Ibu-ibu Sosialita

Saya mendengar kata sosialita pertama kali ketika kasus Nunun Nurbaeti mencuat. Setelah itu, kata ini sepertinya sangat populer (atau mungkin notorious) digunakan. Tidak jelas siapa yang dirujuk pada kata “sosialita”. Ini adalah kata baru yang merekam perubahan kelas sosial baru di masyarakat kelas menengah dan menengah atas Indonesia. Jadi karena masih multitafsir, saya mencoba mendefinisikannya, dari pengamatan tidak terstruktur yang saya lakukan.

Kata “sosialita” lebih dahulu dipakai secara “official” dalam paket BlackBerry milik Telkomsel. Paket ini membedakan paket “bisnis” yang hanya bisa BBM dan Email, atau “full features” yang dapat digunakan untuk BBM, Email, jejaring sosial dan surfing. Paket sosialita hanya bisa digunakan untuk BBM, Jejaring Sosial dan Surfing, tanpa email. Menurut definisi Telkomsel, sosialita kira-kira adalah sekelompok orang (biasanya perempuan yang perlu untuk BBM dan update status di Facebook atau Twitter tetapi tak pernah mendapatkan kiriman email. Jaringannya biasanya lokal, atau maksimal interlokal dan BB serta seluruh jejaring sosialnya disetting dengan bahasa Indonesia.

Pengamatan lainnya seorang kolega kemarin “terpaksa” harus mengantar anaknya pentas di Hari Kartini 21 April, kolega ini mengeluh karena istrinya sedang sibuk, tetapi keluhan bukan karena ketidakiklasannya mengantar, tetapi kekhawatirannya bertemu “ibu-ibu sosialita” yang rajin nongkrong di sekolah anaknya. Dari sekelumit persepsi tentang ibu-ibu sosialita ini, mari kita coba definisikan. Tak semuanya tepat, tapi bisa menjadi petunjuk.

Pertama, dari ciri-ciri fisik, ibu-ibu sosialita ini umurnya kira-kira ibu muda 25 tahun sampai tidak terbatas. Pakaiannya selalu modis tetapi lebih sering overacting. Berdandan merupakan kewajiban utama. Rujukannya siapa lagi kalau bukan artis. Continue reading “Ibu-ibu Sosialita”

Kisah Tukang Permak Jeans

Saya punya langganan Permak Jeans sejak masih kuliah. Permak Jean adalah industry unik yang muncul di sekitaran kampus. Tugasnya sederhana, memotong celana jeans baru yang kebesaran, atau menambal jeans usang yang mulai robek di bagian dengkul, karena terlalu sering ditarik ulur dalam berbagai posisi kaki yang kebanyakan dipakai jalan kaki. Permak Jeans langganan saya ini letaknya di depan Fakultas Kehutanan UGM, di seberang selokan arah ke Klebengan, bersebelahan dengan tukang fotokopi.

Kiosnya tidak besar dan cukup nyaman untuk bekerja. Di dalam kios itu ada beberapa mesin jahit dan beberapa tumpuk celana jeans. Satu meja panjang seukuran celana normal yang dibentangkan dan rak untuk menyimpan celana jeans yang sudah jadi. Kiosnya mirip dengan puluhan kios permak jeans lain di seputaran kampus.

Ada perbedaan signifikan ketika kembali memendekkan celana jeans setelah sekian lama. Bedanya ketika kuliah dulu pesanannya lebih bervariasi, mulai dari memendekkan celana sampai menambah celana di bagian pantat dan dengkul. Tambalan dilakukan dengan menutup bagian yang sobek dengan potongan celana bekas pelanggan lain. Jadi walaupun tidak bolong, tetapi kenyamanan berkurang karena bagian yang ditambal menjadi lebih tebal. Sekarang umumnya hanya memendekkan saja. Berubah seiring meningkatnya kemampuan ekonomi.

Hal lain yang membedakan adalah, semakin lama, bagian bawah yang dipotong semakin panjang, menyesuaikan bertambahnya ukuran celana. Ukuran celana, sayangnya, menyesuaikan ukuran perut. Kalau dulu masih bisa melipat bagian bawah celana, sekarang, kalau dilipat lebih mirip patung orang-orangan di sawah.

Beberapa hari lalu saya memotongkan celana jeans. Waktu itu, kios permah dijaga oleh sang ibu. Beberapa hari kemudian ketika akan saya ambil, sang bapaklah yang menjaga. Saya lupa membawa slip pengambilan dan juga KTP. Ketika saya akan ambil bapak itu berkata

Continue reading “Kisah Tukang Permak Jeans”

Tips Test IELTS

Ini cerita tentang International English Language Testing System atau yang lebih singkt disebut IELTS. IELTS di Indonesia tidak seterkenal pendahulunya TOEFL, tetapi semakin lama semakin popular dan semakin banyak diterima di banyak universitas.

IELTS terdiri dari empat kriteria yang diukur kemampuannya: listening, reading, writing dan speaking. Tiga yang pertama dilakukan berurutan dan sebisa mungkin tidak keluar ruangan karena managemen waktu sangat penting. Sedangkan speaking dilakukan sesuai jadwal. Bisa langsung, bisa lama tergantung jadwalnya, tetapi dilakukan pada hari yang sama. Waktunya listening 30 menit (40 soal), reading 60 menit (40 soal), writing 60 menit dan speaking 15 menit.

