Review Perbandingan Beasiswa Dikti, AAS dan LPDP

Tidak mudah mencari perbandingan beasiswa yang apple to apple. Tetapi bagi yang masih bingung membandingkan beasiswa yang sekarang semakin banyak jumlahnya bagi WNI, berikut perbandingan ketiga beasiswa yang cukup populer di Australia antara Dikti yang dikhususkan bagi dosen, Australia Award Scholarship dan LPDP yang terbuka bagi seluruh WNI. Dikti dikelola oleh Direktorat Pendidikan Tinggi, Kementrian Riset dan Dikti. Beasiswa Dikti diambilkan dari APBN, sementara LPDP dari endowment fund yang sama-sama dikelola oleh Kemenkeu. Dana LPDP berasal dari endowment fund yang dicetuskan semasa menkeu Sri Mulyani yang diinvestasikan di berbagai usaha. Sehingga, keterlambatan Dikti salah satunya disebabkan karena anggaran terlambat di APBN. Jadi istilahnya, Dikti tidak pegang uang, uangnya di Kemenkeu yang juga mengelola LPDP. Sebelum masuk ke review, silakan perhatikan tabel berikut. Table berikut ini perbandingan antara Bayu Dardias (Dikti, enrolled Dec 2012), Burhanuddin Muhtadi (AAS, enrolled April 2013) dan Haula Noor (LPDP, enrolled July 2014).

Disclaimer: Perbandingan ini berdasarkan penuturan yang bersangkutan (termasuk kesediannya dimasukkan namanya di tulisan ini) dan buku panduan beasiswa masing-masing misalnya iniini, ini dan info perpanjangan disini untuk Dikti atau disini untuk LPDP dan juga komentar teman-teman di FB. Kantor kami bertiga berada di satu lantai di Hedley Bull Building, jadi perbandingan ini cukup bisa memberikan gambaran nyata atas kasus nyata. Mis-akurasi dimungkinkan terjadi terutama ketika ada kebijakan baru.   Continue reading “Review Perbandingan Beasiswa Dikti, AAS dan LPDP”

SMP in Australia 1: Mendaftar

phpW7A4gGPMIni tulisan tentang orang tua yang berdebar-debar saat anaknya akan masuk SMP. Sepertinya baru kemarin mengantarkan anak pertama saya ke gerbang TK, eh kok tahu-tahu sekarang sebentar lagi sudah SMP.

Tapi saya yakin tidak sendirian. Ada jutaan orangtua yang berdebar karena anak pertamanya akan masuk SMP. Tahap untuk memulai mencari SMP favorit sudah kami lakukan sejak pertama kali datang ke Australia bulan Juni lalu. Tetapi ternyata, system penerimaan High School di Australia, tepatnya di Sydney sudah dimulai sejak kelas 5 SD. Mereka mengikuti semacam test untuk menentukan masuk ke SMP-SMP favorit

Ada tiga jenis High School Negeri di NSW. Pertama, (just) High School yang menerima murid yang biasanya berdasarkan lokasi tempat tinggal. Anak-anak yang tinggal di lingkungan dekat dengan Continue reading “SMP in Australia 1: Mendaftar”

Berjilbab di Australia

php0c1bwzPMBagaimana rasanya berjilbab di Australia? Negara “kafir” dengan hanya 2% penduduknya yang beragama Islam. Negara dimana mereka yang tidak percaya Tuhan lebih banyak daripada yang percaya. Ini cerita anak saya yang kedua, yang berjilbab di sekolahnya.

Sejak datang ke Australia untuk yang kedua kalinya pada Mei 2013, kami tinggal di daerah muslim di Wiley Park, satu stasiun setelah Lakemba yang dijuluki the Muslim Capital of Australia. Anak saya sekolah di Wiley Park Public School yang mayoritas muridnya beragama Islam. Beberapa gurunya juga berjilbab. Di SD ini, dia punya banyak teman yang berjilbab, jadi tak beda jauh dengan teman-temannya di Al Azhar Yogya.

Dua bulan kemudian, karena berbagai sebab, terutama karena jaraknya yang jauh dari kampus ibunya di UNSW, kami memutuskan untuk pindah di daerah Timur Sydney di Randwick. Dengan pindah rumah, Ibunya bisa jalan kaki ke kampus dan saya, saat di Sydney, bisa menumpang di perpustakaan UNSW. Selain lebih efisien, lokasi baru lebih strategis untuk banyak hal, mulai dari kampus, kota, pantai sampai makanan Indonesia.

