Buat Pak Presiden Tercinta

Saya membuka Kompas.com. Kakak saya sedang mudik menuju Magelang, saya harus membantunya memantau berita mudik. Tak sengaja saya membaca berita tentang ulang tahun Bapak Presiden yang ke 61. Saya turut mendoakan bapak disini, semoga bapak diberi pencerahan oleh Allah tentang sisa waktu bapak menjadi Presiden.

Kemarin saya menangis di jalan raya. Di depan saya, ada keluarga pemudik menggunakan motor berplat B. Satu anak balita diantara kedua orang tuanya. Si Ibu di belakang, kesulitan menutupi balita dari semburan asap knalpot yang berwarna hitam. Saya teringat kisah beberapa tahun lalu, saking eratnya sang ibu mendekap anaknya, tak sadar bahwa jalan nafasnya tertutup. Lama kelamaan, tubuh sang anak menjadi dingin, setelah malaikat maut menjemputnya. Saya gemetar membayangkan sang ibu yang menjadi pembunuh anaknya tercinta, tanpa sengaja. Keluarga itu, tentu tak segembira bapak besok pagi.

Saya tidak tahu apakah bapak Presiden membaca berita itu. Seandainya tidak, semoga sekian banyak orang yang selalu siap menerima perintah bapak, menyampaikan berita pilu itu. Saya berdoa agar bapak diberi ketabahan untuk mendengar semua cerita itu.

Pada saat bapak menjadi presiden untuk yang pertama, nama bapak tidak pernah masuk dalam bursa Presiden setahun sebelumnya. Bapak cukup luar biasa melaju mengalahkan kandidat terkuat Megawati dalam dua putaran. Bapak sangat terlihat santun di media. Gaya bapak memukai banyak orang untuk memilih bapak. Mungkin itu sebabnya, bapak menang satu putaran saja tahun lalu.

Tetapi selama enam tahun bapak menjabat presiden, setiap menjelang lebaran, cerita sedih yang sama selalu saja muncul. Macet disini, pasar tumpah disana, banjir disitu, terlambat di terminal dan seterusnya dan seterusnya. Berita menyedihkan mudik yang selalu panjang. Saya tidak tahu kenapa, bapak masuk lubang yang sama selama enam kali. Guru SD saya pernah bilang, kita dilarang masuk ke lubang yang sama dua kali, hanya orang bodoh yang melakukan itu. Saya tahu bapak bukan orang bodoh. Bapak adalah lulusan terbaik di Magelang dan berkarier dengan otak untuk menjadi jenderal.

Saya sedih karena kakak saya terpaksa harus menyewa mobil yang melelahkan, 23 jam dari Depok ke Magelang. Jalanan di Indonesia, selalu dipenuhi malaikat maut yang siap mencabut nyawa pengendara, terutama pemudik bermotor. Tak ada transportasi mudik yang nyaman dan kalau bisa murah. Panjang Rel Kereta api sekarang, habis dipotong-potong selama kita merdeka. Jika ada kereta, mungkin kakak saya bisa naik kereta dari Depok ke Magelang setelah transit di Yogyakarta. Sayang, rel Yogyakarta-Semarang, sudah habis terjual di tukang loak.

Saya berdoa, anak bapak yang bersekolah di Australia dan Amerika tentu bisa bercerita tentang bagaimana nyamannya mereka berkendara di sana dan menikmati angkutan publik. Jika malam hari, “lampu kucing” yang ada di kiri dan tengah jalanan menjadi lampu yang menyala terang. Jika menyalip, tidak perlu mengambil jalan seberang, dimana malaikat maut rajin menunggu. Kereta juga nyaman dan jarang sekali terlambat.

Saya tahu bahwa semua itu butuh biaya yang mahal. Tetapi saya yakin pula kalau semua itu bisa diusahakan, terutama jika uang pembangunan tidak dikorupsi. Saya sedih sekali bapak presiden memberikan remisi kepada para koruptor kemarin itu. Tapi saya maklum, mungkin itu upaya untuk menyenangkan bapak menjelang ulang tahun.

Saya hanya berdoa, semoga mudik tahun depan, pemudik motor semakin sedikit, dan fasilitas mudik semakin banyak. Syukur-syukur jalur ganda rel kereta api bisa dipercepat dan jalur lain selain jalur Daendels sudah bisa diandalkan. Semoga, saya tak perlu lagi mengingat petuah Guru SD saya.

Tentang Nikah Siri

Isu berkaitan dengan urusan bawah perut tak pernah surut, begitu juga dengan upaya proses pidana bagi pelaku nikah siri. Polemik segera muncul, berkaitan dengan diabaikannya hak anak dan istri korban nikah siri, sampai perdebatan moral dan religius tentang menikah. Sebenarnya, layakkah negara mengatur urusan pribadi seperti menikah?

