singa yang berkuasa. Tikus dipersonifikasi sebagai binatang kecil, mencuri remah-remah dan akhirnya lari terbirit-birit saat kepergok manusia. Dengan sapu tikus bisa diusir, dan dengan jebakan tikus bisa dimusnahkan.

Namun, koruptor di negeri ini sama sekali tak mirip dengan personifikasi tikus. Koruptor tak mencuri sisa ikan di tempat sampah, tetapi mengambil porsi utama di meja makan, bahkan di dapur yang belum sempat dihidangkan. Jebakan, seandainya tertangkap, toh hanya sementara. Setelah satu atau dua tahun, koruptor tetap dipromosi menduduki posisi penting sebagai kepala dinas, yang membawahi ratusan bahkan ribuan birokrat.

Jika tikus langsung lari ketika ada suara gerakan kaki manusia, tak demikian dengan koruptor Indonesia. Tak seperti di negara lain, koruptor Indonesia malah menggelar konferensi pers dengan kepala tegak, dengan jas mahal yang dibeli dari hasil korupsi. Didampingi pengacara- pengacara top, yang membentuk tim dengan spesifikasi tugas yang rumit, koruptor kita siap menghadapi proses hukum.

Jika koruptornya perempuan, tiba-tiba hadir dengan jilbab besar dan cadar. Cadar yang selama ini sering dipakai penganut Islam taat di Timteng berubah jadi pakaian utama koruptor perempuan. Lagi-lagi, tetap didampingi tim pengacara andal. Jika lari ke luar negeri, koruptor kita pun tak malu-malu menggelar konferensi pers. Pernyataannya ditayangkan berulang-ulang di stasiun televisi, dianggap sebagai kebenaran.

Jika koruptor yang dibidik adalah orang penting dalam institusi dengan semangat korps kuat, perlawanannya berubah jadi institusional. Akibatnya, proses antikorupsi yang awalnya menyasar oknum berubah jadi konflik antarinstitusi. Lagi-lagi dengan kerumitan hukum yang tak dimengerti oleh masyarakat.

Jika Polri menuntut KPK dan katakanlah menang, tak jelas dana dari mana untuk membayar ratusan miliar rupiah tuntutan. Baik KPK maupun Polri dibiayai oleh APBN. Lalu apakah akan terjadi perputaran uang dari APBN di KPK ke APBN Polri? Lalu, apakah Polri menjadi punya tambahan dana dari keberhasilannya menuntut KPK?

Jika ini benar terjadi, seluruh institusi—termasuk 530 lebih daerah otonom—akan punya alternatif baru menambah anggaran, yaitu menuntut daerah lain. Ratusan konflik perbatasan antardaerah dapat jadi alternatif pundi-pundi anggaran, selain pemasukan daerah dari pendapatan asli daerah. Daerah tak perlu lagi lobi ke pusat untuk menaikkan anggaran. Semua bisa dilakukan melalui proses hukum. Bukankah Indonesia negara hukum? Jadi, semuanya bisa dicapai dengan hukum, termasuk menambah anggaran. Ini tentu berbahaya.

Kita jadi kehilangan semangat berbangsa dan bernegara. Indonesia raya mengerdil menjadi institusi, institusi kita. Itulah yang sekarang dipraktikkan Polri sebagai penegak hukum di Indonesia ketika menggugat KPK.

Rasional dan institusional

Koruptor di negeri ini sudah menjelma kuasa. Terlalu lama tikus-tikus itu dibiarkan sehingga tak hanya menguasai keranjang sampah dan sisa remah-remah, tetapi dia sudah menguasai seluruh rumah. Koruptor itu jadi tuan di rumah Indonesia setelah setahap demi setahap menguasai dapur, meja makan, ruang keluarga, kamar, dan ruang tamu.

Koruptor berpikir dengan sangat rasional. Mereka mengalkulasi untung-rugi melakukan korupsi. Jika risiko korupsi (jika tertangkap) lebih kecil dibandingkan keuntungan yang didapat, korupsi terus terjadi. Biaya modal yang diperhitungkan koruptor adalah biaya pengacara, kepala rutan agar bisa izin berobat, hakim, dan jaksa. Beda ceritanya jika hukuman koruptor adalah hukuman mati. Berapa pun keuntungan korupsi, tak ada gunanya jika toh akhirnya mati.

