Gaji Guru, Dosen dan Ibu

Seiring dengan dinaikkannya prosentase anggaran pendidikan di APBN 2009 menjadi 224 trilyun Rupiah, hampir bisa dipastikan gaji guru dan dosen PNS akan naik. Di dalam berita-berita, harus diakui, gaji guru lebih banyak mendapat perhatian dibandingkan dengan dengan gaji dosen. Disamping jumlahnya yang jauh lebih banyak, guru memberikan pengajaran kepada setidaknya empat jenjang pendidikan dengan jumlah siswa yang banyak sekali, mulai TK hingga SMA. Sedangkan dosen “hanya” mengajar mahasiswa yang lebih terseleksi, baik secara kapasitas dan terutama financial. Semakin lama, lulusan SMA yang bisa kuliah lebih terseleksi secara ekonomi daripada kemampuan akademisnya. Setidaknya itu yang saya amati dalam 10 tahun terakhir. Oleh karena itu,  jika nasib guru lebih ramai diperbincangkan, hal ini sangat-sangat masuk akal. Di sisi lainnya, muncul banyak komentar berkaitan dengan profesionalitas guru. Apakah kenaikan gaji mampu menjamin profesionalitas guru?

Kebetulan saya berada dalam dua dunia tersebut. Ibu saya adalah guru SD di pedesaan di Kabupaten Magelang. Walaupun kami selalu tinggal di rumah milik nenek di jantung Kota Magelang, Ibu dan Bapak (yang juga PNS dinas Perikanan Provinsi Jateng yang bertugas di Kab. Magelang) belum pernah bekerja di Kota Magelang. Artinya, setiap pagi, bapak harus bermotor mengantar ibu mengajar di Kecamatan Bandongan, 10 kilomater di sebelah barat Magelang dengan turunan dan tanjakan tajam melewati sungai Progo dan kemudian  menempuh 25 kilometer ke Kecamatan Mungkid  di sebelah utara Magelang tempat beliau bekerja. Ritual ke Bandongan tetap dilakukan hingga sekarang setelah bapak pensiun empat tahun lalu. Ini belum seberapa, dulu ibu harus berjalan kaki untuk mengajar dan berangkat jam 5 subuh, melewati jembatan bambu di atas sungai progo. Karena lebar sungai Progo yang lebih dari 70 meter, jembatan bambu selalu bergoyang ketika diseberangi, termasuk rintangan ketika banjir  dan jembatan putus. Tetapi lulusan-lulusan muda dari SPG (Sekolah Pendidikan Guru), tak pernah mengeluh mendidik siswa-siswanya. Dari ibulah, saya belajar tentang idealisme dan konsistensi.

Sepanjang yang saya tahu, ibu tidak pernah mengeluh tentang rendahnya gaji guru. Bagi beliau, kehidupan guru dengan gajinya tentu lebih baik daripada orang tua siswa-siswa didiknya. Begitu seringnya ibu bercerita tentang orang tua yang tak mampu membayar BP3. Begitu sering pula ibu mendatangi sendiri rumah-rumah orang tua yang sedang kesusahan itu dengan jawaban yang nyaris sama, bapaknya buruh tidak tetap dengan penghasilan yang tidak tetap pula, anaknya banyak dan istrinya di rumah mengurusi anak-anak yang banyak itu. Beberapa kali orang tua murid yang menyempatkan diri mampir ke rumah di sela-sela bekerja menjadi buruh bangunan, tukang becak atau kuli angkut di kota Magelang dan cerita mereka juga hampir seragam, mencari solusi bagaimana agar anak mereka dapat terus bersekolah dan adakah pihak yang dapat membantu pembayaran sekolah anaknya. Sejak kecil, saya akrab dengan air mata orang tua yang ingin anaknya tetap bersekolah, ketika takdir menyempitkan berbagai pilihan yang ada. Mereka bukan orang tua yang punya cita-cita “muluk-muluk” agar anaknya menjadi sarjana. Mereka hanya ingin anaknya lulus SD dan bisa membaca dan menulis, walaupun tidak terlalu lancar. Paling tidak, setingkat diatas bapaknya yang tidak lulus SD atau ibunya yang belum pernah membayangkan bagaimana rasanya bersekolah. Jika anggaran pendidikan tahun 2009 dipatok sampai 224.000.000.000.000 rupiah, hal ini seharusnya lebih banyak dialokasikan untuk mengurangi atau menghapuskan derita para orang tua tadi.