Salah satu fungsi dari negara adalah mengatur seluruh kehidupan warga negara mulai sejak lahir sampai meninggal. Ketika lahir, anak harus dibuatkan akte kelahiran. Setelah ajal menjemput, ahli waris harus meminta surat kematian. Didalamnya termasuk urusan menikah.

Hanya saja, derajat pengaturan pemerintah untuk mengatur pernikahan sangat bervariasi sesuai dengan ideologi yang dianut sebuah negara. Di negara-negara liberal seperti Australia, apabila seseorang telah tinggal bersama (sejenis atau berlainan jenis) selama setahun atau lebih dan keduanya sepakat untuk saling mendaftarkan “pasangannya” dalam sistem administrasi negara, keduanya menerima hak dan kewajiban seperti pasangan yang menikah resmi, seperti pembagian gono-gini, pendapatan, pajak dls. Negara-negara liberal, lebih berfokus kepada dampak dari sebuah hubungan, daripada hubungan itu sendiri. Akibatnya, tidak ada perbedaan signifikan apakah yang bersangkutan tersebut menikah, kumpul kebo, berzina dan (mungkin) nikah siri. Selama masing-masing pihak tidak ada yang merasa terampas haknya, negara tidak memiliki peluang untuk masuk dalam urusan pribadi.

Hal ini sesuai dengan prinsip dasar dimana hukum dan peraturan lebih menakutkan daripada moral dan dogma seperti agama dan pranata masyarakat. Dengan tingkat religiusitas yang rendah, yang dapat dilihat dari sepinya tempat ibadah, alasan seseorang melakukan perbuatan baik dan buruk bukanlah harapan untuk mendapatkan pahala dan ancaman mendapatkan dosa. Alasannya lebih kepada kepedulian dan ketakutan mendapatkan sanksi hukum.

Continue reading “Tentang Nikah Siri”

Menyerang SBY

Kedaulatan Rakyat-Analisis-120110

Jika diperhatikan dengan seksama, dalam bulan-bulan belakangan ini, muncul serangan-serangan telak yang ditujukan kepada Presiden SBY. Ibarat serial silat SH Mintardja, penyerang mengeluarkan jurus-jurus dalam serangan sporadis. SBY pun dipaksa berkelit dengan jurus jitu lainnya, dibantu seluruh pendukung padepokan. Perang jurus ini tak akan berhenti  sebelum sang pendekar yang sedang memimpin dunia persilatan jatuh.

Serangan lebih gencar dilakukan terutama setelah SBY terpilih sebagai Presiden untuk yang kedua kalinya. Serangan pertama diungkapkan presiden sendiri dengan menunjukkan foto dirinya yang menjadi sasaran tembak kelompok teroris radikal Islam pada pertengahan Juli. Sampai sekarang, publik masih bertanya-tanya tentang motif dan strategic issues yang menjadi latar belakangnya. Semuanya tetap menjadi rahasia Densus 88.

Serangan berikutnya lebih mengarah kepada upaya untuk menyerang SBY secara non-fisik, yang jika berhasil, dampaknya sangat destruktif untuk struktur politik yang ada. Sasarannya adalah kepribadian dan karakter SBY baik sebagai pribadi maupun dalam bentuk kebijakan-kebijakannya. Tujuannya jelas, menciptakan distrust di lingkungan dalam SBY dan juga masyarakat terhadap pemerintahan.

Menariknya, serangan yang diarahkan kepada SBY ini tidak ditunjukkan dalam bentuk vulgar dan langsung, tetapi bermain cantik dengan menggoyang orang-orang dekat Presiden. Jika pilar-pilarnya telah rapuh, bangunan akan mudah runtuh. Mari kita urai serangan ini lebih mendalam.

Pada saat puncak konflik KPK-Polri, SBY diuji untuk mampu bertindak cepat dan gesit mengatasi isu ini. Serangan muncul dengan membangun citra SBY yang dianggap lamban dalam bersikap ditengah dukungan Chandra-Bibit berlangsung 24 jam lewat facebook. SBY jitu dalam mengelak serangan mematikan ini dengan membentuk Tim Delapan. Walaupun namanya sempat dicatut dalam rekaman Anggodo, secara umum publik puas atas respon SBY terhadap isu ini.

Serangan ketiga ditujukan khusus untuk dua figur penopang pemerintahan SBY, Boediono dan Sri Mulyani lewat kasus Century. Gabungan dua cendikiawan ekonomi dari dua universitas terbaik di Indonesia, UGM dan UI, menjadi back up penting Menko Ekuin Hatta Rajasa. Cara termudah menghancurkan pemerintahan SBY adalah menjatuhkan dua pilar kebijakan ekonominya. Dengan kondisi ekonomi terpuruk, presiden sangat mudah jatuh. Pengalaman 1998 jelas menunjukkan hal itu. Continue reading “Menyerang SBY”

FISIPOL bukan FISIP

Mungkin sudah ribuan kali saya menemukan kesalahan yang dilakukan media.  Bahkan harian sekaliber KOMPAS  (221009) pun salah menuliskan riwayat hidup Muhaimin dan Andi Mallarangeng yang ditulis berasal dari  FISIP UGM. Kesalahannya sebenarnya sederhana, tetapi sungguh fatal, paling tidak untuk saya yang berada di dalamnya. Kesalahannya terletak pada penulisan FISIP instead of Fisipol UGM !!!