Anak-anak kemudian pindah ke salah satu SD Negeri terbesar di bagian Timur Sydney, di Randwick Public School. Di Randwick PS jumlah muridnya ada 819 orang tersebar mulai TK sampai kelas 6 (K-6). Selain SD negeri favorit, perpustakaan Randwick PS terbaik, baik untuk SD negeri dan Swasta, tidak hanya di Sydney bahkan untuk seluruh NSW, ini claim Parent Coordinator waktu ada Parents’ meeting beberapa waktu lalu. Daerah Timur Sydney, walaupun banyak orang Indonesia, adalah daerah lama yang didominasi orang barat, dengan budaya barat, tidak seperti di bagian Barat yang relative lebih heterogen.

Sayangnya, kekecewaan sudah datang sejak awal mula. Continue reading “Berjilbab di Australia”

Apakah Indonesia Membutuhkan Australia ?

Screen Shot 2013-12-08 at 8.33.23 AMTidak ada yang menginginkan hubungan Indonesia dan Australia terus memburuk. Seperti juga, tidak ada yang menginginkan anda bermusuhan dengan tetangga sebelah. Sebagai catatan di masa depan, berikut analisis untung rugi ketergantungan Indonesia-Australia

Pertama, posisi geografis Indonesia jelas lebih menguntungkan dibandingkan Australia yang berada di pojok dan bertetangga dengan Antartika. Australia membutuhkan Indonesia untuk seluruh hubungan, baik laut dan udara untuk menjangkau mitra dagang penting yang seluruhnya berada di sebelah Utara Australia. Bagi Indonesia, Australia adalah satu-satunya mitra di Selatan.

Kedua, beberapa rakyat Australia yang tidak mengikuti kondisi Indonesia dan menganggapnya negara miskin dan butuh bantuan Australia dalam bentuk AusAid. Ancaman menghentikan AusAid akan membuat Indonesia melunak atau setidaknya melupakan kasus penyadapan. Padahal, AusAid yang tahun depan nilainya $ 640 juta atau sekitar Rp. 6,5 T hanya setara dengan 0,0033% dari total APBN 2014 Indonesia yang berjumlah Rp. 1.842 T. Sejak awal terpilih, Abbott justru memotong anggaran AusAid secara signifikan termasuk restrukturisasi AusAid dengan menggabungkan dalam Kemenlu Australia (DFAT). Secara matematis, angka itu tidak signifikan tetapi diperlukan dalam bentuk managemen pemerintahan dan transfer ilmu. Bagaimanapun, Australia adalah negara maju terdekat dari Indonesia. Indonesia membutuhkan Australia dalam bentuk policy transfer dalam banyak hal.

Ketiga, pada tahun 2030, Indonesia diperkirakan akan masuk sepuluh negara terkuat secara ekonomi di dunia, mengalahkan Australia. Saat Indonesia terus meningkatkan APBN nya, Australia justru memotong budget untuk sektor-sektor strategis. Tahun ini sudah ada pemotongan anggaran untuk perguruan tinggi, disamping efisiensi pegawai di banyak sektor. Dalam kerangka jangka panjang, Australia jelas membutuhkan Indonesia secara ekonomi karena berpotensi menjadi pasar potensial karena banyaknya jumlah kelas menengah.

Keempat, setiap tahun, melalui AusAid, Australia membiayai sekitar 800 mahasiswa Indonesia untuk belajar di Australia. Jumlah ini sangat kecil dibandingkan dengan 17 ribu mahasiswa Indonesia yang belajar ke Australia dengan biaya sendiri. Indonesia adalah penyumbang kelima terbanyak mahasiswa asing di Australia. Pendidikan merupakan sektor ekonomi unggulan Australia yang paling diharapkan. Kehilangan mahasiswa Indonesia, merupakan kerugian yang tak akan diharapkan Australia. Sebaliknya, mahasiswa dengan biaya sendiri dari Indonesia bisa berpindah ke Eropa atau Amerika.

Kelima, Australia sangat bergantung kepada Indonesia terkait isu manusia perahu yang menjadi isu utama politik nasional. Pentingnya isu manusia perahu di Australia setara dengan korupsi di Indonesia. Para pencari suaka yang banyak berasal dari Timur Tengah dan Asia Selatan, masuk Indonesia melalui Malaysia dan kemudian menyeberang ke Australia melalui laut. Kerjasama Indonesia-Australia sejauh ini cukup efektif menangkal manusia perahu. Sudah lebih dari lima ribu orang berada di pusat detensi di Indonesia. Jika kerjasama ini berhenti total, ribuan pencari suaka yang sekarang masih bersembunyi di Indonesia akan sangat merepotkan Australia. Australia harus melobi Papua Nugini agar menambah pusat detensinya di Pulau Manus dan Pulau Nauru yang kondisinya masih dibawah standar.

