Mar Kempong dan Kuas Gambarnya

Saya punya teman waktu kecil di Bogeman, namanya Maryanto alias Mar Kempong. Tak jelas mengapa dia dipanggil begitu. Konon dia terlambat melepas kempongnya ketika anak-anak yang lain sudah tak lagi tergantung kempongan. Kebiasaan di kampung saya memang begitu, nama dirubah seenaknya sesuai dengan yang paling tampak. Ada Nyah Jambu karena punya pohon jambu, ada Bah Becak karena juragan becak dls. Makanya, tak ada warga kampung yang memelihara monyet aka kethek.

Umurnya selisih empat tahun dari saya, tetapi karena sering tak naik kelas ketika SD, kami dalam kelas yang sama. Mar Kempong adalah anak yang paling sering tidak naik kelas dibanding semua anak di kampung kami. Dia tak sanggup berhitung dan membaca. Tentu saja tak jarang menjadi sasaran olok-olokan. Setiap bulan Juni, adalah waktu yang paling menegangkan untuk Mar Kempong.

Mar Kempong adalah anak bungsu dari enam bersaudara. Ibunya berjualan gorengan dan ayahnya bekerja serabutan. Kakak-kakaknya juga tak pandai di sekolah, tetapi dibanding Mar Kempong, saudara-saudaranya jauh lebih baik. Mereka tinggal di rumah sangat sempit berlantai tanah. Setelah saya lulus SD mereka pindah karena rumahnya akan dipakai pemilik tanahnya.

Suatu hari, Mar Kempong menggambar di buku kotak-kotak saya yang bisanya digunakan untuk mengerjakan matematika. Luar biasa. Gambar laba-labanya bagus sekali. Saya lalu memintanya menggambar apa saja: kucing, kelereng, gatot kaca, sandal jepit. Saya selalu kagum terhadap gambarnya. Saya, yang tak berbakat sama sekali menggambar, selalu kagum dengan orang yang pandai menggambar. Gambar saya tak lebih dari dua gunung, matahari, satu jalan ditengah dan sebuah rumah. Kadang saya gambar dua ekor burung di tengah awan, yang saya contoh dari gambar pak Guru di papan tulis. Mar Kempong juga jago main kelereng, mengejar layangan. gobak sodor, sundah mandah atau bermain tomprang (kartu). Pokoknya dia jago bermain apa saja selain menghitung dan membaca. Jadi kemampuannya inilah yang membuatnya tidak terlalu diganggu walaupun sering tak naik kelas.

Kakak sulung Mar Kempong, Supri yang menjadi tukang becak di usia akhir 20an ternyata jago basket. Itu baru diketahui setelah umurnya tak lagi remaja. Kemampuannya diketahui setelah beberapa kali menemani dan mengantarkan pelanggannya ke tempat basket. Dia lalu memperkuat grup basket, yang sekali lagi tingkat kampung sampai kemudian terpaksa harus lebih sering menunggu di becaknya yang karatan di beberapa tempat.

Mar Kempong sekarang bekerja menjadi tukang gambar alias desainer di pabrik plastik di kampung tetangga. Nasibnya lebih baik daripada Supri yang menjadi tukang becak atau Maryadi, kakak lainnya yang mengangkut sampah di kampung kami. Paling tidak, Mar Kempong tidak perlu berpeluh dan bersahabat dengan bau sampah. Pada lebaran beberapa tahun lalu, dia tampak sumringah mengenakan baju baru.

Namun demikian, cerita Mar Kempong, memberikan gambaran tentang buruknya sistem pendidikan kita dan betapa parahnya kita sebagai orang tua.

Kemarin saya menghadiri annual speech di SD anak saya yang kedua, di Ainslie School Canberra. Salah satu acara adalah pemberian Awards dan disinilah letak kecemburuan saya terhadap sistem pendidikan di Australia. Di acara itu, beberapa piala dibagikan: Catur, Arts and Creativity, Matematika, Sains, Kepemimpinan, Sosial, Persistence dan Olahraga. Tentu saja, ada jauh lebih banyak anak yang tidak mendapatkan apapun. Tetapi anak dihargai di berbagai bidang yang disukainya. Dua hari berikutnya, saya hadir di awards ceremony di SMP anak saya yang pertama dengan pesan kepala sekolahnya,” find your potentials and work hard to be the best on it.”

Sebaliknya, salah satu ciri paling penting dari cara pandang kita yang salah terhadap anak adalah kita selalu melihat anak dalam kapasitas yang tidak dia kuasai, ketimbang bakat yang dia miliki. Kita melihatnya dalam kapasitas What he/she cannot do daripada What he/she is capable of. Karena selalu melihat kekurangan, kita dipaksa oleh sistem pendidikan dan gengsi lingkungan untuk meningkatkan apa yang anak kita tidak bisa dan bukan sebaliknya, meningkatkan kemampuan/bakat yang dimilikinya. Pendeknya kita lebih sering melihat kekurangan daripada kelebihan. Karena sibuk berupaya untuk memperbaiki kekurangan, hasilnya bakat dan kemampuan anak menjadi kurang berkembang. Lebih buruk lagi, anak sekedar dihargai dalam persoalan Matematika, Bahasa Inggris dan Sains.

Itulah yang terjadi pada Mar Kempong dan Supri. Guru-guru di SD Mar Kempong yang hampir ambruk, atau orang tuanya yang banting tulang mencari utangan untuk makan keenam anaknya, tak pernah menyadari kemampuan luar biasa Mar Kempong. Continue reading “Mar Kempong dan Kuas Gambarnya”

Agar Dokter tak Dipenjara

1

Indonesia kekurangan dokter ini merana ketika dokter-dokter memutuskan untuk turun ke jalan. Mogok dokter yang dipicu eksekusi terhadap dua dokter yang diputus bersalah oleh MA sejak 2012 lalu, mengundang protes. Dukungan Kementrian Kesehatan terhadap mogok dokter juga absurd, di satu sisi mendukung mogok dokter, di sisi lain berharap pelayanan tak berkurang, dua hal yang tak mungkin terjadi bersamaan.