Listening dibagi menjadi 3 sections yang semakin lama semakin sulit. Reading juga dibagi menjadi tiga sections yang juga semakin lama semakin sulit. Tetapi seringkali kesulitan tiap section sangat bergantung kepada background knowledge yang kita miliki.

Listening tidak seperti TOEFL yang berhenti tiap soal, tetapi dengan pembicaraan mengalir dalam beberapa blok soal tertentu, misalnya soal pertama sampai kelima. Pada section terakhir, pembicaraan biasanya mengalir untuk blok soal 30-40. Ketepatan mendengarkan dan membaca prediksi soal sangat penting. Bentuk jawabannya bervariasi mulai multiple choice, menulis angka, menulis kata (maksimal 3 kata), mengisi kolom,  dll. Artinya seringkali harus teliti karena kesalahan spelling (misalnya S/ES di belakang) menentukan skor.  Di akhir listening, disediakan 10 menit untuk mentransfer jawaban ke lembar jawaban.

Reading dibagi menjadi tiga sections yang bentuk soalnya bervariasi. Beberapa model soal yang sering keluar adalah pilihan Yes, No, Not Given (atau True, False, Not Given), Paragraph matching, paragraph heading, matching, multiple choice, mengisi kolom dls. Menurut petunjuk dan pengalaman, jawaban biasanya sesuai dengan urutan di bacaan, tetapi pengalaman terakhir saya kemarin, tidak demikian.  Tidak ada waktu khusus untuk menyalin jawaban di lebar jawaban yang ditulis dibalik jawaban listening. Continue reading “Tips Test IELTS”

Spelling Bee EF Yogyakarta sucks

Ini cerita tentang kompetisi Spelling Bee yang diselenggarakan English First (EF) Yogyakarta tadi siang  (3/4/2011) di Taman Pintar Yogyakarta. Acara ini merupakan acara puncak dari Edufest 2011. Spelling Bee adalah kompetisi untuk anak SD dan SMP (tergantung level) yang pada intinya meminta anak untuk mengeja kata dalam bahasa Inggris. Ketika juri mengatakan PUPPET misalnya, peserta mengejanya menjadi P-U-P-P-E-T. Pesertanya sekitar 30-40 anak dari beberapa SD di Yogyakarta dan kemudian dipilih tiga orang untuk memperebutkan juara 1,2 dan 3. Seleksi dari 40 peserta menjadi 3 juara dilakukan di sebuah ruangan tertutup dalam empat babak. Setelah terpilih, ketiga peserta terbaik maju ke atas panggung dan menjawab pertanyaan juri.

Ketiga peserta terbaik itu adalah Jilan, anak saya yang ikut kompetisi untuk pertama kalinya, Afkar, putra mas Gaffar kedua dari dosen dan rekan kerja saya di kampus, dan seorang anak lagi. Jilan dan Afkar mewakili SD Al Azhar 31 Yogyakarta yang dengan mudah ditandai dari baju seragam dan rompi yang rapi. Peserta terbaik lainnya, setelah diundi menempati Meja A, Jilan meja B, dan Afkar meja C. Saya akan ceritakan bagaimana proses pemilihan juara berlangsung dan mengapa saya dan mas Gaffar memutuskan untuk meminta Jilan dan Afkar turun dari panggung sebelum selesai.

Kompetisi juara ini terdiri dari dua babak. Pada babak pertama, setiap peserta mengeja kata yang dipilih secara acak dari toples. Setiap peserta memiliki 6 kesempatan untuk menjawab. Juri terdiri dari 4 native speakers yang membacakan soal secara bergantian.

Saya melihat panitia, termasuk juga juri, baik secara sengaja maupun tidak melakukan kecurangan yang menguntungkan peserta A. Beberapa kecurangan yang menjadikan kami menarik diri dari kompetisi tersebut adalah:

Pertama, pada babak pertama, peserta A dengan sangat-sangat jelas, salah mengeja STRAWBERRY, akhiran yang seharusnya (Y), diucapkan (I). Anehnya, juri memberi kesempatan kedua untuk menjawab lagi setelah terlebih dahulu juri membaca soal sekali lagi dan akhirnya jawaban kedua benar. Dalam babak ini, karena  kecurangan tadi, nilai tiap peserta menjadi sama yaitu 5. Padahal, Satu kesalahan yang dilakukan Jilan dan satu kesalahan yang dilakukan Afkar, Juri langsung mengatakan INCORRECT. Satu-satunya soal yang diucapkan dua kali oleh juri dan memberi kesempatan kedua bagi peserta A dari 18 soal yang disampaikan di babak pertama adalah kata STRAWBERRY.

Continue reading “Spelling Bee EF Yogyakarta sucks”

Tidak Terbayangkan

Terduduk di kamar hotel Santika Sepinggan Balikpapan, mau tak mau, akhirnya saya tergerak untuk menulis sesuatu tentang Gayus seperti yang tertayang di Metro TV. Ada hasrat untuk menahan diri menulis tentang Gayus terutama ketika digempur dengan agenda yang menumpuk.

Indonesia memang sangat unik. Kejahatan yang terjadi sering sekali berada di luar nalar kita. Artinya, seluruh bayangan saya tentang kejahatan, kejahatan yang terjadi lebih buruk daripada bayangan terburuk itu. Ada banyak sekali contohnya, misalnya ketika Sumanto nekat memakan bangkai perempuan tua mbok Minah, tetangganya yang meninggal beberapa hari sebelumnya karena penyakit dalam. Saking anehnya, tidak ada pasal yang bisa dikenakan untuk pemakan bangkai. Sumanto dihukum karena dianggap mencuri mayat. Proses mutilasi dan pembuatan Sop Mbok Minah, sehingga hanya menyisakan sedikit daging di bagian kemaluan, tak terkena pasal karena memang kejahatan model ini tidak pernah dibayangkan akan terjadi.

