Chicken Cabinet

ayam.jpgBeberapa minggu yang lalu, ringtone hp benq-siemens saya yang suka error ini digantikan dengan dering orkestra lagu Indonesia Raya. Maksud hati sih untuk lebih menyadarkan diri saya sendiri bahwa masih banyak PR yang harus serius dikerjakan bangsa ini jika benar-benar ingin maju. Lagu Indonesia Raya sekaligus juga menepuk pipiku bahwa ….ehh ternyata paspor saya bergambar Garuda Pancasila. Disamping tentu saja, menyemangati timnas yang membuat penonton bergidik melihat laga demi laga dan membuat terharu setiap kali membaca beritanya di Kompas, pagi berikutnya. Betapa Ellie Aiboy, Budi Sudarsono, Syamsul Bahri dengan semangat yang entah datang dari mana, terus menerjang pertahanan lawan-lawan kelas dunia di Piala Asia, termasuk lebih dari 80.000 supporter Indonesia di Gelora Bung Karno yang terus menerus berteriak

 

….Indonesia..plok-plok..plok-plok..plok…Indonesia..plok-plok..plok-plok..plok

 

termasuk ketika dalam laga terakhir yang akhirnya dimenangkan Korsel terpampang besar spanduk.

 

BAGIMU NEGERI, JIWA RAGA KAMI

 

. Pendeknya mengganti ringtone dalam upaya berbagi solidaritas.

 

Pada saat yang hampir bersamaan, yang dimulai sejak hampir 2 bulan sebelumnya, rakyat Indonesia, gelisah dengan gelagat kabinet pimpinan SBY. Pemerintah Indonesia yang diwakili Deplu, menandatangani DCA, Defence Cooperation Agreement dengan Singapura, negeri yang luasnya hanya beberapa kali luas Kabupaten Bantul. Lama perjanjian adalah 13 tahun yang dapat diperpanjang selama 6 tahun kemudian. Isi dari DCA antara lain, Singapura boleh main perang-perangan di sebagian wilayah Indonesia yang notabene puluhan kali luasnya dibanding daratan Singapura yang makin hari makin luas karena pasir dari Indonesia. Kompensasi yang diberikan untuk Indonesia adalah sejumlah akses ke angkatan perang negeri itu yang konon katanya lebih hebat dari Angkatan Perang kita yang kesulitan luar biasa karena embargo dan kekurangan duit untuk membeli Alutista. Disamping itu, pada saat yang bersamaan, ditandatangani pula perjanjian agar Singapura mengembalikan maling-maling yang pada lari ke sana sambil borong barang belanjaan waktu SGS (Singapore Great Sale) lewat perjanjian extradisi. Bisa dipastikan, kedua perjanjian ini saling terkait dan saling mempengaruhi.

 

Jaman saya kecil dulu, perang-perangan menjadi pilihan utama permainan laki-laki. Kami menggunakan senapan rakitan dari bambu dan pelontar dari karet pentil (warna merah, atau lebih bagus lagi cokelat muda) dengan amunisi sejenis buah semak yang jika kena paha (apalagi leher) merahnya baru hilang setelah 20 menit. Karena keterbatasan ruang publik, lokasi penjemuran kerupuk di pabrik kerupuk milik pak Somak yang dilengkapi dengan batang-batang pisang dan sebuah pohon jambu air di tengahnya menjadi lokasi favorit. Piranti jemuran kerupuk yang terbuat dari anyaman bambu dengan ukuran 75 cm X 125 cm dapat dijadikan semacam benteng bagi tiap kelompok. Tetapi, memilih tempat perang ini bukan persolaan mudah dan penuh resiko. Walaupun pak Somak dan istrinya adalah orang yang ramah, tetap saja kami akan terbirit-birit jika diteriaki dari jauh oleh pasangan itu dan karyawannya karena tunas pisang yang terinjak, atau tempat jemuran kerupuk yang tumpah karena tersenggol teman yang menghindar agar paha tidak merah, yang tentu saja membuat kerupuk bertebaran di tanah. Tentu beliau tidak pengen kerupuknya kotor terinjak-injak kami dan ayam-ayam yang berlarian kesana-kemari. Kalau sudah begini, permainan bubar !!!!