Mogok dokter menimbulkan ancaman serius terhadap sistem kesehatan di Indonesia. Padahal, jumlah dokter kita masih jauh dari angka ideal. Data dari Health Professional Education Quality (HPEQ) Project, Dirjen Dikti Kemendiknas (2010) menunjukkan adanya kekurangan dokter yang signifikan untuk mencapai Indonesia Sehat 2025. Pada tahun 2010, rasio dokter umum dan penduduk baru 30,39 dokter per 100.000 penduduk. Jauh dari angka ideal 40 dokter umum per 100.000 penduduk atau 1 dokter untuk 2500 penduduk dan baru mencukupi 77,43% dari kebutuhan ideal. Di Jawa Barat, rasio dokter bahkan hanya 4,3 dokter per 100.000 penduduk, terendah di seluruh Indonesia.

Selain jumlah, sebaran dokter juga menjadi persoalan. Dokter-dokter mengumpul di Jawa, Bali, Sumatra Utara dan Sulawesi Selatan. Di luar daerah itu tidak sulit ditemukan dokter yang nyaris tanpa istirahat bekerja untuk kepentingan masyarakat. Sehingga, ketika dokter-dokter yang mengabdi tersebut dipenjara, wajar jika reaksi keras muncul. Apalagi, dokter merupakan profesi yang memiliki organisasi profesi paling kuat di Indonesia di bawah IDI, KKI dan AIPKI, dan organisasi di bawah keahlian spesialis.

Ancaman terhadap system kesehatan nasional ditambah dengan sedikitnya “pasokan” dokter yang dihasilkan perguruan tinggi. Hanya sekitar 6.000 dokter baru yang dihasilkan tiap tahun dari 45 institusi pendidikan dari 71 insitusi pendidikan yang melahirkan dokter umum. Sebanyak 26 institusi pendidikan sedang dalam proses menciptakan dokter baru. Continue reading “Agar Dokter tak Dipenjara”

Elang Riswandha

Pak-RisTahun ini, tujuh tahun yang lalu 4 Agustus 2006, seorang guru saya Riswandha Imawan dipanggil Allah. Waktu itu hari Jumat, mobil berjalan tergesa ke Panti Rini, tempat Pak Ris dirawat setelah pingsan di Bandara Adisucipto. Ketika sampai di Maguwoharjo, SMS duka datang dari kolega yang terlebih dulu sampai.

Dua hari sebelumnya, Rabu sore, Pak Ris yang sangat baik terhadap kami, asisten di Jurusan Ilmu Pemerintahan, mentraktir Mie Pasar Baru bagi semua asisten yang ada di kantor sore itu. Waktu itu, Mie Pasar Baru memang baru dibuka di Yogyakarta. Pak Ris tidak ikut makan mie. Hanya membayar dan pergi. Sambil menunggu pesanan di teras kantor, Pak Ris sempat mengeluhkan sakit pegal di dada sebelah kiri. Saya tak tahu, hanya menyarankan

“Mungkin hanya perlu istirahat dan dipijat Pak Ris.”

Tentu saja, saran yang percuma karena beliau banyak aktifitas.

Dalam empat tahun sebelum meninggal, saya cukup dekat dengan sosok Pak Ris. Saya adalah asistennya asisten untuk proyek penyiapan paket UU Politik yang menjadi kepakarannya. Pernah suatu ketika, karena tak percaya diri melamar sekolah ke luar negeri, saya curhat ke Pak Ris saat sarapan pagi di sebuah hotel di Jakarta. Pak Ris yang selalu memotivasi murid-muridnya itu malah menunjukkan bagaimana dia lebih parah bahasa Inggrisnya ketika sekolah Master di NIU. Mungkin itu cuma caranya memotivasi saya, tapi paling tidak itu berguna. Continue reading “Elang Riswandha”

Penentuan 1 Ramadhan dan 1 Syawal

Sudah lama sebenarnya saya ingin menulis tentang penentuan permulaan puasa dan lebaran, walaupun baru kesampaian sekarang di 1 Ramadhan 2013, lebih baik daripada tidak sama sekali. Tadi malam, sidang isbat memutuskan Ramadhan jatuh besok hari Rabu, 10 Juli 2013. Muhammadiyah menentukan Ramadhan adalah hari ini Selasa 9 Juli 2013. Perbedaan ini sepertinya akan terus berlangsung karena dasar yang dipakai berbeda. Walaupun sepertinya merupakan fenomena yang terus berulang, penentuan waktu itu sangat penting.

Seluruh peradaban besar di dunia sadar bahwa waktu merupakan sesuatu yang sangat vital. Daniel J Boorstin dalam dua volume bukunya yang saya beli di toko loak di Montreal menjelaskan bahwa waktu adalah temuan paling penting dalam sejarah umat manusia. Waktu mengatur seluruh elemen kehidupan manusia dan ritual yang dilakukannya. Semuanya berdasarkan hitungan dan waktu-waktu tertentu. Bahasan tentang agama dan peradaban yang ditentukan oleh waktu bisa dilihat disini.

Nah bagaimana dengan penentuan awal Ramadhan dan Syawal? Pertanyaan ini penting terjawab ketika memulai puasa di negara bukan Islam dan sekuler dimana “ulil amri” memisahkan hubungan antara agama dan pemerintahan. Saya mengikuti perhitungan kalender dengan dua alasan:

Pertama, perhitungan kalender tidak pernah salah dan selalu tepat memprediksi berbagai fenomena langit. Kecanggihan ilmu astronomi sejauh ini belum pernah membuat saya kecewa. Ilmu Astronomi selalu akurat mempredikti kapan gerhana akan datang, kapan matahari tepat berada di atas Ka’bah , kapan supermoon terjadi dan lain sebagainya. Bahkan ilmu astronomi dengan tepat memprediksi kapan Komet Helley yang hanya terlihat di bumi tiap 75-76 tahun sekali. Komet Helley bahkan sudah ditemukan 300 tahun lalu. Jika ilmu astronomi tak pernah salah memperkirakan peredaran benda langit yang jauh, mengapa kalender bisa salah menentukan revolusi bulan yang kasat mata dan merupakan benda langit yang paling mudah diamati dan bahkan sudah pernah diinjak manusia 30 tahun lalu? Umat manusia sekarang memiliki teropong Hubble yang bahkan bisa melihat  sampai juta tahun cahaya. Dengan jarak bulan yang paling dekat dengan bumi, permukaan bulan sangat mudah dilihat. Continue reading “Penentuan 1 Ramadhan dan 1 Syawal”

Hidup Tergantung Skripsi

 

1661376_20130211071938Tulisan ini ditujukan untuk sebagian kecil mahasiswa yang menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mengerjakan skripsi atau tugas akhir. Karena tidak dikerjakan, bertahun-tahun itu menjadi tahun-tahun yang kurang berharga. Tulisan ini tidak ditujukan untuk mahasiswa yang baru saja mengerjakan skripsi dan terus mengerjakannya. Tetapi jika anda yang sedang bersemangat ingin mengambil hikmah ya silakan saja.