Institusi-institusi telah dikuasai koruptor yang menciptakan pola kerja institusional yang mendukung korupsi. Mereka yang tak terlibat akan terlihat aneh dan unik dan menyalahi norma korupsi yang telah menjadi norma institusi. Masyarakat antikorupsi kemudian tersingkir dan terus coba merebut kembali rumah Indonesia yang telah dikuasai tikus-tikus pemimpin yang menjelma singa kuasa. Usaha ini tidak mudah, tetapi akan terus dikenang sejarah.

Indonesia pernah punya cerita indah pemimpin yang tak mengeruk keuntungan pribadi. Bung Hatta tak memberi tahu Bu Rahmi tentang kebijakan sanering sehingga uang yang dikumpulkan jadi tak cukup membeli mesin jahit. Bung Karno, ketika di luar negeri, pernah berurusan dengan ongkos taksi yang jumlahnya tak besar. Sudah saatnya kita singkirkan tikus-tikus kuasa dari rumah Indonesia.

Bayu Dardias Ketua Klaster Penelitian Governance dan Korupsi, Jurusan Politik dan Pemerintahan, Fisipol UGM

Keistimewaan Ibadah Haji

Semua orang tahu bahwa haji adalah salah satu pilar dalam rukun Islam. Pilar lainnya adalah syahadat, sholat, zakat dan puasa. Mengapa haji adalah ibadah yang istimewa? Ada beberapa alasannya:

Pertama, ibadah haji, tidak seperti keempat pilar yang lainnya, hanya wajib dikerjakan sekali seumur hidup. Saat Nabi Allah ditanya apakah ibadah haji dilakukan setiap tahun, beliau menjawab jika dilakukan tiap tahun, kita tak akan sanggup. Apa konseuensinya? Artinya, tahun 2012 ini ada sekitar 4 juta manusia yang datang ke Baitullah dan melakukan ibadah untuk pertama kalinya, hanya sedikit yang mengulang. Anda ingat kapan pertama kali anda Sholat? Apakah anda hafal seluruh bacaan sholat ketika melakukannya untuk pertama kali? Artinya, orang yang berhaji harus tahu betul rukun dan wajib haji untuk dapat melakukan haji dengan baik, karena kemungkinan untuk mengulanginya lagi, bagi kita orang Indonesia, tidak mudah. Jika sholat kita lupa bacaan, masih bisa diulang, tidak demikian dengan haji.

Di majelis-majelis taklim, sangat sering dibahas tentang tauhid, sholat, zakat dan perpuasa. Setiap tahun di bulan Ramadhan, kita selalu diingatkan untuk menjalani puasa sehingga tidak hanya lapar dan dahaga saja. Tetapi, tidak mudah mencari majelis taklim yang membahas tentang haji. Bahkan saking sulitnya, pembahasan dan majelis taklim tentang haji yang bartajuk Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH), harus disertifikasi Kementrian Agama. Itupun seringkali harus membayar.  Majelis taklim yang membahas manasik menjelma menjadi ladang bisnis baru, karena pesertanya dianggap cukup secara materi.

Kedua, ibadah haji istimewa karena melibatkan seluruh anugerah Allah yaitu raga dan materi. Sholat, puasa hanya melibatkan raga sedangkan zakat melibatkan materi. Ibadah haji butuh pengorbanan dua-duanya. Pengorbanan raga dilakukan dengan menjalankan prosesi fisik dalam lima atau enam hari yang berpindah di enam lokasi mulai Mekkah, Mina, Arafah, Muzdalifah, kembali lagi ke Mekkah dan Mina. Pengorbanan materi tentu tak perlu lagi diragukan. Bagi orang Indonesia, yang dianugerahi hidayah Allah perjalanan haji berbiaya besar. Tahun 2012 biaya haji regular sekitar USD $ 3300 dan untuk haji khusus minimal USD$ 7000.  Dengan pendapatan rata-rata orang Indonesia yang hanya USD $ 4000 an setahun, pergi haji adalah proses panjang menabung (sekarang berhutang) dan lama.