Fisipol UGM yang berdiri sejak 1955 merupakan kepandekan  Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Hal ini berbeda dengan FISIP yang menjadi trade mark universitas lain. Mengapa FISIPOL, bukankah tidak efisien, mendingan FISIP, ngirit dua huruf.

Begini ceritanya…

Di FISIPOL UGM terdapat enam Jurusan, Jurusan Managemen dan Kebijakan Publik (dulu Ilmu Administrasi Negara), Jurusan Ilmu Hubungan Internasional, Jurusan Ilmu Komunikasi, Jurusan Politik dan Pemerintahan (dulu jurusan Ilmu Pemerintahan dan dulu sekali Jurusan Ilmu Usaha Negara), Jurusan Sosiologi dan Jurusan Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (dulu Sosiatri). Nah dari enam Jurusan tersebut, empat  memiliki gelar kelulusan S.IP (Sarjana Ilmu Politik) dan dua memiliki gelar kelulusan S.Sos (Sarjana Sosial). Artinya wajar jika POLitiknya lebih ditekankan daripada Sosialnya. Mengingat kalau keduanya dipanjangkan terkesan wagu, misalnya menjadi FISOIPOL. Gak pantas sama sekali.

Selain itu, kata FISIP terkesan berupa singkatan yang belum selesai. Berbeda dengan FISIPOL, sepertinya mantep dan POL, dan tuntas sampai ujung.  Kalau gak percaya coba anda ucapkan. Suku kata POL ini penting karena membuat hati jadi lega. Ibaratnya, kalau FISIPOL ini tuntas sampai puncak, sedangkan FISIP baru pemanasan doang hehehe… hush!!!

Ketika singkatannya sedikit dipanjangkan, walaupun kurang nyaman, menjadi Fakultas Isipol, sejajar dengan Fakultas Teknik, Fakultas Filsafat dan Fakultas Kedokteran, tetap lebih indah dibanding Fakultas ISIP UGM. Apa boleh buat, nama fakultas kami memang  panjang dari 18 fakultas yang ada di UGM, hanya kalah panjang dari MIPA. Sekalipun nama Fakultas lain dipanjangkan (FK UGM menjadi Fakultas Kedokteran UGM), nama FISIPOL tetap saja disingkat menjadi Fakultas Isipol. Disingkat pun tetap lebih panjang dari nama Fakultas Hukum.

Tapi lebih penting daripada itu sebenarnya adalah karena memang itu namanya. Sejak dulu namanya adalah Fisipol UGM, jadi mengurangi dua huruf berarti mengganti nama. Coba kalau sampeyan namanya GUNAWAN saya kurangi dua nama menjadi GUNAW gimana, apa sampeyan rela? Belum lagi kolega saya yang namanya NOVA, cuba saya kurangi dua menjadi NO, kan bisa repot dia ketika ada orang tanya “what is your name?” trus dijawab “NO.” Kan dikira nggak mau temenan. Lebih sengsara jika namanya Anjar, coba dibuang dua huruf menjadi Anj , repot lah, dikira misuh.

Jadi sekali lagi nama fakultas saya Fisipol UGM, jangan dikurangi, jangan ditambah-tambah.

Musnahnya Nama Lokal Indonesia

Dari iseng-iseng di semester break kali ini, kalau diamati,  ternyata banyak hal menarik dalam proses pemberian nama anak. Teman-teman saya, teman-teman adik dan kakak saya, memberi nama anak mereka dengan nama yang tidak berbahasa Indonesia dan tidak berbahasa daerah. Bahkan dalam lingkup extended family, nama anak-anak didominasi oleh nama dengan bahasa Arab untuk kami yang Muslim. Setelah saya cermati, ternyata nama kedua anak saya pun juga bisa dibilang terjangkiti virus ke-Arab-an tersebut. Gejala apakah ini?

Cobalah anda perhatikan nama anak-anak dan balita sampai setidaknya usia sepuluh tahun, terutama dari kelas menengah perkotaan Indonesia. Dominasi nama-nama berbahasa Arab terbukti sangat dominan. Nama perempuan Zahra misalnya, sangat laris belakangan ini, entah sebagai nama depan atau nama belakang. Nama seperti Raihan, untuk laki-laki, juga tidak kurang menarik penggemar.