Sebenarnya pengalaman saya menyelesaikan skripsi juga tidak mudah. Saya lulus dalam lima tahun tiga bulan tetapi menghabiskan dua tahun lebih untuk skripsi. Tepatnya, beberapa bulan penelitian lapangan dan hampir dua tahun tidak menulis skripsi atau dua tahun seolah-olah mengerjakan skripsi. Sampai akhirnya dengan dukungan istri saya, saya bisa menyelesaikannya dalam waktu sekitar enam minggu. Tiga-empat minggu betul-betul menulis skripsi dari materi yang berserakan dan sekitar dua-tiga minggu untuk editing.

Menulis skripsi waktu itu seperti pertarungan tidak hanya intelektual, tetapi lebih kepada psikologis. Terlalu banyak gangguan di luar sana yang membuat skripsi tidak dikerjakan. Sayangnya daya dukung untuk membantu mahasiswa yang bermasalah di skripsi masih harus ditingkatkan, baik dari Universitas, Fakultas maupun Jurusan. Umumnya mahasiswa angkatan “dua ribu tua” akan merasa ketakutan untuk datang ke kampus. Semakin lama, ketakutan ini semakin besar. Jangankan untuk mengirim email ke dosen pembimbing, melihat gedung kampus saja ketakutan. Kalau sudah sampai pada tahap ini, sebaiknya pikirkan lagi niatan anda untuk lulus S1 daripada menghabiskan waktu bertahun-tahun “seolah” mengerjakan skripsi.

Saya punya beberapa kisah untuk diceritakan, semoga yang bersangkutan tidak tersinggung. Saya punya teman yang luar biasa cerdas. Istilahnya dia memiliki apa yang disebut sebagai photographic memory, kalau belajar gampang tahu dan sulit lupa, sebut saja namanya Mr. Cerdas. Matanya berbinar-binar saat berbicara, mirip dengan Prof. Amien Rais. Saking cerdasnya mas Cerdas ini, waktu SMP dan SMA di sekolah terbaik di Magelang, dia selalu berdiri di depan saat upacara kenaikan kelas karena nilainya selalu masuk di sepuluh besar pararel dari ratusan siswa dari lima kelas di SMP dan tujuh kelas di SMA. Mas Cerdas ini kira-kira adalah idaman ibu-ibu muda yang selalu menjadi konsumsi iklan untuk mencari susu terbaik agar anaknya tumbuh cerdas, tampan dan berbadan proporsional.

Setelah lulus SMA, dia diterima dengan mudah di jurusan favorit di Fakultas Ekonomi UGM dan kebetulan kos dekat dengan kos saya. Waktu itu kami tidak terlalu sering bersama. Kuliahnya lancar-lancar saja dalam beberapa tahun pertama. Saya tidak tahu apa yang terjadi semasa akhir kuliahnya, tetapi saya heran dan kaget ketika tahu beberapa tahun setelah saya lulus,  Mr. Cerdas ini tidak juga menyelesaikan skripsinya di UGM. Terakhir ketemu dengannya di tahun ketiga, nilai-nilai kuliahnya cukup untuk meluluskannya dengan cumlaude dengan hampir sempurna, dan perusahaan tentu akan memberi karpet merah untuk lulusan Continue reading “Hidup Tergantung Skripsi”

Sang Pemegang Kunci

DSC05009Anda pernah bergaul selama 300 jam dengan orang gila (psikotik) dan gelandangan? Jika belum cobalah. Hal itu akan menjadi pangalaman yang akan terus anda kenang. Peristiwa itu saya alami tahun 2006 sebagai salah satu matakuliah saat menempuh Master Interdisciplinary Islamic studies on Social Work. Pekerjaan social begini menguji kemanusiaan kita

Walaupun sekarang pekerjaan yang saya lakukan dan bidang ilmu yang ditekuni agak berbeda dengan Sosial Work, pengalaman menjadi pekerja social memberikan bekal hidup yang bermakna. Waktu itu saya ditempatkan di Panti Sosial Bina Karya di daerah Kricak Yogyakarta. Teman satu kelas yang lain ada yang ditempatkan di panti untuk PSK, panti wreda, panti asuhan dls. PSBK terdiri dari dua bagian penting, bagian gelandangan dan bagian psikotik. Bagian psikotik terpisah dengan gelandangan dan ditutup dengan pagar berduri. Selain beberapa kamar, ada satu sel yang mirip penjara yang dipakai untuk mengurung psikotik yang ngamuk.

Saya terlibat di dalam proses di panti, mulai dari rapat-rapat, pemeriksaan psikologi yang dilakukan dua minggu sekali, sampai “sekolah” untuk psikotik. Karena terganggu jiwanya, tentu saja seluruh proses itu menjadi unik dan menarik. Saya juga terlibat di proses penjaringan gelandangan agar mau menetap di Stasiun Lempuyangan dan Tugu yang menjadi kantong gelandangan. Hanya sekedar membujuk mereka untuk tinggal.

psbk2

Psikotik yang ditempatkan di PSBK bisa berasal dari beberapa tempat. Mereka yang terjaring di jalan-jalan ditempatkan dulu di sekitar jalan Sisingamangaraja untuk kemudian, setelah cukup bersih, ditempatkan di PSBK. Psikotik lain adalah “alumni” RSJ Pakem (Sekarang RSU Pakem) yang ditempatkan di PSBK sebelum dikembalikan ke keluarga, jika ada. Pendeknya, ini adalah proyek social yang menjadi tanggung jawab negara yang sering diabaikan. Continue reading “Sang Pemegang Kunci”

Dewa19 Terbaik

Ini adalah tulisan pertama kali tentang music. Hari Minggu menjelang Natal di Canberra memang terasa sepi di Kampus, tentu di Canberra Centre memuncak keramaian, tetapi saya menyendiri di kamar UniHouse, membaca buku Koentjoroningrat dan sesekali mendengarkan musik Dewa19 di Youtube, terutama konser reuni Dewa19 Juni 2012.