 

Tentu saja, kami anak-anak tidak perlu minta ijin ketika memasuki “teritory” perusahan kerupuk tersebut. Sebagai tetangga dalam kultur masyarakat Jawa, teritory bukan sesuatu yang penting dalam pola relasi masyarakat. Mekanisme “bludas-bludus” antar tetangga di kampung saya (bogeman-banyak yang bilang sebagai brooklinnya Magelang) dipakai sebagai arena untuk mempererat konsepsi rukun, yang kata Mary Hawkin adalah gabungan dari harmony and helpfullness. Jadi tidak salah jika di kampung saya, menitipkan anak untuk dimomongkan tetangga adalah fenomena yang lazim.

 

Saya kira pak SBY terinspirasi kisah-kisah dari kampung-kampung di Magelang waktu sekolah di Akabri dulu, sehingga tenang-tenang saja jika teritorynya dijadikan latihan perang-perangan oleh negara kecil Singapura. Singapura adalah tetangga kecil, degan kisah mirip perang-perangan semasa saya kecil. Kompensasinya, tentu saja, hutan yang rusak oleh selentingan mortir amunisi Singapura. Eh, toh pak Hasan W, Menlu Indonesia, Bosnya mas Aji bilang kita dapat mengetahui perlengkapan militer Singapura, kan kita tak mampu beli hehehhehehe.

 

Masalahnya, Singapura sejak jaman Soekarno dulu telah dikenal sebagai tetangga yang tidak baik. Dalam sejarah hubungan Indonesia-Singapura, Indonesia lebih banyak mengalami kerugian. Lihat saja bagaimana SGS didominasi oleh orang Indonesia yang menjadi mahir mengakali fiskal dengan melewati Batam dan menyeberang dengan kapal. Lihat juga bagaimana iklan properti Singapura selalu menghiasi koran Indonesia, karena menurut laporan Kompas, 70% properti di Singapura dibeli orang Indonesia. Singapura adalah sebuah gengsi bagi sebagaian besar rakyat high income negeri ini. Berbelanja di Singapura lebih merupakan sarana yang bisa ditunjukkan ke tetangga bahwa ” ini barang luar negeri.” Padahal semua tahu di era globalisasi sekarang ini, semua barang-barang tersebut dengan mudah ditemukan di Blok M atau Mangga Dua.

 

Kembali ke DCA, dalam hubungan internasional ini, kita jelas dirugikan oleh negeri yang akan tenggelam oleh gabungan kencing 225 juta rakyat Indonesia. Mengapa mereka memilih berlatih perang di hutan-hutan dimana negaranya sendiri tak memilikinya? Sebagai tetangga yang baik, seharusnya Singapura menyerahkan dengan sukarela puluhan maling itu ke Indonesia dengan penuh kesadaran. Namanya juga maling. SBY mungkin lupa bahwa jika ada maling di kampung saya yang berasal dari kampung tetangga (karena ada kode etik tiap maling utk tidak maling di kampungnya sendiri) akan diserahkan ke kampung asal dengan, tentu saja, wajah yang telah tidak berbentuk. Jika merujuk ke tradisi kampung saya, seharusnya Singapura membantu Indonesia menangkap maling-maling itu, sedikit merubah bentuk wajah, rahang dan gigi dan menyerahkannya ke Indonesia. Itu yang seharusnya dilakukan tetangga yang baik.

 

Kita juga tak butuh tahu persenjataan militer Singapura, jika kita memanfaatkan potensi negeri ini dengan baik. Toh, ketika Panser buatan Pindad lebih bagus dan lebih murah dari yang kita beli dari Perancis sebagai sarana putra SBY berkarya menjadi bagian konspirasi Internasional, seperti cerita teman saya yang tentara, Pemerintah tetap memilih impor. …Aneh. Selain lebih mudah dikendalikan, kekuatan mesinnya lebih bagus dan memiliki AC yang dobel. Kita menjadi bangsa yang tidak pernah sadar bahwa sesungguhnya negeri ini punya potensi. Kita terlalu rendah diri menjadi bagianĀ  dari warga internasional.

 

Ironisnya lagi, Indonesia tidak pernah teriak-teriak ketika ikan, air dan pasirnya dicuri ke Singapura. Pak Somak saja yang hanya “terjajah” sedikit kebebasannya berbisnis kerupuk, harus tetap menjaga eksistensi kerupuk jemurannya. Jadi sudah selayaknya saya malu negeri yang sedemikian kaya dan besar ini dikelola oleh sebuah Chicken Cabinet, yang tak berani berteriak, apalagi menyerang Singapura, sebuah negara yang terus menerus mempermalukan Indonesia yang sebenarnya akan musnah hanya oleh kencing rakyat Indonesia.