Sebenarnya, tren nama Arab sudah muncul sejak Islam pertama kali menyebar di Indonesia. Buku sejarah menyebut Islam masuk ke Indonesia sekitar abad 11-12. Beberapa temuan artefak menunjukkan Islam telah datang lebih dulu, sekitar abad 7 (misalnya temuan stempel di bangkai kapal di perairan Cirebon). Sejak ditemukannya makam Fatimah binti Maemun di abad 11 di Gresik, nama-nama Arab menghiasi tren nama di Indonesia. Continue reading “Musnahnya Nama Lokal Indonesia”

Electionist dalam Sistem Presidensial

Banyak pihak memperkirakan angka Golput akan naik pada pemilihan 2009 dengan berbagai alasan, mulai dari kontestasi politik, regulasi hingga kinerja KPU. Faktor yang jarang diperbincangkan tetapi penting berkaitan dengan bosannya pemilih karena terlalu banyaknya pemilihan. Mungkinkah ini menjadi faktor utama tingginya Golput dan bagaimana hubungannya dengan sistem presidensial yang dipakai Indonesia saat ini?

Dalam praktek pemilu di banyak negara, tingkat partisipasi politik dalam pemilu dihitung bukan berdasarkan pada pemilih yang tidak hadir (Golput) tapi dihitung berdasarkan tingkat pemilih yang hadir (voters’ turnout). Munculnya fenomena terbalik di Indonesia disebabkan antitesis atas dominasi Golkar di era 70 an yang tersimbolkan dalam pilihan frasenya: Golput sebagai lawan dari Golkar. Jika di luar negeri pemilu diupayakan untuk meningkatkan jumlah voters’ turnout, di Indonesia pemilu diusahakan untuk menurunkan jumlah Golput.

Tidak dapat dipungkiri, pemilu merupakan elemen terpenting demokrasi. Demokrasi hanya bisa hadir dalam partai politik yang tumbuh bebas yang bertarung dalam pemilu yang jujur (Duverger 1963). Hadirnya institusi pemilu yang mantap juga sangat vital dalam konsolidasi demokrasi. Selain itu, pemilu juga sarana efektif untuk menyalurkan partisipasi politik rakyat dan menjamin terpilihnya elit politik yang sesuai dengan keinginan rakyat. Sejak reformasi, pemilu di Indonesia bisa dikategorikan jujur dan menjadi rujukan kisah sukses terkait dengan konsolidasi demokrasi di negara berkembang.

Continue reading “Electionist dalam Sistem Presidensial”

Berhenti Merokok

Menurut data badan kesehatan PBB, WHO 2004, di tahun 2002 lebih dari 750 ribu orang Indonesia meninggal akibat rokok. Mereka menghabiskan lebih dari Rp 100 triliun dalam setahun untuk membeli lintingan tembakau dan cengkeh itu. Data demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia 2008 menunjukkan, 93 persen pecandu rokok adalah orang dewasa, sedangkan di bawah 20 tahun mencapai 7 persen.

(Tempointeraktif.com diakses tanggal 27 February 2009)

Saya mencoba berhenti merokok setelah 12 tahun rutin memasukkan Tar, nikotin, irritants dls ke paru-paru setiap hari. Rokok saya  (dulu) Sampoerna A Mild warna merah, walaupun sering merokok apapun jika kepepet :razz:. Bila tiap batang AMild mengandung 0.1 mg nikotin, setidaknya sudah 8760 mg terhisap selama 12 tahun dengan 20 batang perharinya. Mengapa saya berhenti merokok dan bagaimana caranya?

Pengetahuan tentang bahaya merokok sudah sangat mudah didapatkan saat ini. Hanya dengan sedikit googling, ribuan artikel tentang bahaya rokok sudah muncul. Dari sekian artikel itu, hampir tidak ada tidak ada penelitian ilmiah yang kontra terhadap bahaya rokok bagi kesehatan. Toh, walaupun pengetahuan telah dimiliki, tak mudah untuk berhenti.

Mengapa berhenti merokok?

Pertama, karena saya ingin berhenti. Ini syarat penting yang harus dimiliki.

Kedua, istri saya benci pada rokok. Kebencian ini meningkat drastis ketika di Canberra. Selama ini, rokok saya diimpor dari Sumedang dan harus membayar cukai import $48 per slop. Tapi hal ini bukan perhitungan matematis semata. Jika hanya mengandalkan hitungan ekonomis, tentu keputusan berhenti merokok sudah datang dari dulu. Berhenti merokok adalah simbol bagaimana mencintai istri lebih dalam daripada mencintai diri sendiri:oops:.

