Nasi Goreng Pak Pele

Salah satu menu klasik Indonesia yang bisa ditemui di hampir seluruh muka bumi adalah nasi goreng. Tak ada yang istimewa dari nasi hampir basi yang digoreng dengan bumbu standar yang tergeletak di dapur. Hanya saja, nasi goreng menjadi menu yang terkenal. Ketika ada acara lunch di Mc Tavish Hall McGill University awal Agustus 2005, nasi goreng disejajarkan dengan beberapa menu Asia lainnya seperti mie goreng dan fu yung hai. Tentu saja untuk acara makan siang di tengah summer, nasi goreng tentu bukan menu yang tepat. Apa boleh buat, dengan gaya masakan Cina yang tidak sepenuhnya enak dan halal, kami makan juga nasi goreng tersebut, berikut rasa syukur. Fenomena nasi goreng menjadi luar biasa karena Moira sampai susah payah cari nasi goreng di China Town, siang-siang lagi. Fenomena diatas tentu lebih sering ditemukan di Australia, dengan banyaknya lidah Indonesia yang selalu merindukan nasi goreng.

 

Nasi goreng sebenarnya adalah menu keterpakasaan. Continue reading “Nasi Goreng Pak Pele”

SIM

images.jpgimages.jpgimages.jpgSalah satu hal menarik yang ada di bumi Indonesia adalah fenomena SIM, Surat Ijin Mengemudi. Idealnya, setiap orang yang memperoleh SIM telah melewati serangkaian tes yang menunjukkan kapasitas yang bersangkutan sebagai pemegang SIM. Kemudian, proses perpanjangan SIM juga harus mengikuti logika yang sama. Seseorang yang telah memiliki SIM selama lima tahun dan akan memperpanjang SIM nya dianggap lebih mampu mengendarai kendaraan bermotor daripada ketika mengajukan SIM untuk pertama kalinya. Pengalaman lapangan membuat setiap orang menjadi semakin mahir menguasai kendaraan, bukan sebaliknya. Artinya, masuk akal ketentuan yang tidak mensyaratkan ujian ulang bagi pemohon perpanjangan SIM.

Sayangnya, kasus yang saya alami dan juga saya yakin dialami oleh sekian puluh juta rakyat Indonesia tidak menunjukkan fenomena tersebut. Saya akan menceritakan pengalaman menarik mengurus perpanjangan SIM A dan SIM C di Kabupaten Sumedang Jawa Barat sekitar akhir Mei 2007. Berikutnya sedikit analisis dari hasil pengamatan lapangan dan obrolan dengan beberapa orang. Berikut juga TIPS bagi anda yang ingin mengurus SIM.

Continue reading “SIM”

Generasi Friendster

tulisan ini datang dari obrolan di Jambusari bersama mas Ando dan mas Danang

 

Dalam sebuah kesempatan, seorang mahasiswa dengan mobil baru kebingungan mengerjakan skripsi untuk tugas akhirnya. Mahasiswa sebuah perguruan tinggi swasta di Yogyakarta tersebut bukan kebingunan untuk menentukan tema skripsi, metode yang dipilih, atau landasan teori yang menjadi arahan penelitian, tapi tergopoh-gopoh dengan kebingunan tentang persoalan sepele untuk kenalan dengan calon informan.

 

“Bagaimana cara memulainya mas Ando? Apa yang harus aku lakukan untuk bisa kenal dan mendapat informasi?” dan sederet pertanyaan lain yang sama sekali tidak berhubungan dengan tema skripsi sendiri. Pertanyaan yang muncul berupa pertanyan seputar tips-tips untuk mendapatkan informasi yang mau tak mau memaksanya untuk berkenalan dengan orang lain.

 

Continue reading “Generasi Friendster”

Strategi Mengemis

Di hampir seluruh jalanan di Yogyakarta, kita selalu menemukan sejumlah orang mengais rejeki dengan mengemis. Perempatan-perempatan besar dan ramai tak pernah sepi dari kehadiran pengemis. Sasaran mereka pengendara bermobil, entah mobil pinjaman, kreditan, atau mobil majikan, pengemis tak peduli. Pengendara mobil selalu diasumsikan memiliki lebih banyak uang daripada pengendara motor. Walaupun tak jarang pengemis yang meminta ke pengendara motor. Apa boleh buat, rotan tak pernah memberi, siapa tahu dari akar akan jadi rejeki.

 

Pengemis di Yogyakarta, seperti juga profesi lainnya, dituntut untuk berkembang dan kreatif. Mengemispun perlu strategi untuk menarik iba orang lain dan menyedekahkan uangnya, dan dengan begitu, makan malampun tak perlu dipikir terlalu serius lagi. Tulisan ini akan sedikit mengurai tentang strategi yang dipakai pengemis untuk mendapatkan rejeki lebih, yang ternyata berkembang dari waktu ke waktu. Continue reading “Strategi Mengemis”

Tahun Baru 2007

Hampir semua orang merayakan tahun baru 2007. Tahun baru kali ini, seperti tahun-tahun sebelumnya, dinikmati dengan berbagai cara. Orang tua melewatinya dengan menonton acara TV non-stop yang menyajikan acara yang buat mereka terlalu membosankan dan terlalu gaul. Setelah sedikit tengah malam, menjalankan aktifitas tidurnya. Muda-mudi adalah komunitas yang paling bergembira. Dimulai dari ngobrol, jalan-jalan dengan pacar, sampai dengan serius mempersiapkan acara khusus untuk tahun baru. Wira-wiri gak jelas menikmati dan mengikuti arus keramaian kota.
Ada sebagian kecil yang sadar dan percaya, tidak ada bedanya hari esok yang merubah kalender atau hari-hari sebelumnya dan hari yang akan datang. Toh penentuan tahun Masehi ini telah melewati sekian revisi, tidak seperti tahun Komariah yang relatif stabil. Jadi, tahun baru hanya sekedar identifikasi manusia, yang bisa jadi salah.
Dulu, masyarakat jawa sangat sakral memperingati Malam Satu Suro dengan ritual-ritual khusus yang intinya berdoa kepada Tuhan akan berkah di tahun mendatang. Sekarang, ritual ini sangat jarang ditemui.

 

Masyarakat kita tidak pernah sadar (seperti tulisan Ricklef) bahwa orang Jawa adalah satu-satunya komunitas di dunia yang memiliki perhitungan kalender paling kompleks dibanding semua komunitas di seluruh dunia. Kalender Jawa adalah penggabungan antara Perhitungan Komariah dengan Hindu-Budha-Shaka. Menariknya, kalender jawa yang berbasis kepada Kalender Bulan tidak dimulai dari Hijrah Nabi, tetapi meneruskan kalender Hindu-Budha-Shaka. Continue reading “Tahun Baru 2007”