Bagi saya dan juga banyak orang lain, musik adalah bagian dari nostalgia masa lalu yang tak mungkin diulang kembali. Saat Achmad Dani mengumumkan Dewa19 adalah band nostalgia, bagi saya, Dewa19 adalah band nostalgia sejak tahun 2000.

Sekali lagi, music adalah persoalan nostalgia. Musik disukai karena merupakan milik jamannya. Kebetulan, jaman saya tumbuh menjadi remaja di era 1994 saat masuk ke SMA, Dewa19 mengeluarkan album Format Masa Depan dan setahun kemudian Terbaik. Album terbaik keluar disaat kecintaan pada music memuncak dikala itu. Sehingga bagi saya, album terbaik sepanjang masa adalah album Terbaik milik Dewa19.

Album Terbaik Dewa19 ini menemani salah Continue reading “Dewa19 Terbaik”

Daftar Beasiswa Luar Negeri Dikti Yuk…

(13/8/2013) Karena populernya posting ini, saya perlu menambahkan beberapa hal penting di depan tulisan sebagai peringatan:

Pertama, sejak 2012 dana beasiswa yang semula disalurkan melalui universitas, diberikan langsung ke mahasiswa. Akibatnya, penerima beasiswa dari UGM tidak bisa mendapatkan dana talangan di tiap semester. Hal ini menyebabkan beasiswa selalu datang terlambat. Untuk tahun 2013 misalnya, beasiswa yang seharusnya datang bulan Januari baru masuk bulan April. 

Kedua, dari forum di milis dan berita, kemungkinan besar penyebab keterlambatan beasiswa ada dua: dibutuhkan kerjasama tiga kementrian agar dana bisa turun. Untuk kasus 2013, anggaran Kemediknas diberi bintang di DPR sehingga beasiswa tidak bisa turun tepat waktu. Kedua kinerja birokrasi di Dikti berikut lembaga outsourcingnya. 

Ketiga, dampak dari keterlambatan ini sangat banyak, mulai dari kesulitan hidup mahasiswa sampai tertutupnya akses ke perpustakaan dan sistem IT kampus yang bervariasi di berbagai universitas dan negara.

Oleh karena itu, sebelum anda menerima beasiswa DIkti, anda harus memastikan: anda punya tabungan yang cukup untuk hidup di luar negeri selama empat-lima bulan, atau anda bernegoisasi dengan pimpinan universitas untuk mendapatkan dana talangan selama masa tersebut. 

Tahun 2012 ini saya adalah penerima beasiswa pemerintah Indonesia yang disalurkan melalui Dikti. Banyak yang bertanya kenapa saya mendaftar beasiswa ini yang menurut banyak orang tidak kompetitif, banyak kekurangan dan dana yang minim. Padahal saya adalah mantan penerima beasiswa ADS yang sedikit banyak tahu seluk-beluk beasiswa dan sering ditanya tips lolos ADS.

Jawabannya tak mudah. Pertama, mulai tahun 2012, ADS mensyaratkan 4 tahun bagi mantan pelamar ADS untuk melamar kembali yang dihitung sejak cap kepulangan ke Indonesia. Saya pulang 13 Desember 2009 yang berarti baru bisa mendaftar untuk ADS 2014 atau bukaan dua tahun lagi. ADS akan mengumumkan shortlisted pada Desember 2014 dan kandidat yang dipilih pada Januari 2015. Paling cepat berangkat Juli 2015 atau molornya Januari 2016. Terlalu lama untuk usia yang semakin tua. Kedua, beberapa skema beasiswa lainnya, misalnya Endeavor, ALA, IPRS. Saya sudah mencoba ALA dan waktu itu bersamaan mendaftar Dikti. Waktu ALA, skor IELTS saya sudah kadaluarsa dan terlambat diberikan, walau sudah diemail untuk segera melangkapinya. Untuk Endeavor dan IPRS saya belum sempat daftar. Ketiga, beasiswa Dikti ini sangat bagus tapi miskin peminat. Mungkin rejeki saya disini. Ini yang akan saya tulis.

Beasiswa Luar Negeri Dikti adalah beasiswa paling mudah didapatkan untuk Dosen baik di Universitas negeri ataupun Swasta. Syaratnya ada beberapa disini, tetapi intinya cuma tiga: Skor bahasa Inggris mencukupi, diterima di sekolah pilihan di luar negeri dan mendapatkan ijin bagi pimpinan. Ini syarat yang mudah dibandingkan beasiswa lainnya.

Sayangnya target dan jumlah penerima BLN Dikti tiap tahun terus turun. Awalnya ditargetkan Indonesia bisa mengirimkan dosen untuk sekolah Master dan Doktor 1.000 orang per tahun. Dalam dua sampai empat tahun, Indonesia akan mendapatkan 1.000 dosen Master atau Doktor baru. Harapan tinggal harapan karena kenyataannya tidak banyak dosen yang memenuhi kualifikasi yang sebenarnya mudah tersebut. Ibaratnya, panitia beasiswa BLN Dikti sampai harus hunting untuk mencari calon penerima beasiswa. Hal ini tentu juga dialami penyelenggara beasiswa yang lain, demi mendapatkan calon penerima beasiswa. Hanya saja, beasiswa lain masih menyeleksi dari ribuan berkas yang memenuhi syarat, penyelenggara BLN Dikti mencari seribu yang memenuhi syarat saja sulit. Berikut Statistiknya yang dapat dilihat di http://studi.dikti.go.id

Seandainya ijin atasan diberikan, dua tantangan lain adalah Bahasa dan Acceptance Letter (disebut Offer Letter atau sebutan lain). Mari kita urai keduanya.