Keenam, jika kerjasama penanggulangan terorisme terhenti, Australia akan terancam. Selama ini, upaya menangkal teroris dilakukan dengan menjadikan Indonesia sebagai benteng untuk tidak masuk ke Australia. Australia sadar betul bahwa tanah mereka adalah lahan menggiurkan bagi para teroris. Daripada menembak polisi yang akan sholat Subuh, lebih baik “berjihad” ke Australia. Australia memiliki seluruh syarat ideal teroris: kulit putih, bukan muslim dan sekutu terdekat Amerika. Dengan sedikit kursus bahasa Inggris, ribuan teroris yang ada di Indonesia akan siap menjemput 70 bidadari mereka di Australia.

Ketujuh, penghentian ekspor sapi ke Indonesia tahun 2011 merugikan tidak hanya Indonesia, tetapi juga Australia. Ratusan peternak Australia, terutama di negara bagian Queensland hampir bangkut karena larangan ekspor. Beberapa peternak bahkan membunuh sapinya agar makanan tetap tersedia. Dampak ini masih dirasakan Australia sampai sekarang. Indonesia memang harus memikirkan swasembada sapi. Tapi sapi bukan melulu hanya bisa didapatkan dari Australia. Negara lain seperti Brazil, New Zealand dan India harus dijajaki. Ketergantungan terhadap sapi Australia harus dihentikan. Indonesia juga bisa memaksimalkan lahan menganggur di Indonesia, terutama di luar Jawa.

Kedelapan, Indonesia secara politik sama sekali tidak tergantung dengan politik Australia. Sejak reformasi, isu hubungan luar negeri dengan Australia tidak pernah ditawarkan dalam pemilu. Sebaliknya, seluruh calon pemenang pemilu di Australia akan selalu berjanji menjaga hubungan baik dengan Indonesia.

Kesembilan, hubungan dagang dengan Australia, walaupun terus meningkat, bukan negara prioritas Indonesia. Australia hanya menyumbang 2,8% impor Indonesia dan ekspor Indonesia ke Australia hanya 2,6% (DFAT 2012). Walaupun bertetangga, Australia hanya menempati urutan ke 12 dari mitra dagang Indonesia.  Ekspor utama Australia ke Indonesia seperti minyak, kapas dan terigu, mudah dicari Continue reading “Apakah Indonesia Membutuhkan Australia ?”

Méndém

manfaat jaheMéndém dalam bahasa di kampung saya di Bogeman Magelang artinya mabuk, biasanya khusus untuk mabuk yang disebabkan oleh pengaruh minuman. Kadang méndém juga diasosiasikan untuk makan sesuatu melebihi batas, seperti méndém duren, méndém gadung dls.  Saya mau membandingkan méndém cara Australia dan méndém model proletar seperti kita.

Di Australia, mereka yang sudah lebih dari 18 tahun boleh méndém sepuasnya. Toko-toko ndém-ndéman tersebar merata di “kampung-kampung”. Saya belum pernah menemukan deretan toko di sebuah kawasan belanja yang tidak ada toko ndém-ndéman-nya. Kalau belum 18 tahun, remaja Australia dilatih méndém dengan minum bir dengan kadar alcohol yang rendah. Bir di Australia (dan juga di negara barat lainnya) sangat lazim diminum hampir kapan saja. Jika masih anak-anak, latihannya dengan minum minuman bersoda. Saking lazimnya, minuman bersoda itu seperti teh di Indonesia. Melengkapi setiap makanan dan menghiasi hampir semua menu.

Minuman beralkohol, misalnya anggur juga menghiasi hampir seluruh menu makan dan lazim disajikan dalam setiap acara. Jadi kalau ada acara makan malam dan tidak memiliki anggur untuk sedikit méndém, akan sama anehnya dengan tidak memiliki teh panas manis di kampung-kampung di Jawa. Tuan rumah akan sangat malu. Waktu saya masih tinggal di asrama kampus khusus mahasiswa PhD di University House ANU, setiap Rabu petang kami dijamu dengan menu makan malam lengkap (buffet) mulai dari opening, main course dan dissert. Di meja juga selalu ada satu botol anggur putih dan satu botol anggur merah selain air putih. Continue reading “Méndém”

Ramadhan ini: Maafkan Aku Anakku

Di bulan puasa ini, bapak minta maaf membawamu berpuasa di negeri seberang, dimana tetangga bawah mengetuk pintu jika engkau bersuara terlalu keras saat sahur.

Di negeri orang kafir ini, kau tak bisa merasakan nikmatnya berpuasa seperti yang dulu pernah bapak alami. Kau tak akan tahu bagaimana serunya pulang keringatan di dini hari, setelah berkeliling kampung membangunkan orang sahur, dengan bedug kecil yang tertambat di gerobak.

