Hidup Tergantung Skripsi

 

1661376_20130211071938Tulisan ini ditujukan untuk sebagian kecil mahasiswa yang menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mengerjakan skripsi atau tugas akhir. Karena tidak dikerjakan, bertahun-tahun itu menjadi tahun-tahun yang kurang berharga. Tulisan ini tidak ditujukan untuk mahasiswa yang baru saja mengerjakan skripsi dan terus mengerjakannya. Tetapi jika anda yang sedang bersemangat ingin mengambil hikmah ya silakan saja.

Sebenarnya pengalaman saya menyelesaikan skripsi juga tidak mudah. Saya lulus dalam lima tahun tiga bulan tetapi menghabiskan dua tahun lebih untuk skripsi. Tepatnya, beberapa bulan penelitian lapangan dan hampir dua tahun tidak menulis skripsi atau dua tahun seolah-olah mengerjakan skripsi. Sampai akhirnya dengan dukungan istri saya, saya bisa menyelesaikannya dalam waktu sekitar enam minggu. Tiga-empat minggu betul-betul menulis skripsi dari materi yang berserakan dan sekitar dua-tiga minggu untuk editing.

Menulis skripsi waktu itu seperti pertarungan tidak hanya intelektual, tetapi lebih kepada psikologis. Terlalu banyak gangguan di luar sana yang membuat skripsi tidak dikerjakan. Sayangnya daya dukung untuk membantu mahasiswa yang bermasalah di skripsi masih harus ditingkatkan, baik dari Universitas, Fakultas maupun Jurusan. Umumnya mahasiswa angkatan “dua ribu tua” akan merasa ketakutan untuk datang ke kampus. Semakin lama, ketakutan ini semakin besar. Jangankan untuk mengirim email ke dosen pembimbing, melihat gedung kampus saja ketakutan. Kalau sudah sampai pada tahap ini, sebaiknya pikirkan lagi niatan anda untuk lulus S1 daripada menghabiskan waktu bertahun-tahun “seolah” mengerjakan skripsi.

Saya punya beberapa kisah untuk diceritakan, semoga yang bersangkutan tidak tersinggung. Saya punya teman yang luar biasa cerdas. Istilahnya dia memiliki apa yang disebut sebagai photographic memory, kalau belajar gampang tahu dan sulit lupa, sebut saja namanya Mr. Cerdas. Matanya berbinar-binar saat berbicara, mirip dengan Prof. Amien Rais. Saking cerdasnya mas Cerdas ini, waktu SMP dan SMA di sekolah terbaik di Magelang, dia selalu berdiri di depan saat upacara kenaikan kelas karena nilainya selalu masuk di sepuluh besar pararel dari ratusan siswa dari lima kelas di SMP dan tujuh kelas di SMA. Mas Cerdas ini kira-kira adalah idaman ibu-ibu muda yang selalu menjadi konsumsi iklan untuk mencari susu terbaik agar anaknya tumbuh cerdas, tampan dan berbadan proporsional.

Baca Juga:  FISIPOL bukan FISIP

Setelah lulus SMA, dia diterima dengan mudah di jurusan favorit di Fakultas Ekonomi UGM dan kebetulan kos dekat dengan kos saya. Waktu itu kami tidak terlalu sering bersama. Kuliahnya lancar-lancar saja dalam beberapa tahun pertama. Saya tidak tahu apa yang terjadi semasa akhir kuliahnya, tetapi saya heran dan kaget ketika tahu beberapa tahun setelah saya lulus,  Mr. Cerdas ini tidak juga menyelesaikan skripsinya di UGM. Terakhir ketemu dengannya di tahun ketiga, nilai-nilai kuliahnya cukup untuk meluluskannya dengan cumlaude dengan hampir sempurna, dan perusahaan tentu akan memberi karpet merah untuk lulusan FE UGM secerdas dia. Sayangnya dia tidak lulus dan menghabiskan waktu bertahun-tahun “seolah” mengerjakan skripsi. Bagi Mr. Cerdas, skripsi adalah persoalan yang sangat mudah untuk kecerdasannya yang luar biasa. Tentu ada persoalan lain yang membuat hidupnya terjebak di skripsi.

Sekarang saya tidak tahu bagaimana kabarnya. Dia tidak aktif di Facebook dan jumlah “friend” nya kurang dari 200, itupun dari teman-teman SMP dan SMA. Artinya diriny tak membuat jaringan dan kehidupan baru. Skripsi dan kegagalan mendapatkan S1, telah menyebabkan sahabat saya Mr. Cerdas ini menyingkirkan diri dari pergaulan. Dia selalu ditanyakan dalam setiap kumpul-kumpul teman SMP dan SMA. Kecerdasan yang dimilikinya, yang membuat para orangtua di SD, SMP dan SMA iri, tak bisa dimaksimalkan dengan baik.

Cerita kedua datang dari inisiatif JPP mengundang mahasiswa yang bermasalah dengan skripsinya. Kategori bermasalah disini adalah mahasiswa telah menyelesaikan seluruh matakuliah dan juga KKN dan belum juga menyelesaikan skripsi. JPP sadar bahwa yang menyebabkan mahasiswa lama lulusnya adalah persoalan skripsi, bukan di kuliah (lihat laporan di tautan bawah).