Untuk bahasa, misalnya Inggris, memang tak ada jalan lain kecuali secara serius mempersiapkan diri dengan belajar bahasa. Mahasiswa tak akan pernah bisa belajar kalau tak mengerti apa yang disampaikan dosen, tak bisa berbicara dalam bahasa yang dipakai dan tak faham bacaannya. Jika tak faham ketiganya, mana mungkin akan mampu menulis?

Jangan pernah membayangkan menjadi turis di negara tempat kita belajar, yang ada guidenya, ditunjukkan jalan kalau tersesat. Kalau hanya menjadi turis, tentu tak perlu belajar bahasa lokal. Tapi anda akan hidup dalam kehidupan yang berbeda dengan di Indonesia (kecuali Malaysia). Jadi bahasa adalah modal penting, tanpa itu, lupakan impian belajar di luar negeri. Sekali lagi lupakan.

Tentang LoA, ini juga sebenarnya mudah. Institusi pendidikan di Luar Negeri sebenarnya membutuhkan kita sebagai mahasiswa Internasional untuk mendongkrak reputasi dan ranking internasional mereka dan mendapatkan dana yang tidak sedikit.  Mahasiswa asing biasanya membayar lebih mahal dari mahasiswa lokal yang mendapatkan subsidi pemerintah. Tentu, tidak semua negara demikian. Jika anda bersekolah di Jerman, biaya sekolah Doktor di Jerman hanya 130 an Euro per semester, jauh lebih murah daripada di UGM :razz:

Cara mendapatkannya juga tak terlalu sulit, berikut langkah singkatnya untuk Doktor dan Master by Research with reference to Australian cases. Continue reading “Daftar Beasiswa Luar Negeri Dikti Yuk…”

Harga Nyawa Manusia

Bagaimana kesan anda membaca berita berikut yang saya ambil dari Harian terbesar di Jawa Barat Pikiran Rakyat ?

Mayat Diduga Korban Pembunuhan Ditemukan Warga Cimalaka Sumedang

Selasa, 21/08/2012 – 19:35

SUMEDANG, (PRLM).- Sesosok mayat laki-laki tanpa identitas, ditemukan warga tergeletak di sekitar mata air dalam kondisi bersimbah darah. Diduga, mayat tersebut korban pembunuhan.

Mayat itu ditemukan Ny. Enok (64) warga sekitar di Dusun Cikandung RT 04/RW 02, Desa Nyalindung, Kec. Cimalaka, Selasa (21/8) pagi. Enok menemukannya ketika akan mengambil air di mata air tersebut.

Adapun ciri-ciri korban, antara lain rambut lurus, kulit sawo matang, memakai jaket parasit hitam, celana jeans warna telur asin, sandal gunung motif loreng.

Selain itu, korban mengenakan gelang dan kalung rantai, cincin perak di jari tangan kiri serta di tangan kiri dan kanannya terdapat tattoo.

“Mayat korban sudah dibawa ke RS Hasan Sadikin Bandung untuk diautopsi,” kata Kasat Reskrim Polres Sumedang, Ajun Komisaris Suparma ketika dikonfirmasi di mapolres, Selasa (21/8).

Ia mengatakan, ketika ditemukan, mayat laki-laki berumur antara 25 sampai 30 tahun itu, dalam posisi tengkurap di sekitar mata air. Di sekitar dadanya, bersimbah darah akibat luka tusukan senjata tajam (sajam).

Di bagian dada kirinya terdapat dua luka tusukan dan dada kanannya satu luka tusukan. “Dengan luka tusukan senjata tajam tersebut, dugaan sementara korban ‘Mr X’ ini, tewas akibat dibunuh,” kata Suparma.

Hingga kini, lanjut dia, pihaknya masih menyelidiki kasus tersebut. Hanya saja, petugas menemui kesulitan dalam menyelidiki dan mengungkap kasus itu karena mayat korban tidak diketahui identitasnya.

“Karena tidak ada identitasnya, sehingga kami sulit untuk mencari keluarganya sekaligus mengungkap motif atau penyebab kasus pembunuhan ini. Apakah ada permasalahan atau konflik? kita juga belum tahu. Di sekitar TKP (Tempat Kejadian Perkara) pun, tidak ditemukan barang bukti senjata tajam,” kata Suparma.

Ia menambahkan, kronologis penemuan mayat itu, berawal ketika Ny. Enok hendak mengambil air di sekitar mata air di Dusun Cikandung. Saat mendekati mata air, dia langsung terperanjat karena melihat ada sesosok mayat tergeletak di sekitar mata air.

Tanpa basa-basi, saat itu juga Enok langsung memberitahukan kepada aparat RT dan RW setempat. Mendengar informasi itu, aparat setempat bersama warga melaporkan ke kantor Polsek Cimalaka dan Polres Sumedang. “Mendapat laporan ini, anggota kita langsung meluncur ke TKP,” tuturnya. (A-67/A-89)

Ini adalah berita biasa yang menghiasi surat kabar kita hampir setiap hari.  Karena saking seringnya membaca berita ini, nurani kita menjadi tumpul. Saya akan menambah beberapa informasi tentang korban.

Mr. X yang dimaksud di berita tersebut bernama Erwin, umurnya 18 tahun. Erwin merupakan adik kembar yang dilahirkan beberapa menit setelah Erik. Jika anda tak terbiasa melihat kedunya, akan sulit membedakannya. Keduanya (mungkin karena kembar) memakai baju dan gaya yang relative mirip, kalung rantai dan gelang dan rambut lurus yang sedikit acak-acakan. Orang-orang kembar memang selalu menarik untuk diamati. Konon, mereka berbagi nasib. Sayangnya, takdir Erwin keburu dirampas ketika dirinya masih terlalu muda.

Erwin dan Erik tinggal 50 meter dari pabrik penggilingan beras milik mertua di Cibereum Sumedang. Sejak SD keduanya sering bermain di halaman pabrik yang berfungsi sekaligus sebagai penjemuran padi. Selepas SMP orangtuanya tak mampu membiayai sekolah mereka berdua. Mereka yang tidak meneruskan sekolah masih banyak di negeri ini. Tetapi di Jawa Barat, terutama di Sumedang menjadi fenomena yang agak umum. Memprihatinkan memang, tetapi itulah yang terjadi.