Ketiga, ibadah haji adalah satu-satunya ibadah yang mensyaratkan kehadiran fisik di lokasi yang spesifik dalam waktu yang spesifik. Inti ibadah haji adalah wuquf di Arafah pada tanggal Islam 9 Dzulhijjah pada Dzuhur sampai Magrib yang menandai perpindahan tanggal ke 10 Dzulhijjah. Jika Jemaah haji tidak wuquf di Arafah, dia harus mengulang ibadah hajinya. Oleh karena itu, Pemerintah Arab Saudi sengaja membuat rumah sakit di Arafah hanya untuk memastikan yang sakit tetap mendapatkan hajinya.  Ini berbeda dengan pilar lainnya yang bisa dilakukan di mana saja di seluruh muka bumi Allah.

Keempat, ibadah haji adalah satu-satunya pilar yang untuk beribadah harus mengantri bertahun-tahun dengan administrasi yang rumit. Beribadah saja mengunggu giliran. Dengan program talangan haji dan peningkatan ekonomi masyarakat Indonesia, antrian semakin lama saja. Jemaah baru akan mendapatkan nomor antrian ketika menyetorkan sejumlah uang sekitar USD $ 2500. Kalau dulu Jemaah mendapatkan nomor antrian karena menabung, sekarang ada program talangan yang dibayari dulu oleh bank dan jamaah mengangsur. Karena setelah mendapat nomor tidak langsung melunasi dan berangkat. Jeda waktu inilah yang dimanfaatkan oleh bank untuk membuat program talangan. Ibadah yang lain anda bisa lakukan kapanpun anda mau. Berzakat misalnya, sekarang semudah mengirim SMS lewat mobile banking.

Karena ibadah haji adalah istimewa, kita harus mempersiapkannya secara istimewa juga.

Harga Nyawa Manusia

Bagaimana kesan anda membaca berita berikut yang saya ambil dari Harian terbesar di Jawa Barat Pikiran Rakyat ?

Mayat Diduga Korban Pembunuhan Ditemukan Warga Cimalaka Sumedang

Selasa, 21/08/2012 – 19:35

SUMEDANG, (PRLM).- Sesosok mayat laki-laki tanpa identitas, ditemukan warga tergeletak di sekitar mata air dalam kondisi bersimbah darah. Diduga, mayat tersebut korban pembunuhan.

Mayat itu ditemukan Ny. Enok (64) warga sekitar di Dusun Cikandung RT 04/RW 02, Desa Nyalindung, Kec. Cimalaka, Selasa (21/8) pagi. Enok menemukannya ketika akan mengambil air di mata air tersebut.

Adapun ciri-ciri korban, antara lain rambut lurus, kulit sawo matang, memakai jaket parasit hitam, celana jeans warna telur asin, sandal gunung motif loreng.

Selain itu, korban mengenakan gelang dan kalung rantai, cincin perak di jari tangan kiri serta di tangan kiri dan kanannya terdapat tattoo.

“Mayat korban sudah dibawa ke RS Hasan Sadikin Bandung untuk diautopsi,” kata Kasat Reskrim Polres Sumedang, Ajun Komisaris Suparma ketika dikonfirmasi di mapolres, Selasa (21/8).

Ia mengatakan, ketika ditemukan, mayat laki-laki berumur antara 25 sampai 30 tahun itu, dalam posisi tengkurap di sekitar mata air. Di sekitar dadanya, bersimbah darah akibat luka tusukan senjata tajam (sajam).

Di bagian dada kirinya terdapat dua luka tusukan dan dada kanannya satu luka tusukan. “Dengan luka tusukan senjata tajam tersebut, dugaan sementara korban ‘Mr X’ ini, tewas akibat dibunuh,” kata Suparma.

Hingga kini, lanjut dia, pihaknya masih menyelidiki kasus tersebut. Hanya saja, petugas menemui kesulitan dalam menyelidiki dan mengungkap kasus itu karena mayat korban tidak diketahui identitasnya.

“Karena tidak ada identitasnya, sehingga kami sulit untuk mencari keluarganya sekaligus mengungkap motif atau penyebab kasus pembunuhan ini. Apakah ada permasalahan atau konflik? kita juga belum tahu. Di sekitar TKP (Tempat Kejadian Perkara) pun, tidak ditemukan barang bukti senjata tajam,” kata Suparma.

Ia menambahkan, kronologis penemuan mayat itu, berawal ketika Ny. Enok hendak mengambil air di sekitar mata air di Dusun Cikandung. Saat mendekati mata air, dia langsung terperanjat karena melihat ada sesosok mayat tergeletak di sekitar mata air.