Ketiga, merokok di Australia sangat-sangat tidak nyaman. Di Australia, merokok adalah perbuatan yang lebih buruk daripada drinking. Drinking adalah gaya hidup, merokok adalah kecerobohan hidup. Di Indonesia berbeda. Merokok dipandang sebagai ‘kenakalan’ atau keburukan dengan strata terendah. Waktu di kampung Bogeman, saya sering mendengar ibu-ibu yang mendiskripsikan kenakalah pria 20an tahun dengan berkata: ” Wah, dia itu  baik banget lho, merokok saja tidak.” Jadi, jika seseorang tidak merokok, dianggap alim, baik dan berbudi dan jauh dari Molimo. Tidak sedikit juga (baik laki-laki atau perempuan) yang melihat rokok adalah ekspresi kejantanan laki-laki. Pada sisi yang lain, jika perempuan merokok, dianggap sebagai perempuan terjelek ahlaknya. Nah di Australia, mau merokok sangat repot. Disamping lokasinya yang harus minimal 10 meter dari building, keinginan merokok menjadi siksaan berat hampir di setiap musim. Di musim dingin, keinginan merokok dikalahkan oleh dinginnya suhu yang membekukan jari-jari, di musim panas anda tahu sendiri, mana enak merokok kala cuaca 38 derajat?

Bagaimana berhenti merokok?

Continue reading “Berhenti Merokok”

Ponari

Di Jombang, gara-gara menemukan batu berbentuk belut setelah hampir disambar petir, Dukun tiban Ponari (9 tahun) setiap harinya dikunjungi ribuan orang untuk berobat. Pada hari Minggu 8/2/2009, “pasien” Ponari diperkiran mencapai 30 ribu orang. Hitungan ini didasarkan pada kupon antrian yang dibagikan. Sudah ada empat orang meninggal di lokasi. Saya tergelitik untuk menulis kasus Ponari berkaitan dengan mindset bangsa Indonesia saat ini, terutama berkaitan dengan decision making processes. Jangan-jangan, kita sering salah melangkah karena asumsi dan ekspektasi kita yang keliru dalam melihat sebuah fenomena.

Jika anda sering menonton pertandingan sepakbola Liga Indonesia, anda bisa membayangkan betapa banyaknya angka 30 ribu itu. Dua minggu yang lalu, saya menonton acara Inagurasi Australian of the Year yang diisi antara lain oleh pidato PM Kevin Rudd dan pementasan musik, sehari sebelum Australia Day. Penonton diperkirakan 30 ribu orang. Luar biasa banyaknya angka itu. Dalam hajatan terpenting di Australia ini, “hanya” 30 ribu orang yang hadir. Saya tidak bisa membayangkan jika jumlah itu terkumpul setiap hari.

Sekian banyak orang, berkerumun setiap hari di rumah desa milik orang tua Ponari, tentu bukan kategori Berita Tidak Penting seperti yang ada di posting terdahulu. Politik angka menjadi penting, mengingat angka tersebut bukan hasil dari sebuah rekayasa, tapi hadir dalam sebuah keadaan sadar dan tanpa mobilisasi. Hal ini menunjukkan mindset bangsa Indonesia sekarang ini. Khususnya di bidang kesehatan.

Pembangunan bidang kesehatan menjadi isu penting di seluruh Indonesia. Saya berani menjamin, propaganda para Caleg yang pasti selalu didengungkan adalah penyediaan dan pembenahan di sektor kesehatan. Memajukan Pendidikan dan Kesehatan merupakan dua hal penting yang menjadi tonggak bangsa ini untuk maju. Keduanya merupakan basic public services yang harus dipenuhi pemerintah. Ini asumsi dasar kita orang-orang “rasional”.

Jangan-jangan pengambil kebijakan salah menentukan asumsi. Ternyata, yang dibutuhkan oleh masyarakat Jombang dan Jawa Timur bukanlah modernisasi Puskesmas, dengan menambah unit laboratorium, dokter berpengalaman dan ruangan rawat inap. Yang dibutuhkan ternyata hanya sekedar sebuah sugesti. Kasus Ponari menempeleng pengambil kebijakan khususnya di sektor kesehatan. Masyarakat tidak percaya pada instutusi kesehatan yang dengan susah payah dibangun dengan dana tidak sedikit.

Continue reading “Ponari”

Bendera Dewa

Liburan begini, setelah berita politik tuntas, iseng-iseng masuk di bagian selebriti. Ahmad Dhani dilaporkan Roy Suryo ke polisi karena dianggap menghina bendera merah putih di klip Dewa Perempuan Paling Cantik di Negeriku Indonesia. Saya sempatkan menulis tentang bendera dan nasionalisme, karena masalah ini menyangkut Dewa, grup favorit ketika SMA dan Ahmad Dhani adalah pentolannya.