Engkau juga mungkin tak akan pernah merasakan, bagaimana bapakmu rela berjalan ke Masjid Besar untuk sholat Subuh, dan setelahnya berjalan-jalan di Pecinan. Tentu saja sambil menyalakan satu – dua mercon cap Leo di depan toko-toko atau di manapun yang bapakmu mau.

Waktu bapak seusiamu, nyaris tak pernah menghabiskan waktu di rumah. Bulan puasa selalu penuh dengan kejutan, permainan dan teman-teman baru.

Menjelang berbuka, makanan-makanan serba manis mendadak hadir di meja makan. Eyang putrimu Continue reading “Ramadhan ini: Maafkan Aku Anakku”

Canberra-Sydney-Canberra

 

RadarSudah sebulan ini saya bolak–balik tiap minggu menapaki rute Canberra-Sydney. Keluarga tinggal di Wiley Park di Sydney karena istri sekolah di UNSW, sementara saya di ANU Canberra. Posting ini akan mengurai tentang pengalaman beberapa kali melintasi Sydney-Canberra.

Jarak kedua kota itu adalah 266 km yang bisa ditempuh dalam 3-3,5 jam. Jalan nya mulus dengan variasi semen dan aspal dengan 2-3 jalur masing-masing yang di tengahnya dibatasi vegetasi semak-semak.  Kecepatan maksimal yang diperbolehkan dilewati adalah 110 km/jam walaupun sangat mudah memacu mobil sampai 150 km/jam.

Di jalur Canberra-Sydney, ada dua Safety T-Cam yang otomatis memotret nomor kendaraan jika melebihi 110 km/jam. Di jalur Sydney-Canberra ada tiga Safety T-Cam dengan dua camera mengukur average speed. Di sepanjang jalur itu, polisi lalu lintas yang sudah dibekali teknik kamuflase yang luar biasa canggih, bisa memotret kendaraan anda menggunakan Lidar (radar tembak). Tempat polisi ini tidak dapat diprediksi dan ada di sepanjang lintasan yang sueeepi itu. Sistem pengawasan dan control terhadap kecepatan ditingkatkan dari waktu ke waktu. Denda untuk speeding dan parking di NSW merupakan salah satu pemasukan utama pemerintah negara bagian NSW. Sehingga setiap mobil yang melintas di jalur tersebut akan menjadi sasaran pemasukan pemerintah (dan mungkin juga polisi).

Sistem denda  yang dipadu dengan system IT yang diberlakukan secara konsisten membuat denda menjadi mekanisme efektif untuk menambah pendapatan negara. Setiap tahun, mobil akan terdata ke dalam system pajak yang dibuktikan dengan tempelan stiker di kaca depan. Biaya pajak mobil per tahun sekitar $830. Jika tertangkap kamera anti ngebut, sebuah “surat cinta” akan dikirimkan ke alamat rumah sesuai dengan alamat registrasi berdasarkan plat nomor. Jika tidak membayar  denda, yang tergantung berapa KM/jam pelanggaran, dalam 43 hari, akan ada denda lanjutan karena terlambat membayar. Jika tetap tidak membayar denda, mobil anda tidak akan bisa diregistrasi untuk tahun berikutnya atau SIM nya dicabut. Jika mengendarai mobil tanpa registrasi dan tertangkap, berpotensi menghuni hotel prodeo. Jadi pendeknya, system hukum yang impersonal tidak memungkinkan pelanggar untuk bernegoisasi dan mengakalinya.  Continue reading “Canberra-Sydney-Canberra”

Indonesia Australia Dialogue Day 2

550037_10151474396141072_929621083_nPada hari kedua, Indonesia-Australia Dialogue diisi dengan dialog yang diawali dengan oleh trigger speaker yang terdiri dari beberapa tema yang dilanjutkan dengan dialog dan tanya jawab. Menlu Australia, Bob Carr memberikan sambutan untuk acara ini dan pada saat makan siang, Shadow Foreign Minister Julie Bishop dari Partai Liberal memberikan pidato setelah makan siang.

Saya ditempatkan di baris kedua dialog, walaupun justru menjadi sangat dekat dengan peserta dialog utama. Jarak saya dengan Julie Bishop di deretan depan hanya 5 meter. Sebenarnya bentuk mejanya melingkar, hanya karena di belakang pembicara utama ada podium, maka deretan ini dapat dikatakan deretan depan. MEreka yang duduk di deret ini adalah Julie Bishop, Pak Dubes, Convener (John McCarthy dan Rizal Sukma), Menlu Bob Carr dan Mantan Menlu Hassan Wirrajuda.