Tanpa basa-basi, saat itu juga Enok langsung memberitahukan kepada aparat RT dan RW setempat. Mendengar informasi itu, aparat setempat bersama warga melaporkan ke kantor Polsek Cimalaka dan Polres Sumedang. “Mendapat laporan ini, anggota kita langsung meluncur ke TKP,” tuturnya. (A-67/A-89)

Ini adalah berita biasa yang menghiasi surat kabar kita hampir setiap hari.  Karena saking seringnya membaca berita ini, nurani kita menjadi tumpul. Saya akan menambah beberapa informasi tentang korban.

Mr. X yang dimaksud di berita tersebut bernama Erwin, umurnya 18 tahun. Erwin merupakan adik kembar yang dilahirkan beberapa menit setelah Erik. Jika anda tak terbiasa melihat kedunya, akan sulit membedakannya. Keduanya (mungkin karena kembar) memakai baju dan gaya yang relative mirip, kalung rantai dan gelang dan rambut lurus yang sedikit acak-acakan. Orang-orang kembar memang selalu menarik untuk diamati. Konon, mereka berbagi nasib. Sayangnya, takdir Erwin keburu dirampas ketika dirinya masih terlalu muda.

Erwin dan Erik tinggal 50 meter dari pabrik penggilingan beras milik mertua di Cibereum Sumedang. Sejak SD keduanya sering bermain di halaman pabrik yang berfungsi sekaligus sebagai penjemuran padi. Selepas SMP orangtuanya tak mampu membiayai sekolah mereka berdua. Mereka yang tidak meneruskan sekolah masih banyak di negeri ini. Tetapi di Jawa Barat, terutama di Sumedang menjadi fenomena yang agak umum. Memprihatinkan memang, tetapi itulah yang terjadi.

Karena keduanya sering bermain di pabrik selepas keluar sekolah, mereka akhirnya bekerja di UKM mertua. Tak ada rekruitmen, hanya bermain dan akhirnya bekerja. Erik bekerja di Rumah Potong Hewan dan Erwin bekerja menjadi kernet Backhoe di penambangan pasir. Tugas Erwin adalah membantu operator Backhoe memastikan Backhoe bekerja optimal, termasuk melumasi bagian-bagian Backhoe dengan olie. Erwin bekerja begantung shift dan Erik bekerja terutama malam untuk stok daging sapi di pasar pagi hari. Continue reading “Harga Nyawa Manusia”

Peraturan KPU ttg Verifikasi Parpol

Tiga minggu lalu, tepatnya tanggal 5 Juli saya diundang KPU RI untuk memberi masukan terkait Peraturan KPU tentang Verifikasi Partai Politik peserta pemilu 2014.

Rancangan PKPU dapat didownload disini.

Masukan saya dapat didownload disini.

 

Beritanya dapat dibaca sebagai berikut

Konsultasi Publik KPU Asal-Asalan

Nina Susilo

JAKARTA, KOMPAS.com- Konsultasi publik atas naskah peraturan yang akan diterbitkan KPU terkesan sekadar formalitas. Undangan disampaikan mendadak, perwakilan masyarakat yang hadir pun minim.

Konsultasi publik atas naskah Peraturan KPU tentang Pedoman Pendaftaran dan Verifikasi Partai Politik Peserta Pemilu Anggota DPR, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota, Kamis (5/7/2012) di kantor KPU, hanya dihadiri empat wakil masyarakat. Mereka adalah Andrinof Chaniago dari Cirrus Surveyor Group, Dodi Armadi Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia, Wawan Ichwanudin dari Universitas Indonesia, dan Bayu Dardias dari FISIP Universitas Gadjah Mada.

Anggota KPU yang hadir dalam acara itu adalah Ida Budhiati, Ferry Kurnia Rizkiyansyah, Arief Budiman, Sigit Pamungkas, dan Juri Ardiantoro.

Menurut Arief, KPU mengundang 50 orang perwakilan masyarakat, baik dari lembaga swadaya masyarakat pemerhati pemilu, akademisi, dan organisasi masyarakat. Namun, menurut Wawan, email undangan konsultasi publik baru diterima kemarin.

Karena sangat sedikit yang hadir, konsultasi publik pun molor dari seharusnya dimulai jam 14.00 menjadi 15.00.