Bendera, bagi orang Indonesia sangat penting artinya. Bendera bukan sekedar symbol. Ia bagai jimat yang harus selalu dirawat dan dijaga. Setiap senin, selama setidaknya 12 tahun, kita harus menghormat ke bendera merah putih yang diarak ke tiang dalam sebuah momen inti di Upacara Bendera. Sedikitnya 624 kali (belum termasuk hari kenegaraan dan acara diluar sekolah) kita menghormat kepada bendera dengan sikap hormat yang sudah ditentukan. Sikap ini, direproduksi terus menerus hingga bendera bukanlah kain 2 x 3 yang berwarna merah dan putih. Kain ini menjadi begitu sakral sehingga seolah-olah nasionalisme bisa ditentukan dengan cara kita memperlakukan bendera.

Ketika SMA dulu, saya ikut seleksi menjadi Bantara, sebuah tingkatan dalam Pramuka Penegak. Di SMA saya posisi bantara sungguh prestisius. Bagaimana tidak, setiap Jumat sore, hanya para Bantara lah yang mendapatkan priviledge mengajarkan ilmu kepramukaan kepada seluruh siswa kelas 1 selama 3.5 jam dan Pramuka ini sifatnya wajib. Walaupun masih ada Pembina di ruang Guru, para Bantara mendapatkan kebebasan luar biasa selama 3.5 jam itu. Bantara mendesain kurikulum selama setahun, menentukan prioritas pengajaran, menentukan pengajar diantara bantara sendiri, membuat buku panduan, menciptakan metode dls. Kegiatan ini diakhiri dengan camping 3 hari 4 malam yang juga didesain dan dilaksanakan Bantara. Di sela-sela semua kegiatan ini, masih ada kesempatan lirak lirik adik-adik kelas. Karena banyak hal yang bisa dipelajari ketika menjadi bantara, seleksinyapun sedemikian berat, ketat dan lama.

Continue reading “Bendera Dewa”

Berita tidak penting

Anda pernah membaca berita yang dikategorikan tidak penting? Saya yakin sudah. Berita tidak penting ini misalnya berita tentang gantung diri siswi SMU kelas 2 di Bandung yang menunggak 80 ribu untuk biaya sekolah swasta dan hutang 135 ribu ke tetangga. Masak sih ini berita tidak penting?

Nah disinilah masalahnya. Menurut saya ini berita penting. Berita ini mampu mengekspresikan secara nyata kondisi Indonesia. Berita remeh-remeh ini menunjukkan tingkat keberadaban kita sebagai suatu bangsa.

Terdapat dua cara melihat kondisi riil sebuah negara. Cara pertama dengan membaca berita “penting”yang berkaitan dengan bagaimana manajemen negara dijalankan. Berita-berita “penting”menghiasi halaman depan koran, dikirim banyak orang di kolom opini dan menjadi analisis berbulan-bulan kemudian. Misalnya berita carut marut pelayanan masyarakat yang tak kunjung usai, sistem pemilu yang tidak stabil setelah sepuluh tahun reformasi, korupsi (termasuk di dalamnya bribery), penegakan hukum yang tidak selesai, juga operasi preman yang belakangan marak.

Continue reading “Berita tidak penting”

Made in Indonesia

Seberapa pentingkah penduduk Indonesia membeli produk dalam negeri? Bagaimanakah implikasi pilihan konsumen Indonesia terhadap pilihan konsumsinya?

Banyak yang tidak menyadari dan menganggap produk luar negeri selalu lebih bagus daripada produk bikinan bangsa sendiri. Hal ini tidak sepenuhnya benar, malah lebih sering menjerumuskan. Sejak puluhan tahun silam, program Aku Cinta Indonesia (ACI) yang salah satunya mempromosikan produk Indonesia telah dikampanyekan, tapi sepertinya hasilnya belum menggema. Padahal kita telah punya SNI (Standar National Indonesia) guna memastikan produk ini telah melewati serangkaian uji coba dan terbukti layak dikonsumsi. Kecintaan produk Indonesia masih kurang, padahal di luar negeri, produk kita diakui.

Ketika berwindow shopping melihat barang bekas dijual kembali di Village des Valeurs di Montreal, saya bertemu dengan Canadian yang tidak begitu fasih berbahasa Inggris, dan hanya lancar berbahasa Perancis. Dia bertanya waktu itu,

“Where are you come from?”

“Indonesia” I said.

Diluar dugaan, dia lalu mendemonstrasikan dengan bahasa tarzan dan jari menunjuk ke kakinya kemudian mengacungkan jempol sambil berkata “good and strong.” Dari pertemuan singkat itu saya tahu, dia menyukai sepatu buatan Indonesia karena bagus dan kuat. Bayangkan, sepatu bekasnyapun masih diakui kehebatannya, apalagi kalau baru?