Acara hari kedua intinya memplenokan temuan dalam diskusi yang dilakukan kelompok kecil di hari pertama tentang Education and Culture, Science, Business dan Media. Sebelum dimulai dialog, diawali dengan trigger speech. Bedanya dialog dengan seminar adalah, dalam dialog, trigger speaker tetap duduk di posisi duduk yang sama dan setara, dan pertanyaan peserta tidak hanya ditujukan kepada trigger speaker, tetapi kepada seluruh peserta. Peserta lain juga dapat menjawab dan berkomentar terhadap pertanyaan yang diajukan. Jadi pada prinsipnya lalu lintas pertanyaan bisa kepada siapa saja.

Acara diakhiri dengan mendiskusikan Continue reading “Indonesia Australia Dialogue Day 2”

Indonesia Australia Dialogue Day 1

550037_10151474396141072_929621083_nKawan di kantor, Colum Graham, buru-buru menunjukkan tarif Intercontinental Hotel Sydney begitu saya tunjukkan undangan menghadiri Indonesia Australia Dialogue. Harga termurah sekitar satu bulan gaji golongan IIIB.

Selain fasilitas hotel kelas satu yang langsung menghadap Harbour Bridge dan Sydney Opera House yang menjadi mascot Australia, peserta Indonesia Australia Dialogue ini juga kelas satu. Peserta adalah nama-nama yang sering sekali muncul di media Indonesia atau Australia. Ada mantan Menlu Hassan Wirajuda, Anies Baswedan (Paramadina/Indonesia Mengajar), Bachtiar Efendi (Fisip UIN Jakarta), Eva Sundari (DPR-PDIP), Rizal Sukma (CSIS), Abdillah Thoha (Advisor Wapres), Nadjib Riphat (Dubes), Dimas (Jakarta Post) sampai pebisnis John Riady (Lippo Group). Di pihak Australia ada Bob Carr (Menlu), Julie Bishop (Wakil Pemimpin Oposisi), John McCarthy (Mantan Dubes utk RI), Rodney Bloom (CSIRO), Stepan Creese (Rio Tinto), Andrew McIntyre (Dean at ANU), Tim Lindey (Unimelb), Mark Scott (ABC).  Jadi harap maklum jika saya sering sibuk minta foto karena semua nama-nama itu selalu muncul di TV dan berita Indonesia dan Australia. Bagi orang Jawa , penting untuk bersalaman dan berfoto sekaligus ngalap berkah, semoga kesuksesan yang diraih menular kepada saya.

Acara hari ini cukup padat, setelah afternoon tea, kami dibagi menjadi dua delegasi besar Indonesia Australia untuk mendengarkan (untuk delegasi Indonesia), penjelasan Dubes Continue reading “Indonesia Australia Dialogue Day 1”

Membuat Keris, Menulis Thesis

5pendawa5Setelah satu setengah bulan bertapa di padepokan ANU, saya baru menyadari bahwa sejatinya membuat tesis sama dengan membuat keris. Kalau toh ada yang berbeda, hal itu tidak esensial.

Pertama-tama adalah mengumpulkan bahan. Bahan untuk keris diperoleh dari tempat yang sulit, bahkan jauh. Tetapi sekarang lebih mudah karena sudah diidentifikasi beradasarkan nama kimia yang dimiliki masing-masing bahan tersebut. Bahkan sejumlah keris menggunakan bahan dari meteor yang berasal dari angkasa. Kasunanan Solo masih memiliki memiliki meteor ini yang disebut Kandjeng Kiai Meteor. Kasultanan Yogyakarta juga masih memiliki walaupun sisanya tinggal sedikit sekali. Terakhir, menurut alm Mpu Djeno, dibuat untuk keris pesanan HB X yang dikerjakan almarhum.

Membuat tesis juga demikian. Bedanya bahan-bahannya adalah buku dan tulisan-tulisan. Kalau dulu harus berburu tulisan di perpustakaan, sekarang lebih mudah melalui jurnal elektronik. Namun demikian, fungsi perpustakaan tak pernah betul-betul secara signifikan berkurang. Berburu bahan thesis ini bisa menarik karena tidak terbatas sumbernya. Tantangan terbesarnya justru memilahnya sehingga yang digunakan betul-betul yang dibutuhkan. Tanpa petunjuk yang jelas, bahan thesis ini seperti akan menyesatkan seperti di rimba raya.

Setelah bahan baku terkumpul, dimulailah proses pembuatan keris. Bahan baku yang awalnya sekitar 12 kg tersebut dibakar dengan suhu 1200  derajat celcius dan kemudian dibentuk. Dalam prosesnya, teknik membut keris disebut sebagai Damascus Technique yang mengadopsi gaya yang digunakan di Damaskus. Teknik ini adalah teknik lipatan dengan jumlah tertentu mengikuti bilangan 2, 4, 8, 16, 32 dan seterusnya sampai ribuan. Dalam proses lipatan ini, bisa dipadukan teknik tempaan tertentu sehingga menciptakan “gambar” di bilah keris yang disebut pamor. Nama pamor ini bermacam-macam misalnya Udan Mas, Blarak Sineret, Ilining Warih dst.