Karena keduanya sering bermain di pabrik selepas keluar sekolah, mereka akhirnya bekerja di UKM mertua. Tak ada rekruitmen, hanya bermain dan akhirnya bekerja. Erik bekerja di Rumah Potong Hewan dan Erwin bekerja menjadi kernet Backhoe di penambangan pasir. Tugas Erwin adalah membantu operator Backhoe memastikan Backhoe bekerja optimal, termasuk melumasi bagian-bagian Backhoe dengan olie. Erwin bekerja begantung shift dan Erik bekerja terutama malam untuk stok daging sapi di pasar pagi hari. Continue reading “Harga Nyawa Manusia”

Ibu-ibu Sosialita

Saya mendengar kata sosialita pertama kali ketika kasus Nunun Nurbaeti mencuat. Setelah itu, kata ini sepertinya sangat populer (atau mungkin notorious) digunakan. Tidak jelas siapa yang dirujuk pada kata “sosialita”. Ini adalah kata baru yang merekam perubahan kelas sosial baru di masyarakat kelas menengah dan menengah atas Indonesia. Jadi karena masih multitafsir, saya mencoba mendefinisikannya, dari pengamatan tidak terstruktur yang saya lakukan.

Kata “sosialita” lebih dahulu dipakai secara “official” dalam paket BlackBerry milik Telkomsel. Paket ini membedakan paket “bisnis” yang hanya bisa BBM dan Email, atau “full features” yang dapat digunakan untuk BBM, Email, jejaring sosial dan surfing. Paket sosialita hanya bisa digunakan untuk BBM, Jejaring Sosial dan Surfing, tanpa email. Menurut definisi Telkomsel, sosialita kira-kira adalah sekelompok orang (biasanya perempuan yang perlu untuk BBM dan update status di Facebook atau Twitter tetapi tak pernah mendapatkan kiriman email. Jaringannya biasanya lokal, atau maksimal interlokal dan BB serta seluruh jejaring sosialnya disetting dengan bahasa Indonesia.

Pengamatan lainnya seorang kolega kemarin “terpaksa” harus mengantar anaknya pentas di Hari Kartini 21 April, kolega ini mengeluh karena istrinya sedang sibuk, tetapi keluhan bukan karena ketidakiklasannya mengantar, tetapi kekhawatirannya bertemu “ibu-ibu sosialita” yang rajin nongkrong di sekolah anaknya. Dari sekelumit persepsi tentang ibu-ibu sosialita ini, mari kita coba definisikan. Tak semuanya tepat, tapi bisa menjadi petunjuk.

Pertama, dari ciri-ciri fisik, ibu-ibu sosialita ini umurnya kira-kira ibu muda 25 tahun sampai tidak terbatas. Pakaiannya selalu modis tetapi lebih sering overacting. Berdandan merupakan kewajiban utama. Rujukannya siapa lagi kalau bukan artis. Continue reading “Ibu-ibu Sosialita”

Kisah Tukang Permak Jeans

Saya punya langganan Permak Jeans sejak masih kuliah. Permak Jean adalah industry unik yang muncul di sekitaran kampus. Tugasnya sederhana, memotong celana jeans baru yang kebesaran, atau menambal jeans usang yang mulai robek di bagian dengkul, karena terlalu sering ditarik ulur dalam berbagai posisi kaki yang kebanyakan dipakai jalan kaki. Permak Jeans langganan saya ini letaknya di depan Fakultas Kehutanan UGM, di seberang selokan arah ke Klebengan, bersebelahan dengan tukang fotokopi.

Kiosnya tidak besar dan cukup nyaman untuk bekerja. Di dalam kios itu ada beberapa mesin jahit dan beberapa tumpuk celana jeans. Satu meja panjang seukuran celana normal yang dibentangkan dan rak untuk menyimpan celana jeans yang sudah jadi. Kiosnya mirip dengan puluhan kios permak jeans lain di seputaran kampus.

Ada perbedaan signifikan ketika kembali memendekkan celana jeans setelah sekian lama. Bedanya ketika kuliah dulu pesanannya lebih bervariasi, mulai dari memendekkan celana sampai menambah celana di bagian pantat dan dengkul. Tambalan dilakukan dengan menutup bagian yang sobek dengan potongan celana bekas pelanggan lain. Jadi walaupun tidak bolong, tetapi kenyamanan berkurang karena bagian yang ditambal menjadi lebih tebal. Sekarang umumnya hanya memendekkan saja. Berubah seiring meningkatnya kemampuan ekonomi.

Hal lain yang membedakan adalah, semakin lama, bagian bawah yang dipotong semakin panjang, menyesuaikan bertambahnya ukuran celana. Ukuran celana, sayangnya, menyesuaikan ukuran perut. Kalau dulu masih bisa melipat bagian bawah celana, sekarang, kalau dilipat lebih mirip patung orang-orangan di sawah.

Beberapa hari lalu saya memotongkan celana jeans. Waktu itu, kios permah dijaga oleh sang ibu. Beberapa hari kemudian ketika akan saya ambil, sang bapaklah yang menjaga. Saya lupa membawa slip pengambilan dan juga KTP. Ketika saya akan ambil bapak itu berkata

Continue reading “Kisah Tukang Permak Jeans”

Tips Test IELTS

Ini cerita tentang International English Language Testing System atau yang lebih singkt disebut IELTS. IELTS di Indonesia tidak seterkenal pendahulunya TOEFL, tetapi semakin lama semakin popular dan semakin banyak diterima di banyak universitas.

IELTS terdiri dari empat kriteria yang diukur kemampuannya: listening, reading, writing dan speaking. Tiga yang pertama dilakukan berurutan dan sebisa mungkin tidak keluar ruangan karena managemen waktu sangat penting. Sedangkan speaking dilakukan sesuai jadwal. Bisa langsung, bisa lama tergantung jadwalnya, tetapi dilakukan pada hari yang sama. Waktunya listening 30 menit (40 soal), reading 60 menit (40 soal), writing 60 menit dan speaking 15 menit.

Listening dibagi menjadi 3 sections yang semakin lama semakin sulit. Reading juga dibagi menjadi tiga sections yang juga semakin lama semakin sulit. Tetapi seringkali kesulitan tiap section sangat bergantung kepada background knowledge yang kita miliki.