Selain itu, hasil konsultasi publik tidak bisa diakses masyarakat untuk dikritik kembali. Peraturan KPU hanya bisa diakses masyarakat melalui situs KPU setelah ditetapkan.

Menakar Otonomi Khusus Aceh dan Papua

Dimuat di Opini Kompas, 3 Juli 2012. Tulisan dapat didownload disini. Versi PDF disini

Membaca di situs asli Kompas disini

Salah satu cara untuk melihat gagal-berhasilnya desentralisasi asimetris yang dilekatkan ke Papua sejak 2001 dan Aceh sejak 2008 adalah dengan mengukurnya dengan kacamata kesejahteraan.

Kesejahteraan dilihat dari beberapa aspek dasar -pendidikan dan kesehatan-. serta design dan praktek kewenangan, kelembagaan dan keuangan yang melekat dalam Otonomi khusus. Kesejahteraan diletakkan sebagai tujuan akhir, sementara otsus merupakan upaya mencapainya.

Desentralisasi asimetris yang dikenal dengan sebutan otonomi khusus dan daerah istimewa, merupakan pola relasi unik antara pemerintah pusat dan daerah karena sebab-sebab khusus. Sebuah daerah menerima wewenang, lembaga dan keuangan yang berbeda dengan mayoritas daerah lain. Pola relasi ini lazim terjadi dalam negara kesatuan. Indonesia mempraktekkannya sejak 1950 yang mengatur tentang Yogyakarta.

Hanya saja, asimetrisme yang telah diberi ruang dalam semua konstitusi yang pernah berlaku di Indonesia tidak menunjukkan perkembangan berarti pada masa Orde Baru. Tuntutan asimetrisme menguat sebagai alternative sejak reformasi.

Penelitian Jurusan Politik dan Pemerintahan UGM dengan Yayasan TIFA (2009) mengindikasikan setidaknya terdapat lima model daerah yang kedalamnya dapat dilekatkan asimetrisme. Kelima model tersebut adalah model yang didasarkan atas pertimbangn konflik dan separatisme (Aceh dan Papua), pengembangan ekonomi (Batam), perbatasan (Kalbar), kultural (Yogyakarta) dan ibukota negara (DKI Jakarta). Hal ini didasarkan atas asumsi bahwa karakteristik Indonesia yang beragam akan sulit hanya diwadai dengan satu pola relasi pusat-daerah yang seragam.

Upaya mengukur kesejahteraan dapat dibaca pada tiga indikator yaitu kewenangan, kelembagaan dan keuangan. Karakteristik geografis, sejarah, kultur dan karakter individu yang berbeda antara Aceh dan Papua diasumsikan sudah terwadahi dalam UU 21/2001 untuk Papua dan UU 11/2006 untuk Aceh. Salah satu amanat penting dalam perumusan kedua UU tersebut adalah akselerasi pembangunan. Idealnya, UU Otsus dan turunannya yang bermuara kepada kesejaheraan, harus memberikan kewenangan khusus, kelembagaan khusus dan keuangan khusus.

Di tingkat provinsi, penggunaan kekhususan yang terwujud dalam regulasi daerah harus dilihat agar tidak melenceng dari tujuan peningkatan kesejahteraan. Hal ini terutama dilihat dari pola relasi provinsi-kabupaten/kota. Otsus diletakkan di level provinsi. Ia tak hanya menciptakan hubungan yang berbeda antara Jakarta-provinsi tetapi juga provinsi-kabupaten/kota.

Regulasi yang berwujud perdasus dan perdasi di Papua dan qanun di Aceh dipandang sebagai upaya praktek desentralisasi asimetris dan pengejawantahan otsus. Dengan tiga indikator itu, perbandingan otsus Aceh dan Papua sangat dimungkinkan.

Aceh dan Kesejahteraan

Otsus Aceh menemukan titik ideal dalam UUPA 11/2006 setelah sebelumnya sempat berusaha menemukan pola sejak awal reformasi melalui TAP MPR IV/1999 yang diwujudkan dalam UU 18/2001. Pada pelaksanaan UU sebelumnya, Otsus Aceh tak berjalan dengan baik karena konflik bersenjata masih tinggi dan masalah identitas belum tuntas. Hal ini terasa sangat berbeda dengan pelaksanaan UUPA yang disepakati semua pihak. Sekitar 87 persen kesepakatan dalam MoU Helsinki tercantum dalam UUPA dengan beberapa penyesuaian.