Dalam proses penempaan ini, bahan keris yang tadinya seberat 12 kg hanya menjadi keris dengan berat 0,6 kg atau menghilangkan 11,4 kg. Bagian yang menjadi keris ini adalah intisari dari bahan-bahan sebelumnya dengan kualitas terbaik. Bagian yang bukan inti dibuang. Inilah proses paling panjang dan paling melelahkan dari pembuatan keris. Hampir semua keris yang sudah jadi, akan dapat berdiri tegak karena proses simetris pada tiap bilahnya yang dibuat dengan sangat teliti.

Keris yang hampir jadi kemudian ditatah, diasah dan dihias sesuai dengan yang diinginkan. Keris dengan Pamor Nagasasra misalnya, menghabiskan waktu dan biaya yang sangat tinggi justru ketika dihias dengan emas, intan dan pemata. Bagian warangka atau sarungnya, dengan beberapa pernik-perniknya juga tidak kalah rumit dibuat. Setelah diasah dan diwarang atau diberi arsenic sebagai racun sekaligus pelindung bilah keris, keris jadi.

Continue reading “Membuat Keris, Menulis Thesis”

Menjadi Mahasiswa Australia (lagi)

Saat mendapatkan beasiswa ADS dan memulai studi di ANU lima tahun lalu, ada seingat saya semuanya mudah karena dua hal. Pertama, ada staff ADS yang membantu dan kedua banyak teman-teman yang satu program sehingga bisa saling mengingatkan.

Hal ini agak berbeda dengan kondisi sekarang, seolah seperti baru saja datang ke Canberra. Banyak hal yang saya lupa, misalnya terkait enrolment untuk kelas (jika ada). Prosedur dan caranya tentu bisa didapatkan dengan mudah di situs kampus, tapi bedanya dulu kami enroll sama-sama untuk pertama kalinya dengan dibimbing dari ADS Staff. Sekarang harus sendirian. Selain itu, karena dulu OSHC atau asuransi kesehatan dibayarkan oleh kampus dan saya hanya terima jadi kartunya, sampai sekarang saya belum beli OSHC. Masalahnya, butuh beberapa hari agar kartu ATM bank dikirim ke alamat rumah, tidak instan seperti di Indonesia. Untuk urusan rekening ini, kita memang lebih cepat.

Urusan lainnya yang cukup menyenangkan adalah bahwa mahasiswa PhD mendapatkan kantor yang bahkan sudah disiapkan sebelum saya datang. Kantor itu tak luas, kira-kira hanya 4×3 meter dan diisi dua orang. Tapi sampai saat ini kantor saya masih sendirian. Disediakan computer baru corei5 Dell dan jaringan internetnya. Hanya saja, saya tak bisa install program, apalagi program bajakan, harus lewat admin kampus. Kantor ini ternyata membantu banyak hal. Kalau dulu saat master gak ada kantor, repot juga harus nenteng buku perpustakaan kesana-kemari ditambah reading brick yang cukup tebal. Sekarang, masih leluasa tanpa tas ke perpus, karena ditinggal di kantor, jadi ada ruang transit yang ternyata sangat bermanfaat.

Saya juga mengalami hal lain yang seru yaitu tinggal di asrama mahasiswa. Kebetulan saya menggantikan (sublet) kawan dari Indonesia yang menengok istrinya ke Amerika selama dua bulan, kamarnya sementara saya pakai. Asrama ini ada di University House yang tidak ditawarkan secara online dalam pemilihan akomodasi kampus. UniHouse memiliki sekitar 200 kamar yang disewakan untuk tamu Universitas dan 61 kamar yang khusus disewakan untuk mahasiswa PhD. UniHouse dibangun tahun 1960 dan mengalami perbaikan di sana-sini. Di ANU, asrama favorit adalah Graduate House yang letaknya disamping UniHouse. Di GH, mahasiswa master boleh tinggal. Selisih harga keduanya tidak terlalu jauh, kalau UniHouse $22 / hari, di GH sekitar $23/hari.  Selain di GH dan Unihouse, ada beberapa bangunan lain misalnya ToadHall, tempat dulu saya tinggal dan yang baru:Unilodge.

Unilogde uni harganya bisa dua kali harga di GH karena bangunannya yang baru dan memang market yang disasar adalah mahasiswa atau professional yang bekerja di City Centre. Harganya minimal $275 per minggu (UniHouse hanya $172 perminggu setelah Utilities).