Listening tidak seperti TOEFL yang berhenti tiap soal, tetapi dengan pembicaraan mengalir dalam beberapa blok soal tertentu, misalnya soal pertama sampai kelima. Pada section terakhir, pembicaraan biasanya mengalir untuk blok soal 30-40. Ketepatan mendengarkan dan membaca prediksi soal sangat penting. Bentuk jawabannya bervariasi mulai multiple choice, menulis angka, menulis kata (maksimal 3 kata), mengisi kolom,  dll. Artinya seringkali harus teliti karena kesalahan spelling (misalnya S/ES di belakang) menentukan skor.  Di akhir listening, disediakan 10 menit untuk mentransfer jawaban ke lembar jawaban.

Reading dibagi menjadi tiga sections yang bentuk soalnya bervariasi. Beberapa model soal yang sering keluar adalah pilihan Yes, No, Not Given (atau True, False, Not Given), Paragraph matching, paragraph heading, matching, multiple choice, mengisi kolom dls. Menurut petunjuk dan pengalaman, jawaban biasanya sesuai dengan urutan di bacaan, tetapi pengalaman terakhir saya kemarin, tidak demikian.  Tidak ada waktu khusus untuk menyalin jawaban di lebar jawaban yang ditulis dibalik jawaban listening. Continue reading “Tips Test IELTS”

Spelling Bee EF Yogyakarta sucks

Ini cerita tentang kompetisi Spelling Bee yang diselenggarakan English First (EF) Yogyakarta tadi siang  (3/4/2011) di Taman Pintar Yogyakarta. Acara ini merupakan acara puncak dari Edufest 2011. Spelling Bee adalah kompetisi untuk anak SD dan SMP (tergantung level) yang pada intinya meminta anak untuk mengeja kata dalam bahasa Inggris. Ketika juri mengatakan PUPPET misalnya, peserta mengejanya menjadi P-U-P-P-E-T. Pesertanya sekitar 30-40 anak dari beberapa SD di Yogyakarta dan kemudian dipilih tiga orang untuk memperebutkan juara 1,2 dan 3. Seleksi dari 40 peserta menjadi 3 juara dilakukan di sebuah ruangan tertutup dalam empat babak. Setelah terpilih, ketiga peserta terbaik maju ke atas panggung dan menjawab pertanyaan juri.

Ketiga peserta terbaik itu adalah Jilan, anak saya yang ikut kompetisi untuk pertama kalinya, Afkar, putra mas Gaffar kedua dari dosen dan rekan kerja saya di kampus, dan seorang anak lagi. Jilan dan Afkar mewakili SD Al Azhar 31 Yogyakarta yang dengan mudah ditandai dari baju seragam dan rompi yang rapi. Peserta terbaik lainnya, setelah diundi menempati Meja A, Jilan meja B, dan Afkar meja C. Saya akan ceritakan bagaimana proses pemilihan juara berlangsung dan mengapa saya dan mas Gaffar memutuskan untuk meminta Jilan dan Afkar turun dari panggung sebelum selesai.

Kompetisi juara ini terdiri dari dua babak. Pada babak pertama, setiap peserta mengeja kata yang dipilih secara acak dari toples. Setiap peserta memiliki 6 kesempatan untuk menjawab. Juri terdiri dari 4 native speakers yang membacakan soal secara bergantian.

Saya melihat panitia, termasuk juga juri, baik secara sengaja maupun tidak melakukan kecurangan yang menguntungkan peserta A. Beberapa kecurangan yang menjadikan kami menarik diri dari kompetisi tersebut adalah:

Pertama, pada babak pertama, peserta A dengan sangat-sangat jelas, salah mengeja STRAWBERRY, akhiran yang seharusnya (Y), diucapkan (I). Anehnya, juri memberi kesempatan kedua untuk menjawab lagi setelah terlebih dahulu juri membaca soal sekali lagi dan akhirnya jawaban kedua benar. Dalam babak ini, karena  kecurangan tadi, nilai tiap peserta menjadi sama yaitu 5. Padahal, Satu kesalahan yang dilakukan Jilan dan satu kesalahan yang dilakukan Afkar, Juri langsung mengatakan INCORRECT. Satu-satunya soal yang diucapkan dua kali oleh juri dan memberi kesempatan kedua bagi peserta A dari 18 soal yang disampaikan di babak pertama adalah kata STRAWBERRY.

Continue reading “Spelling Bee EF Yogyakarta sucks”

Tidak Terbayangkan

Terduduk di kamar hotel Santika Sepinggan Balikpapan, mau tak mau, akhirnya saya tergerak untuk menulis sesuatu tentang Gayus seperti yang tertayang di Metro TV. Ada hasrat untuk menahan diri menulis tentang Gayus terutama ketika digempur dengan agenda yang menumpuk.

Indonesia memang sangat unik. Kejahatan yang terjadi sering sekali berada di luar nalar kita. Artinya, seluruh bayangan saya tentang kejahatan, kejahatan yang terjadi lebih buruk daripada bayangan terburuk itu. Ada banyak sekali contohnya, misalnya ketika Sumanto nekat memakan bangkai perempuan tua mbok Minah, tetangganya yang meninggal beberapa hari sebelumnya karena penyakit dalam. Saking anehnya, tidak ada pasal yang bisa dikenakan untuk pemakan bangkai. Sumanto dihukum karena dianggap mencuri mayat. Proses mutilasi dan pembuatan Sop Mbok Minah, sehingga hanya menyisakan sedikit daging di bagian kemaluan, tak terkena pasal karena memang kejahatan model ini tidak pernah dibayangkan akan terjadi.

Lainnya, soal Ayin yang akan dibebaskan bersyarat minggu depan. Ayin penyogok aparat kejaksaan memiliki penjara yang lebih nyaman daripada hotel berbintang, lengkap dengan karaoke, AC, Kulkas, tempat tidur empuk, ruang rapat perusahaan, permainan anak-anak, perawatan kulit dan peralatan SPA. Untuk kemewahan inipun, Ayin tak kena pasal apapun.Karena sekali lagi, kejahatan model begini tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Contoh yang lebih kontemporer misalnya Nurdin Halid, memerintah PSSI dan menentukan wasit yang bisa memberi finalti dari dari penjara untuk kasus korupsi. Nugroho Besoes, menjadi Sekjen PSSI sejauh ingatan saya tentang sepakbola. Belum lagi kasus narapidana yang sengaja ditukar dengan orang lain dengan bayaran 10 juta. Saya kira ini juga tidak ada pasal yang bisa menjeratnya secara spesifik, karena kejahatan ini tidak terbayangkan sebelumnya.