Keberhasilan terbesar pelaksanaan otsus Aceh adalah tertransformasinya kekuatan GAM dalam struktur pemerintahan modern dalam NKRI. Seluruh elemen sepakat bahwa UUPA adalah titik pijak untuk menciptakan Aceh yang sejahtera. Tak ada lagi yang menginginkan kondisi sebelum UUPA.

Pertarungan politik yang terjadi di Aceh antarfaksi yang semula bersatu di bawah GAM adalah sebuah fenomena wajar seperti juga terjadi di provinsi lain. Kisah sukses Pilkada Gubernur Aceh menunjukkan bahwa terjadi proses yang baik dari masyarakat konflik ke masyarakat demokratis. Pertarungan tidak lagi dilakukan di gunung dengan senjata di bahu, tetapi melalui bilik suara.

Dari sisi kewenangan, pemerintah pusat lalai memberikan PP yang menjadi turunan UUPA, terutama terkait dengan pengelolaan sumber daya. Rakyat Aceh menunggu PP tentang Badan Pertanahan Nasional Aceh yang menjadi bagian dari Pemerintah Aceh yang berbeda dengan provinsi lain. PP yang seharusnya diterbitkan tahun 2008 sampai sekarang belum ada drafnya. Isu lain yang ditunggu terkait dengan migas dan kehutanan. Muncul kesan kuat Otsus yang dijanjikan mirip dengan analogi kepala dilepas, ekor tetap dipegang. Terggangulah upaya percepatan kesejahteraan.

Continue reading “Menakar Otonomi Khusus Aceh dan Papua”

Musikal Laskar Pelangi dan Perilaku Kita

Tiga jam lalu saya menonton Musikal Laskar Pelangi di JEC Yogyakarta. Saya bukan pengamat seni, tetapi penikmat seni.  Kalau anda bertanya bagaimana musical tersebut, saya justru balik bertanya “Apakah  ada yang bisa menghadirkan yang lebih baik apabila Jay Subiakto, Riri Reza dan Mira Lesmana dan Erwin Gutawa berkumpul menjadi satu?” I was not watching a performance, I was watching a masterpiece.

Tetapi bukan review seni yang saya ingin bagi disini, tetapi perilaku sebagian besar dari kita yang tidak mencederai karya masterpiece ini, dimulai oleh promotor. Sayang sekali pertunjukan kemarin dibatalkan karena ketidakprofesionalan Rajawali Indonesia sebagaimana tertulis di website Musikal Laskar Pelangi sebagai berikut:

Tapi dikarenakan ketidaksiapan, atau ketidak-profesional-an dari pihak promotor Rajawali Indonesia, yang telah mengundang tim Musikal Laskar Pelangi, dimana ternyata sampai kemarin tidak melaksanakan tanggung jawabnya dalam penyediaan panggung untuk pementasan kami, termasuk pendanaan, pengadaan lighting, sound system, ruangan, sesuai jadwal yang dijanjikan, sehingga kami tidak dapat melakukan persiapan di atas panggung sesuai rencana, maka dengan sangat menyesal kami tidak dapat tampil di hari Jumat tanggal 25 Mei 2012 ini kehadapan publik Yogyakarta.

Nah, dampaknya ada di tiket saya 26 Mei 2012 yang kemudian menjadi penonton pertama dari Musikal Laskar Pelangi di Yogyakarta. Salah satu tips untuk penonton performance atau teater adalah menonton tidak pada kesempatan pertama. Tips ini didapatkan dari hobi  menonton Teater Garasi di Lembaga Indonesia Perancis ketika masih kuliah. Saya rajin betul menonton Teater hingga rela bersepeda jauh untuk menyaksikan performance-performance yang menakjubkan itu. Penampilan pertama biasanya tak sebagus penampilan berikutnya. Untuk acara sebesar Musikal Laskar Pelangi, kesiapan Promotor menjadi tanda tanya.