Lainnya, soal Ayin yang akan dibebaskan bersyarat minggu depan. Ayin penyogok aparat kejaksaan memiliki penjara yang lebih nyaman daripada hotel berbintang, lengkap dengan karaoke, AC, Kulkas, tempat tidur empuk, ruang rapat perusahaan, permainan anak-anak, perawatan kulit dan peralatan SPA. Untuk kemewahan inipun, Ayin tak kena pasal apapun.Karena sekali lagi, kejahatan model begini tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Contoh yang lebih kontemporer misalnya Nurdin Halid, memerintah PSSI dan menentukan wasit yang bisa memberi finalti dari dari penjara untuk kasus korupsi. Nugroho Besoes, menjadi Sekjen PSSI sejauh ingatan saya tentang sepakbola. Belum lagi kasus narapidana yang sengaja ditukar dengan orang lain dengan bayaran 10 juta. Saya kira ini juga tidak ada pasal yang bisa menjeratnya secara spesifik, karena kejahatan ini tidak terbayangkan sebelumnya.

Gayus tentu saja mendapatkan peringkat tertinggi saat ini. Hanya sekian tahun bekerja, dirinya sudah mampu mengumpulkan ratusan milyar rupiah, belum termasuk yang tidak ketahuan. Ketika ditahan di Rutan Brimob selama Juli-November 2010, dirinya pernah keluar tahanan sebanyak 68 kali, dan terungkap ketika ada wartawan foto di Bali yang menangkap gambarnya memakai wig ala kadarnya. Setelah isu Bali mereda, muncul lagi bukti Gayus pergi ke Singapura, Malaysia dan Makau. Gayus menggunakan paspor asli dengan foto berkacamata.

Seperti saya, anda boleh membayangkan sebuah kejahatan dengan sejahat-jahatnya, dan sayangnya kenyataannya kejahatan yang terjadi tetap lebih jahat dari bayangan tersebut. Agak sulit membayangkan kondisi Indonesia saat ini. Apa kata-kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi ini?

Timur Pradopo pernah berjanji akan mengungkap kasus Gayus ke Bali dalam sepuluh hari. Selain ingkar terhadap janjinya, tugasnya sekarang menjadi semakin berat yang mungkin menjadi sebuah mission impossible. Membongkar bagaimana Polisi bisa disuap ibarat menghancurkan korps polisi yang harus dipertahankannya. Siapa yang berani menanggung jika hasil dari seluruh pembongkaran itu berakhir dengan pembubaran Polisi, karena memang  hampir semuanya bisa dibayar? Continue reading “Tidak Terbayangkan”

Merinding

Ketika Indonesia dikalahkan Uruguay 1-7, saya hanya menonton babak pertama dan baru tahu skor itu pagi harinya. Waktu itu, saya sempat berpikir, apa bangganya menjadi bagian dari Indonesia? Menegasikan kaos yang ditawarkan Amri, bikinan PPIA (Perkumpulan Pelajar Indonesia Australia) yang cukup sering dipakai di kampus dengan tulisan besar PROUD TO BE INDONESIAN.

Coba bayangkan, Indonesia yang memiliki penduduk lebih dari 230 juta jiwa, tak mampu menyediakan 11 pemain berikut beberapa pemain cadangan, untuk bisa cukup bernama di sepakbola, bahkan hanya untuk level Asia Tenggara. Setali tiga uang dengan itu adalah bulutangkis. Sedikit demi sedikit, pemain-pemain Pelatnas tumbang, bahkan di babak-babak awal melawan pemain yang tidak diunggulkan, Asian Games kali ini menunjukkan hal itu. Hal ini jauh berbeda dengan suasana pemutaran film KING produksi ALENIA di Coombs Building hampir setahun lalu. Nia Zulkarnaen sempat terisak ketika di akhir film, hampir seluruh penonton berdiri, memberikan apresiasi yang tinggi terhadap karya tentang keteguhan mengejar cita-cita itu. Semangat nasionalisme kami terangkat sedemikian tinggi. Begitu bangganya menjadi Indonesia.

Apakah semangat nasionalisme mendadak menjadi tinggi ketika kita tinggal di luar negeri? Bisa jadi jawabannya adalah “ya”. Nasionalisme adalah rasa emosional. Seperti rasa yang lainnya, ia begitu dibutuhkan justru ketika menjauh. Mirip-mirip suasana rindu kepada kekasih. Semakin jauh, semakin rindu.

Tetapi begitu menginjakkan kaki kembali ke Indonesia, sontak seluruh rasa itu seperti hilang. Di Jakarta sana, kejahatan yang tidak bisa dibayangkan terjadi dengan sangat terang-terangan. Lihatlah kasus Gayus yang menonton pertandingan tenis internasional ketika seharusnya berada di bawah pengawasan polisi. Sejak Juli, sudah 68 kali Gayus pergi dari tahanan. Polisi begitu gampang disogok, hukum begitu gampang dibeli.