Gayus tentu saja mendapatkan peringkat tertinggi saat ini. Hanya sekian tahun bekerja, dirinya sudah mampu mengumpulkan ratusan milyar rupiah, belum termasuk yang tidak ketahuan. Ketika ditahan di Rutan Brimob selama Juli-November 2010, dirinya pernah keluar tahanan sebanyak 68 kali, dan terungkap ketika ada wartawan foto di Bali yang menangkap gambarnya memakai wig ala kadarnya. Setelah isu Bali mereda, muncul lagi bukti Gayus pergi ke Singapura, Malaysia dan Makau. Gayus menggunakan paspor asli dengan foto berkacamata.

Seperti saya, anda boleh membayangkan sebuah kejahatan dengan sejahat-jahatnya, dan sayangnya kenyataannya kejahatan yang terjadi tetap lebih jahat dari bayangan tersebut. Agak sulit membayangkan kondisi Indonesia saat ini. Apa kata-kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi ini?

Timur Pradopo pernah berjanji akan mengungkap kasus Gayus ke Bali dalam sepuluh hari. Selain ingkar terhadap janjinya, tugasnya sekarang menjadi semakin berat yang mungkin menjadi sebuah mission impossible. Membongkar bagaimana Polisi bisa disuap ibarat menghancurkan korps polisi yang harus dipertahankannya. Siapa yang berani menanggung jika hasil dari seluruh pembongkaran itu berakhir dengan pembubaran Polisi, karena memang  hampir semuanya bisa dibayar? Continue reading “Tidak Terbayangkan”

Merinding

Ketika Indonesia dikalahkan Uruguay 1-7, saya hanya menonton babak pertama dan baru tahu skor itu pagi harinya. Waktu itu, saya sempat berpikir, apa bangganya menjadi bagian dari Indonesia? Menegasikan kaos yang ditawarkan Amri, bikinan PPIA (Perkumpulan Pelajar Indonesia Australia) yang cukup sering dipakai di kampus dengan tulisan besar PROUD TO BE INDONESIAN.

Coba bayangkan, Indonesia yang memiliki penduduk lebih dari 230 juta jiwa, tak mampu menyediakan 11 pemain berikut beberapa pemain cadangan, untuk bisa cukup bernama di sepakbola, bahkan hanya untuk level Asia Tenggara. Setali tiga uang dengan itu adalah bulutangkis. Sedikit demi sedikit, pemain-pemain Pelatnas tumbang, bahkan di babak-babak awal melawan pemain yang tidak diunggulkan, Asian Games kali ini menunjukkan hal itu. Hal ini jauh berbeda dengan suasana pemutaran film KING produksi ALENIA di Coombs Building hampir setahun lalu. Nia Zulkarnaen sempat terisak ketika di akhir film, hampir seluruh penonton berdiri, memberikan apresiasi yang tinggi terhadap karya tentang keteguhan mengejar cita-cita itu. Semangat nasionalisme kami terangkat sedemikian tinggi. Begitu bangganya menjadi Indonesia.

Apakah semangat nasionalisme mendadak menjadi tinggi ketika kita tinggal di luar negeri? Bisa jadi jawabannya adalah “ya”. Nasionalisme adalah rasa emosional. Seperti rasa yang lainnya, ia begitu dibutuhkan justru ketika menjauh. Mirip-mirip suasana rindu kepada kekasih. Semakin jauh, semakin rindu.

Tetapi begitu menginjakkan kaki kembali ke Indonesia, sontak seluruh rasa itu seperti hilang. Di Jakarta sana, kejahatan yang tidak bisa dibayangkan terjadi dengan sangat terang-terangan. Lihatlah kasus Gayus yang menonton pertandingan tenis internasional ketika seharusnya berada di bawah pengawasan polisi. Sejak Juli, sudah 68 kali Gayus pergi dari tahanan. Polisi begitu gampang disogok, hukum begitu gampang dibeli.

Di panggung derita yang lain, bibir atas Sumiati hampir hilang akibat pukulan kayu bertubi-tubi. Lebih konyol lagi adalah solusi bapak Presiden yang terhormat, dengan mempersenjatai TKW yang diberi Handphone. Bapak presiden gagal melihat sumber dari masalah, akar masalah, atau meta-masalah. Meta-masalahnya adalah adanya ketimpangan relasi kuasa antara TKW dan majikan yang menganggapnya sebagai budak, disamping managemen TKW yang buruk, bukan kepada akses komunikasi. Relasi kuasa yang timpang tidak dapat diselesaikan dengan memberi HP sebagai sarana komunikasi. Jangankan HP, paspor yang merupakan identitas personal saja disita majikan, apalagi HP. Belum lagi masalah charging baterai, pulsa dls. Jangankan berharap bapak Presiden menyelesaikan masalah, mencari akar persoalannya pun gagal. Dalam teori analisa kebijakan publik, kegagalan mencari meta-masalah dari sebuah fenomena adalah pangkal dari kebijakan yang salah. Ibarat dokter, kesalahan mendiagnosis sebab sebuah penyakit tidak pernah akan menghasilkan kesembuhan karena treatment yang pasti akan salah sasaran.

Di sudut Merapi yang dekat, para pengungsi masih menjerit. Pemerintah datang dengan janji membeli sapi, para pedagang mendekat dengan uang kontan. Stadiun Maguwoharjo yang menjadi sentra pengungsi, dipenuhi penjual mainan dan aneka macam jajanan. Jika pengungsi hanya membawa selembar baju, apa yang akan mereka lakukan ketika anaknya meminta mainan yang tidak gratis itu?

Kegagalan kita menjadi bangsa, yang menjadi salah satu sumbu sentimentalisme nasionalisme itu seolah merangsek pada seluruh aspek kehidupan. Benarkah? Ternyata tidak.

Continue reading “Merinding”