Di LIP, saya juga belajar hal lainnya. Karena tempatnya yang terbatas (kira2 150 penonton), penikmat teater disuguhkan dalam jarak yang sangat dekat dan menonton dengan khusuk. Beberapa kali malah berjalan berhimpitan dengan penonton. Tidak ada HP yang berbunyi dan tak ada yang berusaha mengabadikan performance dengan lampu flash. Mungkin dulu belum begitu banyak HP dan Gadget lainnya. Walau kadang-kadang, pemain berhenti bergerak seperti patung untuk memberi waktu bagi Fotografer dengan camera berdiagfragma kecil untuk mengabadikan performance. Ada suara jepret-jepret, tetapi tidak menganggu karena tidak ada cahaya. Pendeknya, masing-masing penonton menjaga betul agar suasana pertunjukan yang nyaman tidak terganggu. Penonton boleh membawa minum, walau tak diperkenankan makan.

Ternyata, ketidaksiapan Rajawali masih terasa di pertunjukan pertama. Antrean di pintu utama tidak teratur. Satpam mengarahkan antrean yang langsung membludak 1,5 jam sebelum pertunjukan dimulai di terik matahari. Tentu saja ini bukan pilihan yang menarik. Hasilnya, antrean mengular (betul-betul seperti ular yang berbelok-belok menghindari panas jam 12.30). Seluruh penonton, regardless their classes harus antri di pintu depan. Sampai di dalam, masih antri lagi untuk mendapatkan gelang kertas berdasarkan kelas. Antrean ini tak begitu lama, apalagi untuk platinum.

Masalah muncul karena penonton dilarang membawa minuman. Saya bisa memahami larangan membawa makanan, tetapi larangan minum? Selain penontonnya banyak yang anak-anak, akses terhadap air seharusnya tidak dibatasi. Seluruh penonton pasti haus setelah mengantri sekian lama. Memang ada foodcourt yang membolehkan kita makan dan minum, tetapi bagaimana dengan tempat duduk? Siapa yang akan menjaganya agar tak dipakai orang lain?

Kesabaran penonton semakin diuji ketika panitia mengumumkan akan memulai pertunjukan setelah seluruh antrian masuk. Padahal sudah jam 14.20, atau terlambat 20 menit dari waktu yang seharusnya. Continue reading “Musikal Laskar Pelangi dan Perilaku Kita”

Ibu-ibu Sosialita

Saya mendengar kata sosialita pertama kali ketika kasus Nunun Nurbaeti mencuat. Setelah itu, kata ini sepertinya sangat populer (atau mungkin notorious) digunakan. Tidak jelas siapa yang dirujuk pada kata “sosialita”. Ini adalah kata baru yang merekam perubahan kelas sosial baru di masyarakat kelas menengah dan menengah atas Indonesia. Jadi karena masih multitafsir, saya mencoba mendefinisikannya, dari pengamatan tidak terstruktur yang saya lakukan.

Kata “sosialita” lebih dahulu dipakai secara “official” dalam paket BlackBerry milik Telkomsel. Paket ini membedakan paket “bisnis” yang hanya bisa BBM dan Email, atau “full features” yang dapat digunakan untuk BBM, Email, jejaring sosial dan surfing. Paket sosialita hanya bisa digunakan untuk BBM, Jejaring Sosial dan Surfing, tanpa email. Menurut definisi Telkomsel, sosialita kira-kira adalah sekelompok orang (biasanya perempuan yang perlu untuk BBM dan update status di Facebook atau Twitter tetapi tak pernah mendapatkan kiriman email. Jaringannya biasanya lokal, atau maksimal interlokal dan BB serta seluruh jejaring sosialnya disetting dengan bahasa Indonesia.

Pengamatan lainnya seorang kolega kemarin “terpaksa” harus mengantar anaknya pentas di Hari Kartini 21 April, kolega ini mengeluh karena istrinya sedang sibuk, tetapi keluhan bukan karena ketidakiklasannya mengantar, tetapi kekhawatirannya bertemu “ibu-ibu sosialita” yang rajin nongkrong di sekolah anaknya. Dari sekelumit persepsi tentang ibu-ibu sosialita ini, mari kita coba definisikan. Tak semuanya tepat, tapi bisa menjadi petunjuk.

Pertama, dari ciri-ciri fisik, ibu-ibu sosialita ini umurnya kira-kira ibu muda 25 tahun sampai tidak terbatas. Pakaiannya selalu modis tetapi lebih sering overacting. Berdandan merupakan kewajiban utama. Rujukannya siapa lagi kalau bukan artis. Continue reading “Ibu-ibu Sosialita”