Continue reading “Made in Indonesia”

Gaji Guru, Dosen dan Ibu

Seiring dengan dinaikkannya prosentase anggaran pendidikan di APBN 2009 menjadi 224 trilyun Rupiah, hampir bisa dipastikan gaji guru dan dosen PNS akan naik. Di dalam berita-berita, harus diakui, gaji guru lebih banyak mendapat perhatian dibandingkan dengan dengan gaji dosen. Disamping jumlahnya yang jauh lebih banyak, guru memberikan pengajaran kepada setidaknya empat jenjang pendidikan dengan jumlah siswa yang banyak sekali, mulai TK hingga SMA. Sedangkan dosen “hanya” mengajar mahasiswa yang lebih terseleksi, baik secara kapasitas dan terutama financial. Semakin lama, lulusan SMA yang bisa kuliah lebih terseleksi secara ekonomi daripada kemampuan akademisnya. Setidaknya itu yang saya amati dalam 10 tahun terakhir. Oleh karena itu,  jika nasib guru lebih ramai diperbincangkan, hal ini sangat-sangat masuk akal. Di sisi lainnya, muncul banyak komentar berkaitan dengan profesionalitas guru. Apakah kenaikan gaji mampu menjamin profesionalitas guru?

Kebetulan saya berada dalam dua dunia tersebut. Ibu saya adalah guru SD di pedesaan di Kabupaten Magelang. Walaupun kami selalu tinggal di rumah milik nenek di jantung Kota Magelang, Ibu dan Bapak (yang juga PNS dinas Perikanan Provinsi Jateng yang bertugas di Kab. Magelang) belum pernah bekerja di Kota Magelang. Artinya, setiap pagi, bapak harus bermotor mengantar ibu mengajar di Kecamatan Bandongan, 10 kilomater di sebelah barat Magelang dengan turunan dan tanjakan tajam melewati sungai Progo dan kemudian  menempuh 25 kilometer ke Kecamatan Mungkid  di sebelah utara Magelang tempat beliau bekerja. Ritual ke Bandongan tetap dilakukan hingga sekarang setelah bapak pensiun empat tahun lalu. Ini belum seberapa, dulu ibu harus berjalan kaki untuk mengajar dan berangkat jam 5 subuh, melewati jembatan bambu di atas sungai progo. Karena lebar sungai Progo yang lebih dari 70 meter, jembatan bambu selalu bergoyang ketika diseberangi, termasuk rintangan ketika banjir  dan jembatan putus. Tetapi lulusan-lulusan muda dari SPG (Sekolah Pendidikan Guru), tak pernah mengeluh mendidik siswa-siswanya. Dari ibulah, saya belajar tentang idealisme dan konsistensi.

Sepanjang yang saya tahu, ibu tidak pernah mengeluh tentang rendahnya gaji guru. Bagi beliau, kehidupan guru dengan gajinya tentu lebih baik daripada orang tua siswa-siswa didiknya. Begitu seringnya ibu bercerita tentang orang tua yang tak mampu membayar BP3. Begitu sering pula ibu mendatangi sendiri rumah-rumah orang tua yang sedang kesusahan itu dengan jawaban yang nyaris sama, bapaknya buruh tidak tetap dengan penghasilan yang tidak tetap pula, anaknya banyak dan istrinya di rumah mengurusi anak-anak yang banyak itu. Beberapa kali orang tua murid yang menyempatkan diri mampir ke rumah di sela-sela bekerja menjadi buruh bangunan, tukang becak atau kuli angkut di kota Magelang dan cerita mereka juga hampir seragam, mencari solusi bagaimana agar anak mereka dapat terus bersekolah dan adakah pihak yang dapat membantu pembayaran sekolah anaknya. Sejak kecil, saya akrab dengan air mata orang tua yang ingin anaknya tetap bersekolah, ketika takdir menyempitkan berbagai pilihan yang ada. Mereka bukan orang tua yang punya cita-cita “muluk-muluk” agar anaknya menjadi sarjana. Mereka hanya ingin anaknya lulus SD dan bisa membaca dan menulis, walaupun tidak terlalu lancar. Paling tidak, setingkat diatas bapaknya yang tidak lulus SD atau ibunya yang belum pernah membayangkan bagaimana rasanya bersekolah. Jika anggaran pendidikan tahun 2009 dipatok sampai 224.000.000.000.000 rupiah, hal ini seharusnya lebih banyak dialokasikan untuk mengurangi atau menghapuskan derita para orang tua tadi.

Continue reading “Gaji Guru, Dosen dan Ibu”

Berpuasa dengan Gembira

Malam ini Ramadhan telah tiba dan tawarih pertama baru saja selesai ditunaikan oleh beberapa gelintir muslim Canberra. Tidak ada penyambutan, tidak ada spanduk “marhaban ya Ramadhan” seperti yang biasa ditemukan di gang-gang dan masjid kampung. Di beberapa kampung yang walaupun memakai spanduk yang sama dari tahun ke tahun dengan hanya diganti angka tahunnya, tetap gempita menyambut Ramadhan. Siapa tahu ada malaikat yang kebetulan sedang ‘patroli’ dan memberikan berkah ke seluruh kampung. Di negeri ‘kafir’ ini, hanya ucapan persiapan di milis-milis dan SMS yang mengingatkan bahwa sekarang sedang diskon ampunan. Tapi itu sudah cukup dan tentu terlalu muluk untuk mengharap lebih.

