Membersihkan Tempat Maksiat

Jangan dikira ini posting tentang ceramah para Kiayi, orasi politisi, apalagi Fatwa FPI. Ini hanya sekelumit kisah beburu rejeki di negeri Kangguru. Banyak mahasiswa Indonesia yang malu-malu untuk menulis tentang pengalaman bekerja part time nya, mungkin karena di Indonesia pekerjaan yang dilakukan hampir semua mahasiswa penerima beasiswa AusAid ini tergolong memalukaan, bahkan menghinakan. Tanpa supporting untuk family dari ADS sejak tiga tahun lalu, otomatis mahasiswa Indonesia yang membawa keluarga harus bekerja extra untuk mendapatkan kata “cukup”. Jujur sekedar cukup, dalam benak saya sampai saat ini tidak terbersit pikiran untuk membawa uang sekedar beberapa ratus dolar, seperti pengalaman dulu yang hanya menyisakan Cad$ 15 dari Canada dan istri yang tak lebih dari €300 setelah 15 bulan di Belanda. Sebagai ilustrasi, keluarga di Australia dikategorikan miskin jika berpenghasilan dua kali beasiswa ADS tiap minggunya. Berikut sekedar cerita tentang kisah anggota ICMI (Ikatan Cleaner Muda Indonesia).

 

Menjadi cleaner adalah pilihan favorit mahasiswa Indonesia untuk bekerja part time (3-4 jam per hari dengan maksimal 20 jam perminggu) di Canberra. Alasannya beragam, tapi pekerjaan ini memang sangat-sangat mudah didapatkan. Begitu ada teman atau kenalan yang sudah “terjebak” menjadi anggota ICMI, gampang sekali merekrut teman-teman lainnya. Hanya dalam hitungan beberapa minggu berkerja, yang bersangkutan sudah dapat mencarikan pekerjaan untuk teman-teman lainnya. Hal ini terjadi karena tingkat perputaran yang tinggi di cleaner. Beberapa teman sudah bosan ketika bekerja beberapa minggu, jarang ada yang bisa bertahan lebih dari 4 bulan, karena bisa jadi sudah bosan dan ingin ganti suasana. Tapi saya memilih pekerjaan cleaner ini dengan dua alasan. Pertama, pekerjaan ini hanya sedikit menggunakan kemampuan otak, lebih banyak otot. Jadi selama tulang-tulang dibanting, otak masih bisa digunakan untuk mengingat kuliah. Saya memilih mendengarkan rekaman kuliah lewat MP3. Kedua, pekerjaan ini menjadi pengganti olahraga yang mutakhir dan terbukti mampu menghilangkan timbunan lemak di perut dan dalam beberapa minggu, mampu membesarkan otot trisep dan bisep.

 

Justru di Australia, pepatah tentang putar otak, peras keringat dan banting tulang ternyata memang benar adanya dan bukan hanya sekedar basa-basi peribahasa. Untuk putar otak, sejak SD kita semua sudah berpengalaman tentang itu. Bagaimana otak diputar untuk menghapalkan perkalian, hapalan surat dan ibukota provinsi. Urusan putar otak ini terus berlangsung sampai sekarang, bahkan mungkin sampai ajal menjemput. Tapi ternyata, saya baru sadar jika tulang memang bisa dibanting dan keringat ternyata memang bisa diperas. Dari peras keringat dan banting tulang ini, banyak sekali hikmah yang bisa didapatkan, luar biasa. Banyak sekali nilai-nilai hidup yang hanya bisa diambil ketika menjadi bagian dari sebuah proses hidup tersebut. Proses itu salah satunya menjadi pekerja tak berkerah, sebagai lapisan terbawah strata social berdasarkan profesi. Untuk masuk di strata inipun sangat mudah, hanya butuh badan sehat dan kemauan.

 

Pekerjaan pertama saya adalah menyiapkan kopi, teh dan snack untuk sebuah mata kuliah yang saya ikuti. Ini pekerjaan yang sangat sederhana dan hanya butuh satu jam seminggu. Tiap Rabu, sebagai General Employer di ANU, saya bersama seorang teman lain mengambil satu container berisi snack, kopi instan, teh celup, gula, susu dan dua buah pemanas air dari Crawford School ke lokasi kuliah yang jaraknya kira-kira 75 meter. Tiap hari dihitung satu jam, dengan ratenya $23 per jam. Seusai kuliah, kami menggembalikannya ke tempat semula seusai kuliah.

 

Waktu liburan kemarin, ada lowongan cleaner di Canberra Institute of Technology. Nah karena sedang liburan, dan bekerja malam hari, tidak ada satupun orang yang ditemui. Jangankan malam, siang hari saja Canberra selalu sepiiii. Dari beberapa pekerjaan ini, saya teringat tukang bersih-bersih di Fakultas yang sejak setahun lalu telah di out-sourcing kan, Pak Partimin, pembuat teh Fakultas yang selalu tersenyum walaupun dengan 24 gelas di atas pundaknya, naik turun tangga untuk menyajikannya di tiap Jurusan. Tetapi diluar itu, pengalaman pekerjaan baru di Sabtu-Minggu, luar biasa sekali, yang menjadi inspirasi judul tulisan ini (thanks to Amri).

 

Tiap Sabtu dan Minggu dini hari, saya bekerja di Leagues Club di Queanbeyan, sebuah tempat kongkow-kongkow dan terutama berjudi. Disini terdapat tiga area utama, Bistro-semacam restoran keluarga-, café untuk menonton Cricket atau Football, dan area judi poker. Sekilas, ini jelas tempat maksiat yang setidaknya mewakili dua dari Molimo, Main dan Mabuk (untuk Madon, main perempuan, bisa ditemukan di manapun). Deretan segala jenis wine dan permendeman lainnya bisa dibeli jika berumur lebih dari 18 tahun. Tapi yang mengangetkan, deretan mesin-mesin poker yang jumlahnya sekitar 500 buah. Mesin-mesin ini memiliki berbagai variasi. Melalui pengamatan sekilas, mesin-mesin ini sebanarnya hanya berasal dari satu kategori, poker. Permainan Poker diatur dengan mengurutkan beberapa gambar, kartu dan sebagainya. Pemenang Poker didapatkan jika ada gambar yang sama yang keluar di layar. Menariknya, di samping setiap layar, terdapat peringatan pemerintah dan hotline yang bisa dihubungi jika anda ketagihan.

 

Dari tempat ini, saya sadar mengapa judi dilarang, mengingat tidak sedikit orang yang bisa berjaga sampai pagi hari, sampai tutup, di depan layar yang gambarnya selalu berputar itu. Bisakah menang? Sepertinya kemungkinannya kecil sekali. Selain diatur oleh computer yang punya perhitungan sangat cermat, bisnis ratusan ribu dollar per hari ini tak mungkin rugi. Mana ada bandar rugi? Lha wong penjual es di kampung saya saja buru-buru menghentikan judi roletnya jika ada anak yang menang lebih dari dua es.

 

Maka, setiap Sabtu-Minggu pula, sebelum memulai “membersihkan tempat maksiat” dalam arti sebenarnya, doa selalu saya panjatkan agar rejeki yang saya terima selalu terjaga kehalalannya dan orang-orang tidak ketagihan bermain judi.