 Satu hal yang terulang adalah menjadi penghuni asrama yang semuanya bekerja dengan system sharing. Kamar mandi, toilet, dapur, dll harus sharing. Saat sharing, kita harus ingat akan kepentingan dan kebutuhan orang lain.  Kalau biasanya agak jorok, harus pintar menjaga diri karena kita tak ingin kejorokan orang lain juga mengenai kita. Disini hidup mahasiswa dari 5 benua dengan karakter yang tentu saja jauh berbeda, belum kita bicara agama, kebiasaan dan kulturnya. Menariknya, aturan yang tegas dan tempelan dimana-mana untuk menjaga toleransi ternyata mampu menyamakan kepentingan 5 benua itu dalam satu konsep: memikirkan orang lain.

Memikirkan orang lain ini bisa membuat orang Continue reading “Menjadi Mahasiswa Australia (lagi)”

Mengulang Sejarah IALF

Pagi 17 Desember 2012, adalah hari yang mendebarkan karena sore harinya  saya akan kembali lagi ke Canberra untuk study PhD. Ada dua hal yang harus saya lakukan hari itu. Pertama lapor ke Dikti di Gedung D lt. 5 untuk mengabil berkas yang harus di cap di kedutaan di Canberra dan kedua mengambil paspor di IDP Kuningan karena proses pengurusan visa dibantu IDP.

Urusan di Dikti relative lancar dan saya mendapat teman baru disana, dosen dari Unipa Manokwari yang juga alumni MAP UGM. Urusan mengambil paspor ini yang menarik. Setelah turun di halte TransJakarta Karet, saya naik ojek ke Kuningan. Entah bagaimana, tukang ojek ini tidak melewati jalan besar tapi menyusuri gang-gang dan jalan di Karet Belakang (Karbela) untuk sampai di Setiabudi Kuningan dimana IDP berada. Tukang ojek ini juga melewati Karbela 2, jalan (tepatnya gang) dimana lima tahun lalu saya menghabiskan 8 minggu untuk persiapan ke Australia.

Tukang Ojek ini seperti tahu persis sejarah hidup saya. Dia menyusuri jalan yang persis sama yang setiap hari saya tempuh menuju IALF. Dulu lokasi IALF adalah di sebelah IDP sebelum pindah beberapa meter mendekati kedutaan Australia. Saya memutuskan untuk turun di belakang Setiabudi One dan berjalan menyusuri kembali rute Karbela-IALF, melintasi jembatan penyeberangan dan sampai di Wisma Budi.

Setelah urusan Paspor beres, saya menengok ke bekas IALF yang saat ini digunakan sebagai kantor perusahaan swasta. Saya sempatkan juga turun di bawah, dan menyusuri basement yang sangat akrab. Terbayang jelas kenangan lima tahun lalu dimana kawan-kawan saya di 8w1 (2007) yang berlanjut sampai sekarang.

Seolah, perjalanan singkat ini adalah flashback persiapan ke Australia yang kedua kalinya. Sebuah pengalalan singkat yang menyenangkan.

Daftar Beasiswa Luar Negeri Dikti Yuk…

(13/8/2013) Karena populernya posting ini, saya perlu menambahkan beberapa hal penting di depan tulisan sebagai peringatan:

Pertama, sejak 2012 dana beasiswa yang semula disalurkan melalui universitas, diberikan langsung ke mahasiswa. Akibatnya, penerima beasiswa dari UGM tidak bisa mendapatkan dana talangan di tiap semester. Hal ini menyebabkan beasiswa selalu datang terlambat. Untuk tahun 2013 misalnya, beasiswa yang seharusnya datang bulan Januari baru masuk bulan April. 

Kedua, dari forum di milis dan berita, kemungkinan besar penyebab keterlambatan beasiswa ada dua: dibutuhkan kerjasama tiga kementrian agar dana bisa turun. Untuk kasus 2013, anggaran Kemediknas diberi bintang di DPR sehingga beasiswa tidak bisa turun tepat waktu. Kedua kinerja birokrasi di Dikti berikut lembaga outsourcingnya. 

Ketiga, dampak dari keterlambatan ini sangat banyak, mulai dari kesulitan hidup mahasiswa sampai tertutupnya akses ke perpustakaan dan sistem IT kampus yang bervariasi di berbagai universitas dan negara.

Oleh karena itu, sebelum anda menerima beasiswa DIkti, anda harus memastikan: anda punya tabungan yang cukup untuk hidup di luar negeri selama empat-lima bulan, atau anda bernegoisasi dengan pimpinan universitas untuk mendapatkan dana talangan selama masa tersebut. 

