Kisah Tukang Permak Jeans

Saya punya langganan Permak Jeans sejak masih kuliah. Permak Jean adalah industry unik yang muncul di sekitaran kampus. Tugasnya sederhana, memotong celana jeans baru yang kebesaran, atau menambal jeans usang yang mulai robek di bagian dengkul, karena terlalu sering ditarik ulur dalam berbagai posisi kaki yang kebanyakan dipakai jalan kaki. Permak Jeans langganan saya ini letaknya di depan Fakultas Kehutanan UGM, di seberang selokan arah ke Klebengan, bersebelahan dengan tukang fotokopi.

Kiosnya tidak besar dan cukup nyaman untuk bekerja. Di dalam kios itu ada beberapa mesin jahit dan beberapa tumpuk celana jeans. Satu meja panjang seukuran celana normal yang dibentangkan dan rak untuk menyimpan celana jeans yang sudah jadi. Kiosnya mirip dengan puluhan kios permak jeans lain di seputaran kampus.

Ada perbedaan signifikan ketika kembali memendekkan celana jeans setelah sekian lama. Bedanya ketika kuliah dulu pesanannya lebih bervariasi, mulai dari memendekkan celana sampai menambah celana di bagian pantat dan dengkul. Tambalan dilakukan dengan menutup bagian yang sobek dengan potongan celana bekas pelanggan lain. Jadi walaupun tidak bolong, tetapi kenyamanan berkurang karena bagian yang ditambal menjadi lebih tebal. Sekarang umumnya hanya memendekkan saja. Berubah seiring meningkatnya kemampuan ekonomi.

Hal lain yang membedakan adalah, semakin lama, bagian bawah yang dipotong semakin panjang, menyesuaikan bertambahnya ukuran celana. Ukuran celana, sayangnya, menyesuaikan ukuran perut. Kalau dulu masih bisa melipat bagian bawah celana, sekarang, kalau dilipat lebih mirip patung orang-orangan di sawah.

Beberapa hari lalu saya memotongkan celana jeans. Waktu itu, kios permah dijaga oleh sang ibu. Beberapa hari kemudian ketika akan saya ambil, sang bapaklah yang menjaga. Saya lupa membawa slip pengambilan dan juga KTP. Ketika saya akan ambil bapak itu berkata

Continue reading “Kisah Tukang Permak Jeans”

Konggres Belum Usai

Kedaulatan Rakyat, 20 Februari 2012

Pemberitaan di televisi tentang partai Demokrat semakin hari semakin panjang. Pemirsa seperti disuguhi sinetron yang tiada akhir. Dalam beberapa hari ini, muncul isu baru tentang korupsi dan suap di konggres Partai Demokrat dari suara beberapa daerah. Secara gamblang disuguhkan bagaimana suara di konggres yang memenangkan Anas Urbaningrum diperdagangkan.

Miris. Kisah sendu PD dihembuskan oleh kadernya sendiri, menandakan centang-perenangnya institusionalisasi partai. Publik dapat melihat jelas bagaimana bermacam-macam kubu di dalam PD saling beradu argumen di media. Secara jelas ditunjukkan bahwa konggres Bandung belum usai. Anas secara de jure memang Ketua, tapi secara de facto, legitimasinya dipertanyakan kadernya sendiri.
Pasca konggres Bandung, Anas berusaha menyatukan seluruh elemen PD untuk bergabung dalam kepemimpinannya. Baik kubu Andi yang sedikit, dan kubu Marzuki Alie yang kuat, diajak bersama dalam kepemimpinan baru. Sayangnya, masing-masing kubu tersebut merasa sakit hati karena mensinyalir dukungan suaranya dibelokkan ke Anas dengan politik uang. Merekalah yang menyerang PD dari dalam untuk menurunkan Anas sebagai Ketum. Continue reading “Konggres Belum Usai”