Di panggung derita yang lain, bibir atas Sumiati hampir hilang akibat pukulan kayu bertubi-tubi. Lebih konyol lagi adalah solusi bapak Presiden yang terhormat, dengan mempersenjatai TKW yang diberi Handphone. Bapak presiden gagal melihat sumber dari masalah, akar masalah, atau meta-masalah. Meta-masalahnya adalah adanya ketimpangan relasi kuasa antara TKW dan majikan yang menganggapnya sebagai budak, disamping managemen TKW yang buruk, bukan kepada akses komunikasi. Relasi kuasa yang timpang tidak dapat diselesaikan dengan memberi HP sebagai sarana komunikasi. Jangankan HP, paspor yang merupakan identitas personal saja disita majikan, apalagi HP. Belum lagi masalah charging baterai, pulsa dls. Jangankan berharap bapak Presiden menyelesaikan masalah, mencari akar persoalannya pun gagal. Dalam teori analisa kebijakan publik, kegagalan mencari meta-masalah dari sebuah fenomena adalah pangkal dari kebijakan yang salah. Ibarat dokter, kesalahan mendiagnosis sebab sebuah penyakit tidak pernah akan menghasilkan kesembuhan karena treatment yang pasti akan salah sasaran.

Di sudut Merapi yang dekat, para pengungsi masih menjerit. Pemerintah datang dengan janji membeli sapi, para pedagang mendekat dengan uang kontan. Stadiun Maguwoharjo yang menjadi sentra pengungsi, dipenuhi penjual mainan dan aneka macam jajanan. Jika pengungsi hanya membawa selembar baju, apa yang akan mereka lakukan ketika anaknya meminta mainan yang tidak gratis itu?

Kegagalan kita menjadi bangsa, yang menjadi salah satu sumbu sentimentalisme nasionalisme itu seolah merangsek pada seluruh aspek kehidupan. Benarkah? Ternyata tidak.

Continue reading “Merinding”

Buat Pak Presiden Tercinta

Saya membuka Kompas.com. Kakak saya sedang mudik menuju Magelang, saya harus membantunya memantau berita mudik. Tak sengaja saya membaca berita tentang ulang tahun Bapak Presiden yang ke 61. Saya turut mendoakan bapak disini, semoga bapak diberi pencerahan oleh Allah tentang sisa waktu bapak menjadi Presiden.

Kemarin saya menangis di jalan raya. Di depan saya, ada keluarga pemudik menggunakan motor berplat B. Satu anak balita diantara kedua orang tuanya. Si Ibu di belakang, kesulitan menutupi balita dari semburan asap knalpot yang berwarna hitam. Saya teringat kisah beberapa tahun lalu, saking eratnya sang ibu mendekap anaknya, tak sadar bahwa jalan nafasnya tertutup. Lama kelamaan, tubuh sang anak menjadi dingin, setelah malaikat maut menjemputnya. Saya gemetar membayangkan sang ibu yang menjadi pembunuh anaknya tercinta, tanpa sengaja. Keluarga itu, tentu tak segembira bapak besok pagi.

Saya tidak tahu apakah bapak Presiden membaca berita itu. Seandainya tidak, semoga sekian banyak orang yang selalu siap menerima perintah bapak, menyampaikan berita pilu itu. Saya berdoa agar bapak diberi ketabahan untuk mendengar semua cerita itu.

Pada saat bapak menjadi presiden untuk yang pertama, nama bapak tidak pernah masuk dalam bursa Presiden setahun sebelumnya. Bapak cukup luar biasa melaju mengalahkan kandidat terkuat Megawati dalam dua putaran. Bapak sangat terlihat santun di media. Gaya bapak memukai banyak orang untuk memilih bapak. Mungkin itu sebabnya, bapak menang satu putaran saja tahun lalu.

Tetapi selama enam tahun bapak menjabat presiden, setiap menjelang lebaran, cerita sedih yang sama selalu saja muncul. Macet disini, pasar tumpah disana, banjir disitu, terlambat di terminal dan seterusnya dan seterusnya. Berita menyedihkan mudik yang selalu panjang. Saya tidak tahu kenapa, bapak masuk lubang yang sama selama enam kali. Guru SD saya pernah bilang, kita dilarang masuk ke lubang yang sama dua kali, hanya orang bodoh yang melakukan itu. Saya tahu bapak bukan orang bodoh. Bapak adalah lulusan terbaik di Magelang dan berkarier dengan otak untuk menjadi jenderal.

Saya sedih karena kakak saya terpaksa harus menyewa mobil yang melelahkan, 23 jam dari Depok ke Magelang. Jalanan di Indonesia, selalu dipenuhi malaikat maut yang siap mencabut nyawa pengendara, terutama pemudik bermotor. Tak ada transportasi mudik yang nyaman dan kalau bisa murah. Panjang Rel Kereta api sekarang, habis dipotong-potong selama kita merdeka. Jika ada kereta, mungkin kakak saya bisa naik kereta dari Depok ke Magelang setelah transit di Yogyakarta. Sayang, rel Yogyakarta-Semarang, sudah habis terjual di tukang loak.

Saya berdoa, anak bapak yang bersekolah di Australia dan Amerika tentu bisa bercerita tentang bagaimana nyamannya mereka berkendara di sana dan menikmati angkutan publik. Jika malam hari, “lampu kucing” yang ada di kiri dan tengah jalanan menjadi lampu yang menyala terang. Jika menyalip, tidak perlu mengambil jalan seberang, dimana malaikat maut rajin menunggu. Kereta juga nyaman dan jarang sekali terlambat.