Tahun 2012 ini saya adalah penerima beasiswa pemerintah Indonesia yang disalurkan melalui Dikti. Banyak yang bertanya kenapa saya mendaftar beasiswa ini yang menurut banyak orang tidak kompetitif, banyak kekurangan dan dana yang minim. Padahal saya adalah mantan penerima beasiswa ADS yang sedikit banyak tahu seluk-beluk beasiswa dan sering ditanya tips lolos ADS.

Jawabannya tak mudah. Pertama, mulai tahun 2012, ADS mensyaratkan 4 tahun bagi mantan pelamar ADS untuk melamar kembali yang dihitung sejak cap kepulangan ke Indonesia. Saya pulang 13 Desember 2009 yang berarti baru bisa mendaftar untuk ADS 2014 atau bukaan dua tahun lagi. ADS akan mengumumkan shortlisted pada Desember 2014 dan kandidat yang dipilih pada Januari 2015. Paling cepat berangkat Juli 2015 atau molornya Januari 2016. Terlalu lama untuk usia yang semakin tua. Kedua, beberapa skema beasiswa lainnya, misalnya Endeavor, ALA, IPRS. Saya sudah mencoba ALA dan waktu itu bersamaan mendaftar Dikti. Waktu ALA, skor IELTS saya sudah kadaluarsa dan terlambat diberikan, walau sudah diemail untuk segera melangkapinya. Untuk Endeavor dan IPRS saya belum sempat daftar. Ketiga, beasiswa Dikti ini sangat bagus tapi miskin peminat. Mungkin rejeki saya disini. Ini yang akan saya tulis.

Beasiswa Luar Negeri Dikti adalah beasiswa paling mudah didapatkan untuk Dosen baik di Universitas negeri ataupun Swasta. Syaratnya ada beberapa disini, tetapi intinya cuma tiga: Skor bahasa Inggris mencukupi, diterima di sekolah pilihan di luar negeri dan mendapatkan ijin bagi pimpinan. Ini syarat yang mudah dibandingkan beasiswa lainnya.

Sayangnya target dan jumlah penerima BLN Dikti tiap tahun terus turun. Awalnya ditargetkan Indonesia bisa mengirimkan dosen untuk sekolah Master dan Doktor 1.000 orang per tahun. Dalam dua sampai empat tahun, Indonesia akan mendapatkan 1.000 dosen Master atau Doktor baru. Harapan tinggal harapan karena kenyataannya tidak banyak dosen yang memenuhi kualifikasi yang sebenarnya mudah tersebut. Ibaratnya, panitia beasiswa BLN Dikti sampai harus hunting untuk mencari calon penerima beasiswa. Hal ini tentu juga dialami penyelenggara beasiswa yang lain, demi mendapatkan calon penerima beasiswa. Hanya saja, beasiswa lain masih menyeleksi dari ribuan berkas yang memenuhi syarat, penyelenggara BLN Dikti mencari seribu yang memenuhi syarat saja sulit. Berikut Statistiknya yang dapat dilihat di http://studi.dikti.go.id

Seandainya ijin atasan diberikan, dua tantangan lain adalah Bahasa dan Acceptance Letter (disebut Offer Letter atau sebutan lain). Mari kita urai keduanya.

Untuk bahasa, misalnya Inggris, memang tak ada jalan lain kecuali secara serius mempersiapkan diri dengan belajar bahasa. Mahasiswa tak akan pernah bisa belajar kalau tak mengerti apa yang disampaikan dosen, tak bisa berbicara dalam bahasa yang dipakai dan tak faham bacaannya. Jika tak faham ketiganya, mana mungkin akan mampu menulis?

Jangan pernah membayangkan menjadi turis di negara tempat kita belajar, yang ada guidenya, ditunjukkan jalan kalau tersesat. Kalau hanya menjadi turis, tentu tak perlu belajar bahasa lokal. Tapi anda akan hidup dalam kehidupan yang berbeda dengan di Indonesia (kecuali Malaysia). Jadi bahasa adalah modal penting, tanpa itu, lupakan impian belajar di luar negeri. Sekali lagi lupakan.

Tentang LoA, ini juga sebenarnya mudah. Institusi pendidikan di Luar Negeri sebenarnya membutuhkan kita sebagai mahasiswa Internasional untuk mendongkrak reputasi dan ranking internasional mereka dan mendapatkan dana yang tidak sedikit.  Mahasiswa asing biasanya membayar lebih mahal dari mahasiswa lokal yang mendapatkan subsidi pemerintah. Tentu, tidak semua negara demikian. Jika anda bersekolah di Jerman, biaya sekolah Doktor di Jerman hanya 130 an Euro per semester, jauh lebih murah daripada di UGM :razz:

Cara mendapatkannya juga tak terlalu sulit, berikut langkah singkatnya untuk Doktor dan Master by Research with reference to Australian cases. Continue reading “Daftar Beasiswa Luar Negeri Dikti Yuk…”