 

Jumat kemarin saya mengobrol dengan seorang teman dari Mongolia. Temen saya in tidak habis pikir bagaimana mungkin manusia bisa tahan tidak makan dan minum selama 14 jam. Ini adalah kebingungan kedua setelah dia tahu sebelumnya bahwa muslim sholat 5 kali dalam sehari. Tak mau saya menambah kepusingannya dengan cerita ‘lobi’ Nabi Muhammad SAW dari kewajiban sholat 50 kali dan sholat tarawih di malam hari. Sentuhan dengan muslim-muslim Indonesia sepertinya merupakan  hal yang baru baginya. Hal ini dibuktikan dengan  ketidaktahuannya akan arti ‘fasting’, bahasa Inggris untuk berpuasa. Puasa baginya adalah ‘out of my mind’, ‘unimaginable’, dan ‘imposible’.

  Continue reading “Berpuasa dengan Gembira”

Pasar Rejowinangun

pasar gedheBanyak sekali yang terjadi selama enam bulan di Canberra. Pertama-tama meninggalnya Soeharto yang walaupun penting, tapi terasa jauh. Berita berikutnya adalah kelahiran dua keponakan baru dari kakak saya Aan dan adik saya Taufan, lelaki dan perempuan. Diantara kedua berita gembira ini, perjumpaan dengan pakde Dargo kemarin ternyata adalah perjumpaan terakhir. Diantara beberapa event-event penting tersebut, ada beberapa peristiwa yang juga berubah, salah satunya terbakarnya Pasar Rejowinangun di Magelang, salah satu tempat bersejarah yang tidak akan pernah ditemukan lagi dalam bentuk yang sama pada kamis 26 Juni 2008 magrib.

Semangat yang diperlukan untuk berangkat sekolah ke luar negeri tidak hanya kemampuan akademis dan bahasa, termasuk salah satunya kesiapan “kehilangan” dinamika di Indonesia, di kampung halaman dan keluarga. Dinamika kehidupan orang-orang yang dekat dan berkaitan dengan pernikahan, kelahiran, kematian dan yang lainnya harus diiklaskan. Kehilangan paling mudah tentu saja rindu pada gorengan, lotek dan pindang keranjang. Tapi toh jika pulang nanti tetap ada tukang gorengan dan lotek, apalagi pindang keranjang. Tapi saya tidak pernah mempersiapkan diri mendengar berita Pasar Rejowinangun terbakar dan tidak pernah lagi melihat bentuknya seperti dulu.

Continue reading “Pasar Rejowinangun”

Euro 2008

Piala eropa tengah digelar. Jutaan orang rela menanti di depan TV tiap dini hari untuk menyaksikan negara demi negara tumbang oleh negara yang lain. Sepakbola memang menjadi hiburan yang istimewa, membius dan menyebarkan candu. Tidak berbeda dengan rokok. Mungkin ini sebabnya, pabrik rokok selalu gemar beriklan di ajang bola. Tapi posting kali ini bukan posting tentang pencinta bola, apalagi tentang industri rokok. Ini adalah tulisan laki-laki yang tidak menyukai bola, yang menjadi minoritas di tengah komunitas laki-laki lainnya.

 

Lelaki Indonesia suka sekali dengan bola. Saya tidak tahu sebabnya. Sepakbola adalah olahraga tradisional yang peraturannya hanya berubah sedikit sekali dalam 300 tahun. Apa istimewanya sebuah bola yang ditendang ke kanan, kiri, depan belakang untuk dapat masuk di gawang yang besar itu. Gawangnya pun juga dijaga oleh kiper, tentu saja susah. Nah karena susah, mengapa menjadi menarik? Apanya yang istimewa?

 

Tapi fakta memang membuktikan bahwa sepakbola menjadi sarana social yang sangat ampuh dalam komunitas. Dalam komunitas lelaki, prestise bisa tiba-tiba terangkat jika hapal betul dengan nama-nama pemain, sejarah hidup dan kariernya, sampai urusan asmaranya. Lelaki tipe begini, bisa dipastikan mendominasi percakapan. Para lelaki, terutama remaja, lebih mudah menghapal semua pemain asing sebuah negara, daripada ibukota provinsi di Indonesia, yang menjadi pelajaran wajib di IPS. Mayoritas lelaki Indonesia, layak menjadi komentator sepakbola tingkat nasional.

 

Pengalaman saya dengan sepakbola tidak begitu menyenangkan, baik di lapangan ataupun di depan TV. Pertandingan ‘profesional’ pertama terjadi ketika kelas 1 SMP. Continue reading “Euro 2008”