Saya tahu bahwa semua itu butuh biaya yang mahal. Tetapi saya yakin pula kalau semua itu bisa diusahakan, terutama jika uang pembangunan tidak dikorupsi. Saya sedih sekali bapak presiden memberikan remisi kepada para koruptor kemarin itu. Tapi saya maklum, mungkin itu upaya untuk menyenangkan bapak menjelang ulang tahun.

Saya hanya berdoa, semoga mudik tahun depan, pemudik motor semakin sedikit, dan fasilitas mudik semakin banyak. Syukur-syukur jalur ganda rel kereta api bisa dipercepat dan jalur lain selain jalur Daendels sudah bisa diandalkan. Semoga, saya tak perlu lagi mengingat petuah Guru SD saya.

Tentang Nikah Siri

Isu berkaitan dengan urusan bawah perut tak pernah surut, begitu juga dengan upaya proses pidana bagi pelaku nikah siri. Polemik segera muncul, berkaitan dengan diabaikannya hak anak dan istri korban nikah siri, sampai perdebatan moral dan religius tentang menikah. Sebenarnya, layakkah negara mengatur urusan pribadi seperti menikah?

Salah satu fungsi dari negara adalah mengatur seluruh kehidupan warga negara mulai sejak lahir sampai meninggal. Ketika lahir, anak harus dibuatkan akte kelahiran. Setelah ajal menjemput, ahli waris harus meminta surat kematian. Didalamnya termasuk urusan menikah.

Hanya saja, derajat pengaturan pemerintah untuk mengatur pernikahan sangat bervariasi sesuai dengan ideologi yang dianut sebuah negara. Di negara-negara liberal seperti Australia, apabila seseorang telah tinggal bersama (sejenis atau berlainan jenis) selama setahun atau lebih dan keduanya sepakat untuk saling mendaftarkan “pasangannya” dalam sistem administrasi negara, keduanya menerima hak dan kewajiban seperti pasangan yang menikah resmi, seperti pembagian gono-gini, pendapatan, pajak dls. Negara-negara liberal, lebih berfokus kepada dampak dari sebuah hubungan, daripada hubungan itu sendiri. Akibatnya, tidak ada perbedaan signifikan apakah yang bersangkutan tersebut menikah, kumpul kebo, berzina dan (mungkin) nikah siri. Selama masing-masing pihak tidak ada yang merasa terampas haknya, negara tidak memiliki peluang untuk masuk dalam urusan pribadi.

Hal ini sesuai dengan prinsip dasar dimana hukum dan peraturan lebih menakutkan daripada moral dan dogma seperti agama dan pranata masyarakat. Dengan tingkat religiusitas yang rendah, yang dapat dilihat dari sepinya tempat ibadah, alasan seseorang melakukan perbuatan baik dan buruk bukanlah harapan untuk mendapatkan pahala dan ancaman mendapatkan dosa. Alasannya lebih kepada kepedulian dan ketakutan mendapatkan sanksi hukum.

Continue reading “Tentang Nikah Siri”

Menyerang SBY

Kedaulatan Rakyat-Analisis-120110

Jika diperhatikan dengan seksama, dalam bulan-bulan belakangan ini, muncul serangan-serangan telak yang ditujukan kepada Presiden SBY. Ibarat serial silat SH Mintardja, penyerang mengeluarkan jurus-jurus dalam serangan sporadis. SBY pun dipaksa berkelit dengan jurus jitu lainnya, dibantu seluruh pendukung padepokan. Perang jurus ini tak akan berhenti  sebelum sang pendekar yang sedang memimpin dunia persilatan jatuh.

Serangan lebih gencar dilakukan terutama setelah SBY terpilih sebagai Presiden untuk yang kedua kalinya. Serangan pertama diungkapkan presiden sendiri dengan menunjukkan foto dirinya yang menjadi sasaran tembak kelompok teroris radikal Islam pada pertengahan Juli. Sampai sekarang, publik masih bertanya-tanya tentang motif dan strategic issues yang menjadi latar belakangnya. Semuanya tetap menjadi rahasia Densus 88.

Serangan berikutnya lebih mengarah kepada upaya untuk menyerang SBY secara non-fisik, yang jika berhasil, dampaknya sangat destruktif untuk struktur politik yang ada. Sasarannya adalah kepribadian dan karakter SBY baik sebagai pribadi maupun dalam bentuk kebijakan-kebijakannya. Tujuannya jelas, menciptakan distrust di lingkungan dalam SBY dan juga masyarakat terhadap pemerintahan.

Menariknya, serangan yang diarahkan kepada SBY ini tidak ditunjukkan dalam bentuk vulgar dan langsung, tetapi bermain cantik dengan menggoyang orang-orang dekat Presiden. Jika pilar-pilarnya telah rapuh, bangunan akan mudah runtuh. Mari kita urai serangan ini lebih mendalam.

Pada saat puncak konflik KPK-Polri, SBY diuji untuk mampu bertindak cepat dan gesit mengatasi isu ini. Serangan muncul dengan membangun citra SBY yang dianggap lamban dalam bersikap ditengah dukungan Chandra-Bibit berlangsung 24 jam lewat facebook. SBY jitu dalam mengelak serangan mematikan ini dengan membentuk Tim Delapan. Walaupun namanya sempat dicatut dalam rekaman Anggodo, secara umum publik puas atas respon SBY terhadap isu ini.

Serangan ketiga ditujukan khusus untuk dua figur penopang pemerintahan SBY, Boediono dan Sri Mulyani lewat kasus Century. Gabungan dua cendikiawan ekonomi dari dua universitas terbaik di Indonesia, UGM dan UI, menjadi back up penting Menko Ekuin Hatta Rajasa. Cara termudah menghancurkan pemerintahan SBY adalah menjatuhkan dua pilar kebijakan ekonominya. Dengan kondisi ekonomi terpuruk, presiden sangat mudah jatuh. Pengalaman 1998 jelas menunjukkan hal itu. Continue reading “Menyerang SBY”

FISIPOL bukan FISIP

Mungkin sudah ribuan kali saya menemukan kesalahan yang dilakukan media.  Bahkan harian sekaliber KOMPAS  (221009) pun salah menuliskan riwayat hidup Muhaimin dan Andi Mallarangeng yang ditulis berasal dari  FISIP UGM. Kesalahannya sebenarnya sederhana, tetapi sungguh fatal, paling tidak untuk saya yang berada di dalamnya. Kesalahannya terletak pada penulisan FISIP instead of Fisipol UGM !!!

Fisipol UGM yang berdiri sejak 1955 merupakan kepandekan  Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Hal ini berbeda dengan FISIP yang menjadi trade mark universitas lain. Mengapa FISIPOL, bukankah tidak efisien, mendingan FISIP, ngirit dua huruf.

Begini ceritanya…

Di FISIPOL UGM terdapat enam Jurusan, Jurusan Managemen dan Kebijakan Publik (dulu Ilmu Administrasi Negara), Jurusan Ilmu Hubungan Internasional, Jurusan Ilmu Komunikasi, Jurusan Politik dan Pemerintahan (dulu jurusan Ilmu Pemerintahan dan dulu sekali Jurusan Ilmu Usaha Negara), Jurusan Sosiologi dan Jurusan Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (dulu Sosiatri). Nah dari enam Jurusan tersebut, empat  memiliki gelar kelulusan S.IP (Sarjana Ilmu Politik) dan dua memiliki gelar kelulusan S.Sos (Sarjana Sosial). Artinya wajar jika POLitiknya lebih ditekankan daripada Sosialnya. Mengingat kalau keduanya dipanjangkan terkesan wagu, misalnya menjadi FISOIPOL. Gak pantas sama sekali.

Selain itu, kata FISIP terkesan berupa singkatan yang belum selesai. Berbeda dengan FISIPOL, sepertinya mantep dan POL, dan tuntas sampai ujung.  Kalau gak percaya coba anda ucapkan. Suku kata POL ini penting karena membuat hati jadi lega. Ibaratnya, kalau FISIPOL ini tuntas sampai puncak, sedangkan FISIP baru pemanasan doang hehehe… hush!!!

Ketika singkatannya sedikit dipanjangkan, walaupun kurang nyaman, menjadi Fakultas Isipol, sejajar dengan Fakultas Teknik, Fakultas Filsafat dan Fakultas Kedokteran, tetap lebih indah dibanding Fakultas ISIP UGM. Apa boleh buat, nama fakultas kami memang  panjang dari 18 fakultas yang ada di UGM, hanya kalah panjang dari MIPA. Sekalipun nama Fakultas lain dipanjangkan (FK UGM menjadi Fakultas Kedokteran UGM), nama FISIPOL tetap saja disingkat menjadi Fakultas Isipol. Disingkat pun tetap lebih panjang dari nama Fakultas Hukum.

Tapi lebih penting daripada itu sebenarnya adalah karena memang itu namanya. Sejak dulu namanya adalah Fisipol UGM, jadi mengurangi dua huruf berarti mengganti nama. Coba kalau sampeyan namanya GUNAWAN saya kurangi dua nama menjadi GUNAW gimana, apa sampeyan rela? Belum lagi kolega saya yang namanya NOVA, cuba saya kurangi dua menjadi NO, kan bisa repot dia ketika ada orang tanya “what is your name?” trus dijawab “NO.” Kan dikira nggak mau temenan. Lebih sengsara jika namanya Anjar, coba dibuang dua huruf menjadi Anj , repot lah, dikira misuh.

Jadi sekali lagi nama fakultas saya Fisipol UGM, jangan dikurangi, jangan ditambah-tambah.

Musnahnya Nama Lokal Indonesia

Dari iseng-iseng di semester break kali ini, kalau diamati,  ternyata banyak hal menarik dalam proses pemberian nama anak. Teman-teman saya, teman-teman adik dan kakak saya, memberi nama anak mereka dengan nama yang tidak berbahasa Indonesia dan tidak berbahasa daerah. Bahkan dalam lingkup extended family, nama anak-anak didominasi oleh nama dengan bahasa Arab untuk kami yang Muslim. Setelah saya cermati, ternyata nama kedua anak saya pun juga bisa dibilang terjangkiti virus ke-Arab-an tersebut. Gejala apakah ini?

Cobalah anda perhatikan nama anak-anak dan balita sampai setidaknya usia sepuluh tahun, terutama dari kelas menengah perkotaan Indonesia. Dominasi nama-nama berbahasa Arab terbukti sangat dominan. Nama perempuan Zahra misalnya, sangat laris belakangan ini, entah sebagai nama depan atau nama belakang. Nama seperti Raihan, untuk laki-laki, juga tidak kurang menarik penggemar.

Sebenarnya, tren nama Arab sudah muncul sejak Islam pertama kali menyebar di Indonesia. Buku sejarah menyebut Islam masuk ke Indonesia sekitar abad 11-12. Beberapa temuan artefak menunjukkan Islam telah datang lebih dulu, sekitar abad 7 (misalnya temuan stempel di bangkai kapal di perairan Cirebon). Sejak ditemukannya makam Fatimah binti Maemun di abad 11 di Gresik, nama-nama Arab menghiasi tren nama di Indonesia. Continue reading “Musnahnya Nama Lokal Indonesia”

Electionist dalam Sistem Presidensial

Banyak pihak memperkirakan angka Golput akan naik pada pemilihan 2009 dengan berbagai alasan, mulai dari kontestasi politik, regulasi hingga kinerja KPU. Faktor yang jarang diperbincangkan tetapi penting berkaitan dengan bosannya pemilih karena terlalu banyaknya pemilihan. Mungkinkah ini menjadi faktor utama tingginya Golput dan bagaimana hubungannya dengan sistem presidensial yang dipakai Indonesia saat ini?

Dalam praktek pemilu di banyak negara, tingkat partisipasi politik dalam pemilu dihitung bukan berdasarkan pada pemilih yang tidak hadir (Golput) tapi dihitung berdasarkan tingkat pemilih yang hadir (voters’ turnout). Munculnya fenomena terbalik di Indonesia disebabkan antitesis atas dominasi Golkar di era 70 an yang tersimbolkan dalam pilihan frasenya: Golput sebagai lawan dari Golkar. Jika di luar negeri pemilu diupayakan untuk meningkatkan jumlah voters’ turnout, di Indonesia pemilu diusahakan untuk menurunkan jumlah Golput.

Tidak dapat dipungkiri, pemilu merupakan elemen terpenting demokrasi. Demokrasi hanya bisa hadir dalam partai politik yang tumbuh bebas yang bertarung dalam pemilu yang jujur (Duverger 1963). Hadirnya institusi pemilu yang mantap juga sangat vital dalam konsolidasi demokrasi. Selain itu, pemilu juga sarana efektif untuk menyalurkan partisipasi politik rakyat dan menjamin terpilihnya elit politik yang sesuai dengan keinginan rakyat. Sejak reformasi, pemilu di Indonesia bisa dikategorikan jujur dan menjadi rujukan kisah sukses terkait dengan konsolidasi demokrasi di negara berkembang.

Continue reading “Electionist dalam Sistem Presidensial”

Berhenti Merokok

Menurut data badan kesehatan PBB, WHO 2004, di tahun 2002 lebih dari 750 ribu orang Indonesia meninggal akibat rokok. Mereka menghabiskan lebih dari Rp 100 triliun dalam setahun untuk membeli lintingan tembakau dan cengkeh itu. Data demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia 2008 menunjukkan, 93 persen pecandu rokok adalah orang dewasa, sedangkan di bawah 20 tahun mencapai 7 persen.

(Tempointeraktif.com diakses tanggal 27 February 2009)

Saya mencoba berhenti merokok setelah 12 tahun rutin memasukkan Tar, nikotin, irritants dls ke paru-paru setiap hari. Rokok saya  (dulu) Sampoerna A Mild warna merah, walaupun sering merokok apapun jika kepepet :razz:. Bila tiap batang AMild mengandung 0.1 mg nikotin, setidaknya sudah 8760 mg terhisap selama 12 tahun dengan 20 batang perharinya. Mengapa saya berhenti merokok dan bagaimana caranya?

Pengetahuan tentang bahaya merokok sudah sangat mudah didapatkan saat ini. Hanya dengan sedikit googling, ribuan artikel tentang bahaya rokok sudah muncul. Dari sekian artikel itu, hampir tidak ada tidak ada penelitian ilmiah yang kontra terhadap bahaya rokok bagi kesehatan. Toh, walaupun pengetahuan telah dimiliki, tak mudah untuk berhenti.

Mengapa berhenti merokok?

Pertama, karena saya ingin berhenti. Ini syarat penting yang harus dimiliki.

Kedua, istri saya benci pada rokok. Kebencian ini meningkat drastis ketika di Canberra. Selama ini, rokok saya diimpor dari Sumedang dan harus membayar cukai import $48 per slop. Tapi hal ini bukan perhitungan matematis semata. Jika hanya mengandalkan hitungan ekonomis, tentu keputusan berhenti merokok sudah datang dari dulu. Berhenti merokok adalah simbol bagaimana mencintai istri lebih dalam daripada mencintai diri sendiri:oops:.

Ketiga, merokok di Australia sangat-sangat tidak nyaman. Di Australia, merokok adalah perbuatan yang lebih buruk daripada drinking. Drinking adalah gaya hidup, merokok adalah kecerobohan hidup. Di Indonesia berbeda. Merokok dipandang sebagai ‘kenakalan’ atau keburukan dengan strata terendah. Waktu di kampung Bogeman, saya sering mendengar ibu-ibu yang mendiskripsikan kenakalah pria 20an tahun dengan berkata: ” Wah, dia itu  baik banget lho, merokok saja tidak.” Jadi, jika seseorang tidak merokok, dianggap alim, baik dan berbudi dan jauh dari Molimo. Tidak sedikit juga (baik laki-laki atau perempuan) yang melihat rokok adalah ekspresi kejantanan laki-laki. Pada sisi yang lain, jika perempuan merokok, dianggap sebagai perempuan terjelek ahlaknya. Nah di Australia, mau merokok sangat repot. Disamping lokasinya yang harus minimal 10 meter dari building, keinginan merokok menjadi siksaan berat hampir di setiap musim. Di musim dingin, keinginan merokok dikalahkan oleh dinginnya suhu yang membekukan jari-jari, di musim panas anda tahu sendiri, mana enak merokok kala cuaca 38 derajat?

Bagaimana berhenti merokok?

Continue reading “Berhenti Merokok”

Ponari

Di Jombang, gara-gara menemukan batu berbentuk belut setelah hampir disambar petir, Dukun tiban Ponari (9 tahun) setiap harinya dikunjungi ribuan orang untuk berobat. Pada hari Minggu 8/2/2009, “pasien” Ponari diperkiran mencapai 30 ribu orang. Hitungan ini didasarkan pada kupon antrian yang dibagikan. Sudah ada empat orang meninggal di lokasi. Saya tergelitik untuk menulis kasus Ponari berkaitan dengan mindset bangsa Indonesia saat ini, terutama berkaitan dengan decision making processes. Jangan-jangan, kita sering salah melangkah karena asumsi dan ekspektasi kita yang keliru dalam melihat sebuah fenomena.

Jika anda sering menonton pertandingan sepakbola Liga Indonesia, anda bisa membayangkan betapa banyaknya angka 30 ribu itu. Dua minggu yang lalu, saya menonton acara Inagurasi Australian of the Year yang diisi antara lain oleh pidato PM Kevin Rudd dan pementasan musik, sehari sebelum Australia Day. Penonton diperkirakan 30 ribu orang. Luar biasa banyaknya angka itu. Dalam hajatan terpenting di Australia ini, “hanya” 30 ribu orang yang hadir. Saya tidak bisa membayangkan jika jumlah itu terkumpul setiap hari.

Sekian banyak orang, berkerumun setiap hari di rumah desa milik orang tua Ponari, tentu bukan kategori Berita Tidak Penting seperti yang ada di posting terdahulu. Politik angka menjadi penting, mengingat angka tersebut bukan hasil dari sebuah rekayasa, tapi hadir dalam sebuah keadaan sadar dan tanpa mobilisasi. Hal ini menunjukkan mindset bangsa Indonesia sekarang ini. Khususnya di bidang kesehatan.

Pembangunan bidang kesehatan menjadi isu penting di seluruh Indonesia. Saya berani menjamin, propaganda para Caleg yang pasti selalu didengungkan adalah penyediaan dan pembenahan di sektor kesehatan. Memajukan Pendidikan dan Kesehatan merupakan dua hal penting yang menjadi tonggak bangsa ini untuk maju. Keduanya merupakan basic public services yang harus dipenuhi pemerintah. Ini asumsi dasar kita orang-orang “rasional”.

Jangan-jangan pengambil kebijakan salah menentukan asumsi. Ternyata, yang dibutuhkan oleh masyarakat Jombang dan Jawa Timur bukanlah modernisasi Puskesmas, dengan menambah unit laboratorium, dokter berpengalaman dan ruangan rawat inap. Yang dibutuhkan ternyata hanya sekedar sebuah sugesti. Kasus Ponari menempeleng pengambil kebijakan khususnya di sektor kesehatan. Masyarakat tidak percaya pada instutusi kesehatan yang dengan susah payah dibangun dengan dana tidak sedikit.

Continue reading “Ponari”

Bendera Dewa

Liburan begini, setelah berita politik tuntas, iseng-iseng masuk di bagian selebriti. Ahmad Dhani dilaporkan Roy Suryo ke polisi karena dianggap menghina bendera merah putih di klip Dewa Perempuan Paling Cantik di Negeriku Indonesia. Saya sempatkan menulis tentang bendera dan nasionalisme, karena masalah ini menyangkut Dewa, grup favorit ketika SMA dan Ahmad Dhani adalah pentolannya.

Bendera, bagi orang Indonesia sangat penting artinya. Bendera bukan sekedar symbol. Ia bagai jimat yang harus selalu dirawat dan dijaga. Setiap senin, selama setidaknya 12 tahun, kita harus menghormat ke bendera merah putih yang diarak ke tiang dalam sebuah momen inti di Upacara Bendera. Sedikitnya 624 kali (belum termasuk hari kenegaraan dan acara diluar sekolah) kita menghormat kepada bendera dengan sikap hormat yang sudah ditentukan. Sikap ini, direproduksi terus menerus hingga bendera bukanlah kain 2 x 3 yang berwarna merah dan putih. Kain ini menjadi begitu sakral sehingga seolah-olah nasionalisme bisa ditentukan dengan cara kita memperlakukan bendera.

Ketika SMA dulu, saya ikut seleksi menjadi Bantara, sebuah tingkatan dalam Pramuka Penegak. Di SMA saya posisi bantara sungguh prestisius. Bagaimana tidak, setiap Jumat sore, hanya para Bantara lah yang mendapatkan priviledge mengajarkan ilmu kepramukaan kepada seluruh siswa kelas 1 selama 3.5 jam dan Pramuka ini sifatnya wajib. Walaupun masih ada Pembina di ruang Guru, para Bantara mendapatkan kebebasan luar biasa selama 3.5 jam itu. Bantara mendesain kurikulum selama setahun, menentukan prioritas pengajaran, menentukan pengajar diantara bantara sendiri, membuat buku panduan, menciptakan metode dls. Kegiatan ini diakhiri dengan camping 3 hari 4 malam yang juga didesain dan dilaksanakan Bantara. Di sela-sela semua kegiatan ini, masih ada kesempatan lirak lirik adik-adik kelas. Karena banyak hal yang bisa dipelajari ketika menjadi bantara, seleksinyapun sedemikian berat, ketat dan lama.

Continue reading “Bendera Dewa”