Donor Darah di Australia

Donor Darah dimanapun di seluruh dunia intinya kurang lebih sama. Lengan ditusuk dengan jarum suntik yang lubang tengahnya terlihat karena saking besarnya, diambil darahnya 300 cc, diambil sampel darah dan diberi makanan ringan. Jika anda senang donor darah atau seorang penggiat PMI, atau sekedar iseng kesasar di blog ini, pengalaman donor darah di Australia, tepatnya di Canberra berikut ini mungkin bisa menjadi renungan.

Saya pertama kali melihat kemungkinan mendapatkan pengalaman donor darah di Australia melalui mobil keliling yang mampir di parkiran tempat belanja. Setelah itu saya kunjungi situs donateblood.com.au karena pasti disini semua informasi tersedia. Betul saja, disitus itu saya harus mendaftar online dan mereka berjanji akan menghubungi secepatnya. Di dalam situs, juga terdapat info tentang donor plasma.

Dua hari berselang, pihak Red Cross menghubungi dan menanyakan detail tentang beberapa hal yang saya tulis di form, termasuk agenda the first blood donate dan prosedur yang harus diikuti. Saking hati-hatinya, tiga hari kemudian Red Cross kembali menelpon saya dan menanyakan apakah saya sudah dikontak mereka. Saya jawab, saya sudah dikontak dan memiliki agenda untuk donor. Red Cross minta maaf telah mengganggu kenyamanan saya.

Sehari sebelum donor darah, datang SMS yang mengingatkan tentang agenda donor sekaligus kemungkinan untuk rescheduling. Agenda donor darah kemudian saya undur seminggu kemudian dengan reminder SMS tetap datang sehari sebelumnya.

Begitu hari yang ditunggu tiba, saya datang ke kantor pusat Red Cross di daerah Garran, Canberra, bersebelahan dengan Canberra Hospital. Ternyata di sini terdapat dua jenis donor darah. Donor pertama adalah donor whole blood seperti yang biasa di Indonesia dan donor plasma. The Whole blood donor memerlukan waktu tiga bulan untuk donor berikutnya, sedangkan donor plasma dapat dilakukan tiap dua minggu. Dalam donor plasma, yang diambil hanya bagian plasma dalam darah. Prosesnya memang lebih lama karena darah harus masuk ke dalam mesin untuk kemudian dikembalikan lagi ke dalam tubuh. Di Red Cross, baru saja datang mesin pemisah plasma darah beberapa bulan sebelumnya dan langsung menjadi daya tarik tersendiri. Seperti kita tahu, penemuan tentang pemisahan plasma dalam darah mampu membuat darah lebih tahan lama.

Sebelum donor, setiap pendonor (lama atau baru) diminta mengisi form dengan banyak sekali pertanyaan. Mulai pertanyaan standar tentang kapan terkakhir donor, berat badan, apakah memiliki tattoo dalam  6 bulan terakhir, sampai pada pertanyaan “pribadi” seperti: do you having sex with the same sex for the last 6 months? Saya yakin pertanyaan ini, walaupun perlu, akan susah dipraktekkan di Indonesia.

Setelah itu, pendonor dipanggil untuk wawancara di ruangan tertutup berdasarkan form isian sebelumnya. Tidak lupa, pewawancara memakai sarung tangan plastic sekali pakai ketika membuka lembar demi lembar form wawancara. Nah, ketika sampai pada pertanyaan tentang travel abroad for the last 5 years, buru-buru beliau membuka kamus besarnya. Indonesia dinyatakan sebagai daerah pandemic Malaria. Artinya setiap tetes darah dari Indonesia harus dites, tidak hanya untuk melihat kemungkinan ada tidaknya virus malaria, tetapi apakah dalam darah pendonor mengandung antibody Malaria. Jika terbukti salah satu atau keduanya, darah hanya akan diambil plasma darahnya saja. Setelah menimbang, tes darah, dan tekanan darah, keluar dari ruangan ini, saya diberi stiker kecil yang ditempelkan di baju yang bertuliskan ” My first time to save lives.”

Setelah wawancara, tibalah saatnya berbaring dan menerima tusukan. Di ruangan yang nyaman dengan kursi otomatis ini, pekerjaan mengambil darah dispesialisasi. Seorang menyiapkan alat-alat, seorang menusuk, dan seorang mencabut ditambah dengan pegawai senior yang berkeliling untuk menanyakan kondisi setiap pendonor. Sembari berbaring, kami diberi brosur yang mengingatkan agar donor dihentikan ketika terjadi hal-hal seperti pandangan kabur, pusing dls. Intinya, di ruangan ini, pendonor benar-benar diperhatikan dan dijamin kesehatan dan keselamatannya.

Setelah keluar dari ruangan donor, terdapat café kecil yang lebih mirip restoran kecil dimana pendonor bisa memesan beberapa camilan dengan minum yang disarankan dingin. Di dinding ruangan, terdapat foto-foto dan sejarah donor darah sejak perang dunia kedua. Evolusi kantong darah, mulai berbentuk botol sampai berisi zat anti penggumpalan darah, disajikan disini.

Keluar dari ruangan ini, saya diberi Bolpoin, agenda 2009 dan stiker sedang yang bertuliskan

“I save lives today”

Selang tiga dan empat enam hari kemudian, Red Cross menelepon saya dan menanyakan tentang kondisi setelah donor.

Sampai seminggu kemudian, saya masih berpikir kapan pengalaman donor darah seperti ini bisa didapatkan di Indonesia.