Continue reading “Gaji Guru, Dosen dan Ibu”

Berpuasa dengan Gembira

Malam ini Ramadhan telah tiba dan tawarih pertama baru saja selesai ditunaikan oleh beberapa gelintir muslim Canberra. Tidak ada penyambutan, tidak ada spanduk “marhaban ya Ramadhan” seperti yang biasa ditemukan di gang-gang dan masjid kampung. Di beberapa kampung yang walaupun memakai spanduk yang sama dari tahun ke tahun dengan hanya diganti angka tahunnya, tetap gempita menyambut Ramadhan. Siapa tahu ada malaikat yang kebetulan sedang ‘patroli’ dan memberikan berkah ke seluruh kampung. Di negeri ‘kafir’ ini, hanya ucapan persiapan di milis-milis dan SMS yang mengingatkan bahwa sekarang sedang diskon ampunan. Tapi itu sudah cukup dan tentu terlalu muluk untuk mengharap lebih.

 

Jumat kemarin saya mengobrol dengan seorang teman dari Mongolia. Temen saya in tidak habis pikir bagaimana mungkin manusia bisa tahan tidak makan dan minum selama 14 jam. Ini adalah kebingungan kedua setelah dia tahu sebelumnya bahwa muslim sholat 5 kali dalam sehari. Tak mau saya menambah kepusingannya dengan cerita ‘lobi’ Nabi Muhammad SAW dari kewajiban sholat 50 kali dan sholat tarawih di malam hari. Sentuhan dengan muslim-muslim Indonesia sepertinya merupakan  hal yang baru baginya. Hal ini dibuktikan dengan  ketidaktahuannya akan arti ‘fasting’, bahasa Inggris untuk berpuasa. Puasa baginya adalah ‘out of my mind’, ‘unimaginable’, dan ‘imposible’.

  Continue reading “Berpuasa dengan Gembira”

Pasar Rejowinangun

pasar gedheBanyak sekali yang terjadi selama enam bulan di Canberra. Pertama-tama meninggalnya Soeharto yang walaupun penting, tapi terasa jauh. Berita berikutnya adalah kelahiran dua keponakan baru dari kakak saya Aan dan adik saya Taufan, lelaki dan perempuan. Diantara kedua berita gembira ini, perjumpaan dengan pakde Dargo kemarin ternyata adalah perjumpaan terakhir. Diantara beberapa event-event penting tersebut, ada beberapa peristiwa yang juga berubah, salah satunya terbakarnya Pasar Rejowinangun di Magelang, salah satu tempat bersejarah yang tidak akan pernah ditemukan lagi dalam bentuk yang sama pada kamis 26 Juni 2008 magrib.

Semangat yang diperlukan untuk berangkat sekolah ke luar negeri tidak hanya kemampuan akademis dan bahasa, termasuk salah satunya kesiapan “kehilangan” dinamika di Indonesia, di kampung halaman dan keluarga. Dinamika kehidupan orang-orang yang dekat dan berkaitan dengan pernikahan, kelahiran, kematian dan yang lainnya harus diiklaskan. Kehilangan paling mudah tentu saja rindu pada gorengan, lotek dan pindang keranjang. Tapi toh jika pulang nanti tetap ada tukang gorengan dan lotek, apalagi pindang keranjang. Tapi saya tidak pernah mempersiapkan diri mendengar berita Pasar Rejowinangun terbakar dan tidak pernah lagi melihat bentuknya seperti dulu.

Continue reading “Pasar Rejowinangun”

Euro 2008

Piala eropa tengah digelar. Jutaan orang rela menanti di depan TV tiap dini hari untuk menyaksikan negara demi negara tumbang oleh negara yang lain. Sepakbola memang menjadi hiburan yang istimewa, membius dan menyebarkan candu. Tidak berbeda dengan rokok. Mungkin ini sebabnya, pabrik rokok selalu gemar beriklan di ajang bola. Tapi posting kali ini bukan posting tentang pencinta bola, apalagi tentang industri rokok. Ini adalah tulisan laki-laki yang tidak menyukai bola, yang menjadi minoritas di tengah komunitas laki-laki lainnya.

 

Lelaki Indonesia suka sekali dengan bola. Saya tidak tahu sebabnya. Sepakbola adalah olahraga tradisional yang peraturannya hanya berubah sedikit sekali dalam 300 tahun. Apa istimewanya sebuah bola yang ditendang ke kanan, kiri, depan belakang untuk dapat masuk di gawang yang besar itu. Gawangnya pun juga dijaga oleh kiper, tentu saja susah. Nah karena susah, mengapa menjadi menarik? Apanya yang istimewa?

 

Tapi fakta memang membuktikan bahwa sepakbola menjadi sarana social yang sangat ampuh dalam komunitas. Dalam komunitas lelaki, prestise bisa tiba-tiba terangkat jika hapal betul dengan nama-nama pemain, sejarah hidup dan kariernya, sampai urusan asmaranya. Lelaki tipe begini, bisa dipastikan mendominasi percakapan. Para lelaki, terutama remaja, lebih mudah menghapal semua pemain asing sebuah negara, daripada ibukota provinsi di Indonesia, yang menjadi pelajaran wajib di IPS. Mayoritas lelaki Indonesia, layak menjadi komentator sepakbola tingkat nasional.

 

Pengalaman saya dengan sepakbola tidak begitu menyenangkan, baik di lapangan ataupun di depan TV. Pertandingan ‘profesional’ pertama terjadi ketika kelas 1 SMP. Continue reading “Euro 2008”

Bogeman: Setting Masa Kecil

Screen Shot 2016-08-23 at 9.45.44 AMSejak lahir hingga kuliah di Yogya, saya tinggal di Bogeman, sebuah kampung di jantung kota Magelang. Sekitar satu kilometer dari alun-alun. Kampung ini tidak besar, tapi bagaimana kenangan masa kecil menjadi inspirasi di masa depan menjadi menarik untuk diceritakan. Bogeman terbagi menjadi tiga: Bogeman Lor (utara), Bogeman Kidul (selatan) dan Bogeman Wetan (Timur). Dari sejarahnya, Ibu saya berasal dari Bogeman Wetan dan kemudian pindah ke Bogeman Kidul mengikuti Bapak.

Nah Kisah Bogeman muncul saat ada salah satu tugas yang paling teringat ketika menjadi mahasiswa baru yaitu tugas matakuliah Sejarah Sosial Politik, dimana kami harus membuat Sejarah Diri Sendiri (thanks to Mas Cornelis Lay). Apapun!!!  Tugas ini memberikan pandangan bahwa sejarah tidak hanya didominasi tokoh-tokoh besar dengan peristiwa besar, ia bisa lahir dari hal kecil dengan pelaku yang tidak penting. Saya memilih untuk menceritakan tentang kampung Bogeman dalam matakuliah itu yang berakhir dengan nilai A.

Nama Bogeman apabila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berarti PUKULAN. Dari namanya, anda tentu dapat membayangkan bagaimana kampung saya. Di sebelah barat, dipisahkan oleh Sungai Manggis yang terkenal karena Novel Burung Burung Manyar nya Romo Mangun,  ada kampung Juritan. Di Sebelah Timurnya ada Kampung Jaranan. Di samping Jaranan ada kampung Paten (mati, meninggal). Juritan dulunya dipakai sebagai markas Prajurit dan Jaranan dipakai tempat menyimpan kuda, dan Bogeman, tentu saja, adalah tempat Prajurit Berpukulan. Artinya, kampung saya sudah mewarisi tradisi kekerasan sejak lama. Versi lain nama Bogeman karena terdapat makam Kyai Bogem, tapi hal itu tidak bisa menjelaskan nama Juritan dan Jaranan, apalagi Paten yang menjadi musuh bebuyutan perkelahian tarkam dengan Bogeman (sekarang masih ada gak ya).

Tiga Kampung Bogeman memiliki akar dan tradisi yang berbeda. Bogeman Timur, tempat mbah saya, tidak pernah menarik untuk diceritakan. Jalan yang sempit dan berliku dengan tumpuan rumah-rumah yang tidak beraturan menjadi setting geografis bagaimana seluruh MALIMA: Maen, Madon, Madat, Mabuk, Maling, menjadi gejala umum yang hampir bisa ditemukan di setiap sudut kampung. Tiap hari, selalu ada cerita tentang si A yang istrinya selingkuh, Si B yang tertangkap mencopet, Si C yang jadi Bandar Kuda Lari (judi yang menjadi generasi penerus SDSB) dan sebagainya. Saat menginap di rumah Embah, yang Alhadulillah tak pernah lepas wudhu sampai wafatnya, saya seringkali dibangunkan oleh suara lemparan piring pecah, makian istri karena suami pulang pagi, dan anak yang menangis minta sarapan, yang tak kunjung tersedia karena memang tidak ada yang bisa dimasak. Tapi bagaimanapun, menginap di rumah Embah selalu menjadi pengalaman yang menyenangkan, terlebih karena saya bisa mencicipi babat sapi goreng yang dipersiapkan untuk dijual bersama bahan sarapan lainnya, 100 meter dari rumah Embah setiap hari. Setiap pukul 2 pagi, pasangan suami istri ini telah menanak nasi, menyiapkan kluban, menggoreng tempe untuk dijual guna mencukupi biaya keenam anak mereka.

Continue reading “Bogeman: Setting Masa Kecil”

Mak Erot

Saya tergelitik untuk menulis sedikit tentang seksualitas, bukan karena pernah menjadi “pelanggan” mak Erot, tetapi lebih karena isu mak Erot memberkaitan dengan perdebatan antara Traditional/Alternative medicine dan Biomedical yang menjadi mainstream dunia kedokteran di Indonesia. Untuk urusan ini, tesis saya tentang dukun bayi, membahasnya dengan (semoga) komprehensif.

Sekitar enam bulan yang lalu, sebelum berangkat ke Australia, saya bolak balik ke kantor iklan KR dan Kompas untuk urusan pengiklanan. Nah, esoknya, sambil memastikan iklan saya termuat dengan benar, saya tergelitik untuk melihat bagian pengobatan di KR. Di bagian ini terdapat iklan tentang ‘pembesaran’ dan ‘pemanjangan’ penis. Bahkan di salah satu iklan, bisa dibuat kombinasinya. Panjang sekian cm dan diameter sekian cm. Saya takjub dengan iklan yang seolah-olah membayangkan alat vital laki-laki seperti balon, bisa ditiup dan dibentuk sesuai selera. Pengiklannya melampirkan foto mak Erot, yang tampak sudah renta, berkerudung (bukan berjilbab) yang mengesankan mak Erot ini santri betul. Pengiklannya tentu saja bukan mak Erot, yang konon tidak melek advertising, tetapi menantunya, cucu langsung, keponakan, anak kesayangan dll. Pokoknya mengesankan yang bersangkutan berhubungan darah, langsung atau tidak, dengan mak Erot. Banyak sekali iklan sejenis di satu kolom. Prakteknya hanya beberapa hari di salah satu kamar hotel kelas melati dengan “mahar” 300 an ribu. Nah, dari sini saya mulai bertanya-tanya.

Continue reading “Mak Erot”

SMS Santet

santetthumbnail.jpgBaru saja saya menerima email di milis mahasiswa Australia di Canberra yang tinggal di Toadhall. Maklum, sebagai alumni Toadhall, saya berhak menerima milis. Email ini agak menghawatirkan karena memberi info tentang kegemparan SMS Santet yang bisa membunuh, waduhh. Saya browsing sebentar dan beberapa versi SMS seperti berikut:

 

 

“Informasi, kalau ada nomor HP yang 0866 atau 0666 masuk berwarna merah, mohon jangan diangkat, karena ada virus kematian. Soalnya di Jakarta dan di Sumatera sudah ada yang meninggal gara-gara masalah ini, orang bilang lagi uji ilmu hitam.”

”Kalo ada telepon yang NOMORNYA BERWARNA MERAH jangan diangkat, karena bisa menelan jiwa. Hari ini sudah disiarkan di berita, terjadi di Jakarta dan Duri dan sudah terbukti. Sekarang masih diusut oleh pihak KEPOLISIAN. Dugaan sementara adalah kasus PEMBUNUHAN JARAK JAUH MELALUI TELEPON GENGGAM (HP) oleh dukun ILMU HITAM/si penelepon adalah ROH GENTAYANGAN yang mencari MANGSA. Harap dimengerti dan kirim ke teman atau saudara semua. Harap saling membantu sesama umat manusia.”

”Tolong diperhatikan serius. Jika menerima telp masuk dari HP dengan kepala no 0866 atau 066 dengan warna tulisannya merah, mohon dengan sangat jangan diterima. Sama sekali jangan memencet tombol apa pun karena telah memakan korban 1 orang di Medan dan 3 orang di Pekanbaru yang hangus karena HP-nya meledak. Mohon beritahu teman-teman lain”.

 

Semakin lama browsing, semakin aneh bunyinya dan semakin jauh dari akal sehat. Tapi bahasan tentang santet menarik untuk ditulis, karena peristiwa semacam ini selalu berulang ketika situasi politik dan ekonomi Indonesia sedang mengalami fase negatif dan berkaitan dengan relasi vertikal kita dengan pencipta.

 

Continue reading “SMS Santet”

Daylight Saving

Salah satu temuan paling penting sepanjang sejarah kebudayaan manusia adalah penemuan tentang waktu. Buku the Discovery yang saya beli di toko buku bekas di Montreal menyebutkannya demikian. Penemuan tentang waktu dimulai dari kesadaran bahwa bumilah yang berputar mengelilingi matahari (heliocentric) dan bukan sebaliknya (geocentric). Temuan yang harus ditebus dengan nyawa Galileo ini membuka peluang baru tentang temuan tentang waktu matahari dimana setiap putaran planet selalu akan kembali ke titik yang sama ketika berputar dalam satu putaran penuh. Bumi akan menemui titik yang sama pada satu putarannya terhadap matahari. Dari sanalah waktu matahari berawal.

Waktu bulan dihitung berdasarkan putaran bulan terhadap bumi. Setiap malam, manusia mengamati perubahan terhadap bulan. Kapan bulan menjadi sabit, separo dan purnama diamati secara terus menerus. Tidak kalah luar biasa dibandingkan dengan waktu matahari, waktu bulan dipakai sebagai standar waktu manusia. Kedua basis perhitungan ini dipakai manusia selama ribuan tahun untuk menentukan banyak hal. Bedanya, dalam waktu matahari, matahari berposisi sebagai centre dan dalam waktu bulan, bumilah yang berfungsi sebagai centre.

Sekali manusia menemukan bagaimana waktu dapat dihitung, temuan lain segera menyusul. Kejadian-kejadian penting kemudian dicatat dan dikategorikan, sehingga nelayan tahu kapan badai akan datang, petani tahu betul bahwa ada 2 minggu cuaca panas tanpa hujan setelah 6 minggu musim hujan. Perhitungan lainnya dikategorikan secara lebih detail dengan mengamati setiap tanggal lahir manusia yang menjadikan perhitungan bintang, shio dan primbon tetap diminati. Pendeknya, temuan tentang waktu membuka kesempatan luas terhadap perhitungan lainnya yang membuka kesempatan banyak hal. Penemuan tentang waktu, mungkin hanya bisa tersaingi dengan penemuan computer dan internet.

Continue reading “Daylight Saving”

Geby, Gita, Toadhall

Setiap mahasiswa yang pernah belajar diluar Indonesia pasti pernah merasakan bagaimana kesendirian menjadi masalah yang selalu muncul. Apalagi bagi mereka yang terbiasa tinggal di Jawa yang sejak 2004 dinobatkan Guinness Book World Record sebagai The most populous island in the world tiba-tiba harus beradaptasi dengan “daerah tanpa manusia” seperti Canberra yang toko-toko rata-rata tutup jam 5 sore dan jalanan mulai sangat sepi jam 8 malam, setara dengan jam 3 pagi di Jogja. Selain itu, semangat ngumpul orang Indonesia tidak bisa hilang begitu saja. Inilah sebabnya kisah-kisah perkawanan ketika belajar di luar negeri selalu menjadi kisah yang tidak pernah dilupakan sampai mati. Setelah selesai sekolah, bukan kisah memusingkan menghadapi banyaknya bahan bacaan yang sepertinya mustahil untuk diselesaikan dalam satu semester, tetapi kisah lucu-lucu, remeh-temeh yang selalu memberikan semangat untuk terus belajar sampai jenjang tertinggi. Berikut antara lain kisah Geby, Gita dan Toadhall yang saya tinggali satu setengah bulan terakhir sebelum tinggal off campus di Queanbeyan.

Toadhall adalah asrama favorit mahasiswa ANU. Selain berada di kampus, hall ini juga murah “hanya” $146 per minggu. Ruangannya dibagi dalam 7 blok dari A-G dan terdiri dari empat lantai. Sangat susah berkompetisi untuk masuk ke Toadhall, paling tidak harus mendaftar 6 bulan in advance. Geby adalah senior saya di UGM. Begitu mengenal sosoknya, orang akan langsung paham betapa ramahnya orang ini. Bagaimana tidak, pada hari pertama di Toadhall, bang Geby lebih dulu mencariku dan membantu mengantarkan koper ke F742. Waktu itu, kami hanya sama-sama tahu nama, bukan wajah. Mbak Gita juga demikian, dirinya akan langsung menampakkan sikap ceria begitu orang menyapanya (kalau tidak disapa duluan, karena konon kabarnya mbak Gita rajin menyapa duluan).

Kedua Ph.D student ini datang di Toadhall pada hari yang sama, berikrar untuk tetap bersama, dan anehnya submit Desertasi pada hari yang sama juga. Keduanya pulang ke Indonesia hanya berselisih hari, mas Geby di UGM, mbak Gita di UI. Keduanya juga dianggap senior di Toadhall dan dianggap sebagai bu lurah dan pak lurah. Tidak mengherankan jika pada saat perpisahan, hampir seluruh mahasiswa Indonesia hadir, memberikan hawa pengap dan menggetarkan di Anton Aalbers room. Setahu saya, ini adalah acara paling ramai untuk orang Indonesia, jauh melebihi acara Indonesia lainnya. Ada semacam magnet dari keduanya sehingga banyak sekali yang hadir dan berkontribusi. Mulai dari bakso sampai gule kepala kambing (yang terakhir sangat jarang sekali ditemui, membayangkan cara membikinnya saja sudah pusing 😆 ).

Continue reading “Geby, Gita, Toadhall”

Nyamuk-nyamuk: Jakarta, Jogja, Montreal

nyamuk.jpgMungkin hanya para peneliti dan ahli kesehatan yang tahu darimana nyamuk berasal. Pelajaran di sekolah memang selalu memberikan masukan bahwa nyamuk berkembang biak di air, melalui metamorfosis sempurna dari jentik selama beberapa hari bertahan dalam air. Kualitas dan kebersihan air menjadi ciri bagi spesies nyamuk tertentu untuk berkembang biak. Nyamuk betina (dan mungkin juga jantan, karena kita tidak pernah tahu cirinya ketika digigit) menghisap darah sebagai amunisi untuk bertelur. Itu teorinya.


Tapi berdasarkan pengalaman komparasi lapangan di Jakarta, Jogja dan Montreal, dan sedikit dari Melbourne, sepertinya teori ini tidak sepenuhnya benar. Selain, tentu saja, perbedaan iklim dan cuaca, nyamuk ternyata beradaptasi dengan kondisi lingkungan dan sosial dimana dia hidup. Atau berkolerasi dan belajar dari manusia yang merupakan makhluk paling sempurna. Continue reading “Nyamuk-nyamuk: Jakarta, Jogja, Montreal”

Industri Pertama Australia

trepang-largeSetelah melewati jam-jam yang melelahkan dan menguras energi (walaupun menyenangkan) di kelas Wendy Sahanaya, beliau akhirnya mengijinkan muridnya untuk menonton presentasi sejarawan Australia. Pak sejarawan ini adalah Prof. David Reeve, ketua Departement of Chinese and Indonesia di University of New South Wales. Kebetulan, beliaunya ini juga sangat fasih berbahasa Indonesia dan Jawa, karena telah lebih dari sepuluh tahun mengajar di UI, UGM dan UMM.

Presentasinya tentang Industri pertama yang ada di Australia. Tidak seperti dugaan banyak orang bahwa goldseeker datang ke Australia untuk membangun industi emas, sekitar 200 tahun sebelum Captain Cook mendarat di Australia, nelayan Indonesia dari Bugis dan Makasar telah lebih dulu Continue reading “Industri Pertama Australia”

Pertama di Jakarta, Pertama di IALF

Jakarta selalu menakutkan banyak orang, terutama bagi banyak pendatang seperti saya yang ketiban sampur harus kursus bahasa dan persiapan kultur di IALF. Pesan Bang Napi yang beberapa kali terlihat di RCTI di kala break makan siang mau tak mau membuat semua orang waspada terhadap situasi Jakarta. Walaupun saya sudah terlampau sering pergi ke Jakarta untuk berbagai urusan, biasanya hanya beberapa hari, dan itupun tidak jauh juh dari hotel, taxi dan ruang rapat. Inilah pertama kalinya Jakarta memaksa saya untuk tinggal agak lama sampai kos segala.

 

Banyak orang bilang jika ingin menjadi orang penting di negeri ini, cepat-cepatlah datang ke Jakarta. Jakarta menjadi tempat bagi penyelesaian urusan yang sebenarnya ”sepele” untuk daerah, tapi demi menjaga citra pejabat daerah, harus tetap datang ke Jakarta. Continue reading “Pertama di Jakarta, Pertama di IALF”

Nasi Goreng Pak Pele

Salah satu menu klasik Indonesia yang bisa ditemui di hampir seluruh muka bumi adalah nasi goreng. Tak ada yang istimewa dari nasi hampir basi yang digoreng dengan bumbu standar yang tergeletak di dapur. Hanya saja, nasi goreng menjadi menu yang terkenal. Ketika ada acara lunch di Mc Tavish Hall McGill University awal Agustus 2005, nasi goreng disejajarkan dengan beberapa menu Asia lainnya seperti mie goreng dan fu yung hai. Tentu saja untuk acara makan siang di tengah summer, nasi goreng tentu bukan menu yang tepat. Apa boleh buat, dengan gaya masakan Cina yang tidak sepenuhnya enak dan halal, kami makan juga nasi goreng tersebut, berikut rasa syukur. Fenomena nasi goreng menjadi luar biasa karena Moira sampai susah payah cari nasi goreng di China Town, siang-siang lagi. Fenomena diatas tentu lebih sering ditemukan di Australia, dengan banyaknya lidah Indonesia yang selalu merindukan nasi goreng.

 

Nasi goreng sebenarnya adalah menu keterpakasaan. Continue reading “Nasi Goreng Pak Pele”

Strategi Mengemis

Di hampir seluruh jalanan di Yogyakarta, kita selalu menemukan sejumlah orang mengais rejeki dengan mengemis. Perempatan-perempatan besar dan ramai tak pernah sepi dari kehadiran pengemis. Sasaran mereka pengendara bermobil, entah mobil pinjaman, kreditan, atau mobil majikan, pengemis tak peduli. Pengendara mobil selalu diasumsikan memiliki lebih banyak uang daripada pengendara motor. Walaupun tak jarang pengemis yang meminta ke pengendara motor. Apa boleh buat, rotan tak pernah memberi, siapa tahu dari akar akan jadi rejeki.

 

Pengemis di Yogyakarta, seperti juga profesi lainnya, dituntut untuk berkembang dan kreatif. Mengemispun perlu strategi untuk menarik iba orang lain dan menyedekahkan uangnya, dan dengan begitu, makan malampun tak perlu dipikir terlalu serius lagi. Tulisan ini akan sedikit mengurai tentang strategi yang dipakai pengemis untuk mendapatkan rejeki lebih, yang ternyata berkembang dari waktu ke waktu. Continue reading “Strategi Mengemis”

Tahun Baru 2007

Hampir semua orang merayakan tahun baru 2007. Tahun baru kali ini, seperti tahun-tahun sebelumnya, dinikmati dengan berbagai cara. Orang tua melewatinya dengan menonton acara TV non-stop yang menyajikan acara yang buat mereka terlalu membosankan dan terlalu gaul. Setelah sedikit tengah malam, menjalankan aktifitas tidurnya. Muda-mudi adalah komunitas yang paling bergembira. Dimulai dari ngobrol, jalan-jalan dengan pacar, sampai dengan serius mempersiapkan acara khusus untuk tahun baru. Wira-wiri gak jelas menikmati dan mengikuti arus keramaian kota.
Ada sebagian kecil yang sadar dan percaya, tidak ada bedanya hari esok yang merubah kalender atau hari-hari sebelumnya dan hari yang akan datang. Toh penentuan tahun Masehi ini telah melewati sekian revisi, tidak seperti tahun Komariah yang relatif stabil. Jadi, tahun baru hanya sekedar identifikasi manusia, yang bisa jadi salah.
Dulu, masyarakat jawa sangat sakral memperingati Malam Satu Suro dengan ritual-ritual khusus yang intinya berdoa kepada Tuhan akan berkah di tahun mendatang. Sekarang, ritual ini sangat jarang ditemui.

 

Masyarakat kita tidak pernah sadar (seperti tulisan Ricklef) bahwa orang Jawa adalah satu-satunya komunitas di dunia yang memiliki perhitungan kalender paling kompleks dibanding semua komunitas di seluruh dunia. Kalender Jawa adalah penggabungan antara Perhitungan Komariah dengan Hindu-Budha-Shaka. Menariknya, kalender jawa yang berbasis kepada Kalender Bulan tidak dimulai dari Hijrah Nabi, tetapi meneruskan kalender Hindu-Budha-Shaka. Continue reading “Tahun Baru 2007”