Baca Juga:  Nasi Goreng Pak Pele

Mulai 2006, JPP telah merubah kurikulum yang memastikan mahasiswa bisa menyelesaikan skripsinya. Di dalam kurikulum, ada satu matakuliah yang namanya Perencanaan Penelitian yang saya ampu selama tiga tahun terakhir. Tugas utama matakuliah ini adalah menghasilkan proposal skripsi yang memungkinkan mahasiswa untuk menyelesaikan skripsi dengan lebih cepat. Dalam akreditasi, semakin cepat mahasiswa selesai semakin baik untuk reputasi jurusan. Ketika proposal sudah ada, mahasiswa sudah memiliki arah yang jelas untuk mengerjakan skripsi. Matakuliah ini melibatkan pembimbingan dengan dosen pembimbing dan kelas lebih bertujuan untuk fasilitasi mahasiswa untuk menulis skripsi. Hasilnya lumayan menggembirakan. Tingkat keterlambatan kelulusan menurun drastis.

Hal yang sama juga dilakukan di tingkat Master dengan tekanan lebih dalam. Setelah kuliah Metode Penelitian untuk mempersiapkan proposal thesis di semester dua dan setelah penelitian lapangan (kalau ada), mahasiswa master di JPP akan didampingi untuk menulis bab demi bab thesisnya dalam satu semester, sehingga sebagian besar bisa lulus dalam 1,5 tahun.

Nah, dari proses campur tangan di kurikulum ini, tentu saja ada beberapa mahasiswa bermasalah (dalam arti tidak segera menyesaikan skripsinya). Mereka dikumpulkan untuk didengarkan problemnya. Ceritanya bermacam-macam, mulai sakit hati dengan dosen pembimbing yang sok sibuk, masalah keuangan, sampai kesulitan menemui informan kunci. Kami coba membantu mereka. Beberapa berhasil diakselerasi setelah berganti dosen pembimbing, beberapa berhasil setelah diberi treatment khusus, dan beberapa lainnya tak lagi menampakkan batang hidungya. Bagi mereka yang sukses melalui rintangan skripsi, hidup tentunya menjadi lebih ceria, paling tidak ada foto wisuda di Facebook yang bisa dibanggakan.

Kesimpulannya, untuk yang tak lagi kelihatan batang hidungnya, mungkin sudah menemukan kehidupan yang lain dengan tidak menyelesaikan skripsi. Walaupun sebagai pendidik saya tetap menginginkan seluruh mahasiswa saya diwisuda menjadi sarjana, tak semua memiliki jalan hidup yang demikian. Kisah hidup dan takdir manusia sangat beragam. Lihat saja Emha Ainun Nadjib yang tak menyelesaikan kuliah di FE UGM. Tengoklah juga Budiman Sudjatmiko yang tak lulus di FE UGM tetapi kemudian menyandang dua master dari Inggris.  Ada juga KH Mustofa Bisri yang tak memiliki ijasah Ibtidaiah sampai SMA tetapi bisa selesai kuliah di Mesir. Atau Gusdur yang mengikuti Gus Mus, tetapi kecewa karena semua sudah dipelajarinya di pesantren. Atau ada juga Bill Gates, Steve Jobs yang memutuskan untuk berhenti kuliah.

Baca Juga:  Gaji Guru, Dosen dan Ibu

Masalahnya, banyak dari mahasiswa yang terjebak dengan skripsi. Merasa hidupnya ditentukan oleh skripsi yang menghilangkan ribuan potensi lain yang dimilikinya. Skripsi memang bisa membuat anda bangga menjadi sarjana, tetapi bisa mengecewakan dunia, seperti yang dialami teman saya Mr.Cerdas. Jika anda terjebak bertahun-tahun “seolah” mengerjakan skripsi, lebih baik anda fikirkan untuk segera menutup buku, dan memulai kehidupan baru. Tak selamanya sukses itu harus sarjana.

Terakhir, jika anda menyelesaikan skripsi dan diwisuda, itu adalah yg terbaik. Ada kisah ibu-ibu yang sudah 15 tahun berhenti kuliah tetapi akhirnya bisa menyelesaikannya. Ini kasus super langka. Ada kutipan menarik dari buku “Skripshit” karangan Alitt Susanto (2012):

“Hidup ini bagai skripsi..banyak bab dan revisi yang harus dilewati.
Tapi akan selalu berakhir indah… bagi mereka yang pantang menyerah.” pg.282

*Foto diambil dari Kaskus.

** Saya bertemu dengan sahabat Mr. Cerdas pada awal 2015. Kawan saya ini mengatakan Mr. Cerdas mengalami masalah ketika dia tak bisa dipromosikan di pekerjaaannya, di distribusi sebuah produk komersial, karena tidak sarjana. Akhirnya, dia melakukan transfer dari UGM ke Universitas swasta tidak terkenal, menulis skripsi dan akhirnya diwisuda di universitas tersebut. Selamat Mr. Cerdas.

*** Lihat laporan workshop skripsi JPP Fisipol UGM Maret 2015 disini.

Print Friendly, PDF & Email
Be Sociable, Share!

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *